Portalmahasiswa.com – Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) memulai program pengabdian masyarakat bertajuk JAGADHITA dengan memberikan edukasi dan pemeriksaan kesehatan kepada 80 perajin perak di Kotagede. Kegiatan yang berlangsung di Balai RW 04 Purbayan, Kotagede, Rabu (29/7/2026), ini menjadi langkah awal pendampingan berkelanjutan selama tiga tahun ke depan.
Melalui program tersebut, tim multidisiplin FK-KMK UGM akan memetakan pola gangguan kesehatan para perajin, meneliti potensi dampak limbah terhadap lingkungan, hingga merancang berbagai intervensi agar para perajin tetap sehat dan produktif.
Identifikasi Risiko Kesehatan Akibat Paparan Lingkungan Kerja
Ketua Pelaksana kegiatan, Dr. dr. Umi Solekhah Intansari, M.Kes., Sp.PK., Subsp.I.K.(K), Subsp.P.I.(K), menjelaskan bahwa program ini diprakarsai oleh Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (Peralmuni).
Pada tahap awal, tim akan mengidentifikasi potensi gangguan alergi yang mungkin dialami para perajin akibat paparan bahan-bahan yang digunakan selama proses produksi. Selain pemeriksaan kesehatan, peserta juga memperoleh edukasi mengenai langkah-langkah pencegahan yang dapat diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.
“Kegiatan ini sebetulnya pengabdian masyarakat untuk perajin Kotagede. Jadi ini memang kegiatan yang diprakarsai Peralmuni. Kegiatannya bersifat multidisiplin dan bertujuan memberikan pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.
Menurut Umi, perajin perak dipilih karena memiliki risiko paparan berbagai zat selama proses produksi yang dampaknya terhadap kesehatan masih memerlukan kajian lebih mendalam. Sebelumnya, FK-KMK UGM juga telah menjalankan program serupa bagi perajin batik.
“Di batik itu sudah selesai, kemudian kita cari kelompok mana yang rentan,” jelasnya.
Pemeriksaan Diperluas hingga Lingkungan Keluarga
Hasil pemeriksaan kesehatan nantinya akan digunakan sebagai dasar untuk memetakan berbagai gejala maupun gangguan kesehatan yang dialami para perajin.
Tak hanya menyasar pekerja, pemeriksaan juga akan diperluas kepada anggota keluarga melalui kunjungan langsung ke rumah masing-masing. Langkah ini dilakukan agar tim memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi kesehatan masyarakat di kawasan sentra kerajinan perak Kotagede.
Program yang didukung hibah fakultas ini dirancang berlangsung selama tiga tahun sebagai bentuk komitmen menjaga keberlanjutan industri kerajinan perak yang telah menjadi warisan budaya selama ratusan tahun.
“Hari ini targetnya ada 80 perajin. Menurut Ketua Kelompok Perajin, ada 60 perajin di Purbayan dan 20 di Prenggan,” lanjutnya.
Pengalaman Pendampingan Perajin Batik Jadi Bekal
Dosen FK-KMK UGM, dr. Sri Awaliyah Febriana, M.Kes., Sp.DVE., Subsp.D.A.I., Ph.D., mengatakan pendekatan serupa sebelumnya telah diterapkan kepada perajin batik di Kulonprogo sejak 2016.
Selama hampir lima tahun, para perajin memperoleh pendampingan yang meliputi pemeriksaan kesehatan, evaluasi kualitas lingkungan, kualitas air, hingga kualitas udara. Program tersebut juga menghasilkan berbagai intervensi, termasuk penyediaan fasilitas pengolahan limbah.
“Kami juga bekerja sama dengan Fakultas MIPA UGM dan ITB. Dari ITB rencananya mungkin tahun depan sudah mulai bergabung karena saat ini masih tahap persiapan,” jelasnya.
Ia berharap program di Kotagede mampu meningkatkan kesadaran para perajin terhadap berbagai risiko kesehatan sehingga mereka dapat menerapkan langkah pencegahan secara mandiri dan berkelanjutan.
Dapat Apresiasi dari Pemerintah dan Masyarakat
Program pengabdian masyarakat FK-KMK UGM mendapat sambutan positif dari pemerintah setempat.
Mantri Pamong Praja Kemantren Kotagede, Komaru Ma’arif, mengapresiasi perhatian UGM terhadap kesehatan para perajin sekaligus kondisi lingkungan tempat mereka bekerja.
“Kadang kesehatan diri kita itu tidak kita perhatikan karena sibuk dengan usaha agar laris atau sebagainya,” ucapnya.
Hal senada disampaikan Pinituwa Tuwanggana Kelurahan Purbayan, Miftachul Alfin, yang menyebut RW 04 merupakan salah satu kawasan dengan jumlah perajin perak dan logam terbanyak di Kotagede.
“Memang sentra pengrajin banyak di Purbayan, terutama di RW 04 ini. Di RW 04 merupakan sentra perajin perak dan logam yang paling banyak dibandingkan wilayah lainnya,” ujarnya.
Melalui pendampingan jangka panjang ini, FK-KMK UGM berharap kesehatan para perajin dapat terjaga sehingga industri kerajinan perak Kotagede tetap berkembang sebagai salah satu warisan budaya yang bernilai ekonomi sekaligus memiliki lingkungan kerja yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Sumber Berita: harianjogja.com











