Portalmahasiswa.com – Upaya menciptakan pertanian yang lebih ramah lingkungan terus didorong melalui berbagai inovasi dan edukasi. Salah satunya dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Brawijaya (UB) dari Fakultas Bio-industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) dengan menggelar pelatihan perbanyakan agens hayati bagi petani milenial yang tergabung dalam kelompok Taruna Tani.
Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium Pengendali Hayati Gedung Sentral FBiPK UB pada Senin (28/7/2026) tersebut tidak hanya memberikan materi teori. Para peserta juga diajak terjun langsung ke laboratorium untuk mempraktikkan proses produksi agens hayati sesuai prosedur.
Pelatihan ini bertujuan membekali petani dengan pengetahuan dan keterampilan agar mampu memproduksi agens hayati secara mandiri. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mengendalikan penyakit tanaman secara lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia.
Menjawab Tantangan Penggunaan Pestisida
Pelatihan tersebut hadir sebagai respons terhadap tingginya penggunaan pestisida kimia dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Penggunaan pestisida secara terus-menerus berpotensi mencemari lingkungan dan meningkatkan risiko resistensi OPT.
Sebagai alternatif, agens hayati menjadi salah satu pilihan pengendalian yang lebih berkelanjutan. Agens hayati berupa mikroorganisme dan bakteri bermanfaat dapat membantu menekan perkembangan patogen yang menyebabkan penyakit pada tanaman.
Selama ini, sebagian petani masih mengandalkan produk agens hayati yang tersedia di pasaran. Namun, belum banyak yang memahami bagaimana cara memperbanyaknya secara mandiri.
Kondisi tersebut kemudian menjadi alasan mahasiswa KKN UB menghadirkan pelatihan yang memadukan pemahaman teori dengan praktik langsung. Dengan pendekatan tersebut, peserta tidak hanya mengetahui manfaat agens hayati, tetapi juga memahami proses produksinya dari awal hingga siap digunakan.
Belajar dari Laboratorium hingga Proses Fermentasi
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di laboratorium, pengenalan berbagai jenis agens hayati, serta Standar Operasional Prosedur (SOP) perbanyakan agens hayati.
Setelah mendapatkan pemahaman dasar, peserta memasuki laboratorium agens hayati untuk mengikuti praktik produksi. Pendampingan dilakukan mahasiswa KKN bersama tim laboratorium agar setiap tahapan berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan.
Dalam sesi praktik, peserta mempelajari pembuatan media perbanyakan menggunakan peptone water dan Ekstrak Kentang Gula (EKG). Mereka juga mempraktikkan proses inokulasi mikroorganisme, penggunaan fermentor sederhana, pemantauan fermentasi, hingga penghitungan populasi.
Tahapan kemudian dilanjutkan dengan proses pengemasan dan pelabelan produk. Beberapa agens hayati yang diperkenalkan meliputi Bacillus subtilis, Trichoderma, dan Beauveria.
Melalui praktik tersebut, peserta memperoleh gambaran lebih jelas mengenai bagaimana teknologi pengendalian hayati dapat diterapkan dalam kegiatan pertanian.
Dapat Fermentor dan Lima Isolat Agens Hayati
Tak berhenti pada pelatihan, mahasiswa KKN UB juga memberikan dukungan agar pengetahuan yang diperoleh peserta dapat terus diterapkan setelah kegiatan berakhir.
Mahasiswa menyerahkan satu set alat fermentor sederhana kepada kelompok Taruna Tani. Selain itu, diberikan pula lima isolat agens hayati, yang terdiri atas tiga isolat Trichoderma dan dua isolat Beauveria sebagai bahan awal untuk kegiatan perbanyakan.
Bantuan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan laboratorium di desa. Dengan fasilitas tersebut, anggota Taruna Tani memiliki kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan yang diperoleh dan mulai melakukan produksi agens hayati secara mandiri serta berkelanjutan.
Salah satu peserta mengapresiasi kegiatan tersebut karena tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai teknik produksi, tetapi juga memahami aspek keselamatan dan administrasi laboratorium.
“Terima kasih telah mengundang kami ke FBiPK UB, disini kami mendapatkan ilmu baru mulai dari teknis hingga administratif sehingga kami memahami bagaimana bekerja di laboratorium dengan aman. Semoga ilmu yang diberikan dapat bermanfaat bagi kami maupun petani lainnya dalam mendukung pengembangan pertanian di desa,” ungkap salah satu peserta sebagai apresiasi.
Agens Hayati Bisa Tekan Biaya Produksi
Penggunaan agens hayati memiliki sejumlah manfaat bagi praktik pertanian. Selain membantu menekan perkembangan patogen penyebab penyakit tanaman, teknologi tersebut juga dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia.
Pemanfaatan agens hayati juga berpotensi menjaga keseimbangan ekosistem dan meningkatkan kesehatan tanah. Karena relatif lebih aman bagi lingkungan maupun manusia, teknologi ini dinilai sejalan dengan kebutuhan pengembangan pertanian berkelanjutan.
Kemampuan petani dalam memperbanyak agens hayati secara mandiri juga dapat memberikan manfaat ekonomi. Petani berpotensi menekan biaya produksi karena tidak lagi sepenuhnya bergantung pada produk agens hayati komersial.
Dari Pelatihan Menuju Pertanian Berkelanjutan
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan kelompok tani menjadi bagian penting dalam memastikan pengetahuan yang diberikan tidak berhenti sebagai materi pelatihan.
Mahasiswa KKN UB berharap keterampilan yang diperoleh anggota Taruna Tani dapat terus diterapkan dalam praktik budidaya sehari-hari. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah awal untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan petani dalam menggunakan teknologi pengendalian hayati.
Semakin banyak petani yang mampu memproduksi dan memanfaatkan agens hayati secara mandiri, semakin besar pula peluang terciptanya sistem pertanian yang sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, laboratorium yang diperkenalkan melalui kegiatan ini bukan sekadar ruang praktik. Ia menjadi pintu menuju kemandirian petani dalam mengelola kesehatan tanaman sekaligus menjaga lingkungan dari dampak penggunaan bahan kimia secara berlebihan.
Sumber Berita: prasetya.ub.ac.id











