Yudisium XXIX Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Jember (UIJ) tidak hanya menjadi seremoni kelulusan. Di balik deretan nama yang resmi menyandang gelar sarjana, tersimpan kisah perjuangan mahasiswa yang berhasil melewati berbagai tantangan selama menempuh pendidikan.
Menariknya, mahasiswa penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) mendominasi deretan peraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi dalam yudisium yang digelar di Aula Miftahul Ulum Kampus I, Rabu (5/8).
Sebanyak 72 mahasiswa dari Program Studi Administrasi Negara dan Ilmu Komunikasi mengikuti yudisium tersebut. Tiga mahasiswa berhasil meraih IPK tertinggi dengan nilai yang sama, yakni 3,99. Mereka adalah Alliya Novita dari Program Studi Administrasi Negara, serta Ita Riski Wati dan Zuh Rotul Lailiyah dari Program Studi Ilmu Komunikasi.
Alliya Novita, Perjalanan Pulang-Pergi Demi Kuliah
Salah satu peraih IPK 3,99 adalah Alliya Novita, mahasiswi asal Desa Andongsari, Kecamatan Tempurejo. Putri seorang petani tersebut mengaku tidak pernah menyangka dapat berada di jajaran lulusan dengan IPK tertinggi.
Bagi Alliya, beasiswa KIP-K menjadi penopang penting selama menjalani pendidikan. Bantuan tersebut membuat beban ekonomi keluarga menjadi lebih ringan, meski perjalanan kuliahnya tetap diwarnai tantangan.
“Alhamdulillah tidak menyangka bisa menjadi peraih IPK tertinggi. Beasiswa KIP-K sangat membantu biaya kuliah saya. Kendala terbesar justru saat mengerjakan skripsi karena banyak revisi dan sempat ingin menyerah. Namun, saya ingat tujuan awal kuliah bukan hanya mengejar gelar, melainkan mencari pengalaman,” ujarnya.
Selama kuliah, Alliya memilih pulang-pergi dari rumah ke kampus dan tidak tinggal di kos. Perjalanan setiap hari tidak membuat semangatnya surut karena dukungan orang tua dan keluarga terus menjadi penyemangat.
“Perjuangan ini masih panjang. Setelah lulus saya ingin mengikuti kursus bahasa Inggris di Kediri, kemudian bekerja. Tetap semangat, karena memiliki ijazah saja tidak cukup jika tidak mau mencoba hal-hal baru,” imbuhnya.
Ita Riski Wati, Dari Jualan Tahu Kocok hingga IPK 3,99
Kisah perjuangan yang tak kalah menarik datang dari Ita Riski Wati, lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi asal Desa Tambelang, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo.
Putri pasangan petani dan ibu rumah tangga tersebut pernah menghadapi berbagai persoalan selama kuliah. Ia sempat mengalami kesulitan ekonomi dan sakit selama tiga bulan. Untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup, Ita bahkan pernah berjualan tahu kocok di pinggir jalan.
Perjalanan menyelesaikan skripsi juga tidak selalu mulus. Ita sempat merasa tertinggal dan hampir menyerah. Namun, dukungan keluarga, teman, serta dosen pembimbing membuatnya kembali melanjutkan perjuangan hingga akhirnya meraih IPK 3,99.
“Saya pernah merasa tertinggal saat mengerjakan skripsi dan sempat ingin berhenti. Namun, keluarga, teman-teman, dan dosen pembimbing terus memberikan semangat. Ketika nama saya dipanggil sebagai peraih IPK tertinggi, yang pertama terlintas di pikiran adalah kedua orang tua,” ungkapnya.
Kini, perjuangan Ita mulai menemukan babak baru. Ia telah bekerja sebagai guru taman kanak-kanak di Yayasan Kiprah Ridholloh, Kabupaten Probolinggo, bahkan sebelum resmi menyelesaikan kuliahnya.
Menurut Ita, capaian akademik bukanlah garis akhir. Justru setelah memperoleh gelar sarjana, tantangan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat semakin besar.
“IPK itu hanya nilai. Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu yang kita miliki bisa bermanfaat bagi masyarakat. Jangan pernah merasa tertinggal. Terus kerjakan apa yang sudah dimulai sampai selesai,” pesannya.
Zuh Rotul Lailiyah Persembahkan Prestasi untuk Orang Tua
Peraih IPK 3,99 lainnya adalah Zuh Rotul Lailiyah dari Program Studi Ilmu Komunikasi. Mahasiswi asal Desa Jatian, Kecamatan Pakusari, tersebut juga merupakan penerima beasiswa KIP-K.
Layli, sapaan akrabnya, berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai petani sekaligus kuli bangunan, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga.
Kondisi ekonomi sempat membuatnya khawatir tidak dapat menyelesaikan pendidikan. Namun, beasiswa KIP-K memberinya kesempatan untuk tetap fokus menjalani perkuliahan.
“Awalnya saya takut tidak bisa menyelesaikan kuliah karena faktor ekonomi. Alhamdulillah mendapat beasiswa KIP-K sehingga bisa fokus belajar. Saya selalu memegang prinsip, apa pun jalannya, kuliah harus selesai tepat waktu dan menjadi kebanggaan orang tua,” tuturnya.
Bagi Layli, IPK 3,99 menjadi hadiah berharga untuk kedua orang tuanya. Ia pun berharap kisahnya dapat menjadi penyemangat bagi mahasiswa lain agar tidak mudah menyerah hanya karena keterbatasan ekonomi.
“Terima kasih atas semua doa, dukungan, dan pengorbanan bapak dan ibu. Prestasi ini saya persembahkan untuk keluarga. Ini bukan akhir perjuangan, tetapi awal dari tantangan dan tanggung jawab yang lebih besar,” ucap perempuan yang akrab disapa Layli itu.
Lulusan Diminta Siap Hadapi Era AI
Dekan FISIP UIJ, Nur Wardatul Chilmi, menyampaikan selamat kepada seluruh peserta yudisium yang telah melewati proses panjang hingga berhasil meraih gelar sarjana.
Ia menegaskan, kelulusan bukan akhir dari perjalanan pendidikan. Sebaliknya, gelar sarjana menjadi pintu awal bagi lulusan untuk mengamalkan ilmu di tengah masyarakat.
“Hari ini bukan akhir dari perjalanan mencari ilmu, justru ini adalah awal pengabdian kepada masyarakat. Ilmu yang saudara miliki akan bermakna apabila mampu memberikan manfaat bagi orang lain,” kata Nur Wardatul Chilmi.
Ia menjelaskan, lulusan FISIP UIJ juga dibekali nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai tersebut diharapkan membentuk lulusan yang kritis, berintegritas, sekaligus mampu menghargai perbedaan.
“Saudara dibekali nilai tawasuth agar tidak mudah terprovokasi dan tidak mudah menghakimi, tetapi selalu mengedepankan tabayun, argumentasi ilmiah, dan kebijaksanaan. Saudara juga dibekali nilai i’tidal untuk bersikap lurus, adil, dan berintegritas, serta nilai tasamuh agar mampu menghargai setiap perbedaan,” tegasnya.
Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat, para lulusan juga diminta tidak berhenti belajar. Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan atau AI, dan transformasi digital menuntut lulusan untuk terus meningkatkan kompetensi.
“Dunia kerja saat ini berubah sangat cepat akibat perkembangan teknologi, kecerdasan buatan atau AI, dan transformasi digital. Karena itu, jangan pernah berhenti belajar. Terus tingkatkan kompetensi, kuasai teknologi dan bahasa asing, serta terus perbaiki kualitas diri. Orang yang beruntung adalah mereka yang sibuk mengembangkan diri, bukan mencari kelemahan orang lain,” jelasnya.
Gelar Sarjana Harus Dibuktikan dengan Manfaat
Nur Wardatul Chilmi juga mengingatkan para lulusan agar tetap menjaga akhlak, etika, dan profesionalisme ketika memasuki dunia kerja maupun kehidupan sosial.
“Masyarakat tidak akan mengenal saudara dari gelar yang dimiliki, tetapi dari akhlak, etika, profesionalisme, dan manfaat yang saudara hadirkan. Dan yang paling penting, jangan pernah meninggalkan salat. Sebab sehebat apa pun dirimu, tidak akan berarti jika melupakan Tuhan Yang Maha Memberi,” ulasnya.
Sementara itu, Rektor UIJ Ahmad Halid menilai gelar sarjana bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Pengetahuan, karakter, dan etika yang dibangun selama masa kuliah justru menjadi modal utama bagi lulusan untuk menghadapi berbagai persoalan di masyarakat.
“Ijazah yang kalian peroleh bukan satu-satunya kebanggaan. Yang paling penting adalah pengetahuan, karakter, dan etika yang telah dibangun selama kuliah. Bekal itulah yang harus dibawa untuk menjawab berbagai persoalan di tengah masyarakat,” ujar pimpinan tertinggi kampus Ahlussunnah wal Jamaah tersebut.
Halid berharap para lulusan FISIP UIJ dapat berkiprah di berbagai bidang, baik sebagai profesional maupun wirausahawan. Ia juga berharap alumni mampu membawa nama baik almamater sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Mudah-mudahan seluruh alumni sukses, mendapatkan pekerjaan sesuai kemampuan yang dimiliki, atau bahkan menjadi wirausahawan yang berhasil. Kami berharap alumni FISIP UIJ mampu membawa nama baik kampus di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Sumber Berita: memorandum.disway.id











