Portal Mahasiswa | Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara orang dalam berinvestasi dan melakukan transaksi di pasar modal. Munculnya berbagai aplikasi untuk investasi dan trading memberi kemudahan bagi investor dalam melakukan pembelian, penjualan, serta memantau portofolio secara real-time melalui platform digital. Akses yang mudah ini menjadikan investasi semakin diminati dan dapat dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat.
Peningkatan penggunaan platform digital juga berkontribusi pada pertumbuhan jumlah investor individu di Indonesia. Pada April 2026, berdasarkan data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan bahwa jumlah investor pasar modal mencapai 26,49 juta Single Investor Identification (SID). Dari angka tersebut, sekitar 99,79% merupakan investor individu. Dari data tersebut menunjukkan bahwa investor individu memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perkembangan pasar modal Indonesia saat ini.
Pengaruh besar investor individu juga diikuti dengan perubahan dalam perilaku investasi. Akses informasi yang cepat melalui media sosial, forum investasi, platform edukasi keuangan, dan aplikasi trading membuat investor lebih aktif dalam mengelola portofolio dan aktivitas trading. Karakteristik pasar modal yang terus berubah menuntut investor untuk memiliki kemampuan analisis, manajemen risiko, dan pengambilan keputusan yang tepat agar tujuan investasi dapat tercapai.
Apakah teknologi membuat investor menjadi lebih mudah dalam mengambil keputusan atau justru lebih mudah terpengaruh oleh tren pasar?
PEMBAHASAN
Transformasi Perilaku Investor Individu Pada Era Digital
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia investasi. Aktivitas investasi yang dahulu dianggap rumit, membutuhkan modal besar, dan akses yang terbatas, kini dapat dilakukan dengan mudah melalui berbagai platform digital. Kehadiran fintech, aplikasi investasi, dan kemudahan akses informasi membuat masyarakat semakin mudah untuk berinvestasi dan mengelola keuangannya.
Pasar modal juga mengalami perkembangan melalui berbagai inovasi teknologi, seperti aplikasi perdagangan saham, robo advisor, peer-to-peer lending, crowdfunding, hingga cryptocurrency. Teknologi tersebut memberikan lebih banyak pilihan investasi serta meningkatkan inklusivitas keuangan bagi masyarakat. Meskipun demikian, investor tetap perlu memperhatikan berbagai risiko yang dapat muncul, seperti volatilitas pasar, risiko siber, dan keterbatasan regulasi pada beberapa instrumen investasi digital.
Di Indonesia, investor digital masih didominasi oleh investor individu yang aktif dan responsif terhadap berbagai informasi yang beredar. Dibandingkan investor institusional, investor individu cenderung lebih dipengaruhi oleh faktor psikologis dan sosial dalam mengambil keputusan investasi. Investor pemula sering kali mudah terpengaruh oleh tren pasar, informasi dari media sosial, maupun rekomendasi influencer. Kondisi ini dapat memunculkan perilaku herding dan FOMO (Fear of Missing Out), sehingga keputusan investasi tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi pasar dan analisis yang rasional, tetapi juga oleh emosi serta tingkat literasi keuangan yang dimiliki investor.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengelolaan Portofolio Investor Individu
Pengelolaan portofolio investasi adalah proses di mana aset-aset yang dimiliki oleh investor diatur dan dialokasikan ke berbagai instrumen keuangan untuk mencapai hasil yang maksimal sesuai dengan tingkatan risiko yang dapat diterima. Berikut adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengelolaan portofolio pada investor perorangan:
- Literasi keuangan
Literasi keuangan merupakan kemampuan seseorang dalam mengerti konsep-konsep dasar keuangan seperti risiko, imbal hasil, dan berbagai jenis investasi. Pemahaman ini merupakan fondasi penting dalam membuat keputusan investasi karena membantu investor untuk menilai kondisi pasar dengan cara yang lebih logis, membantu mengelola risiko, memilih instrumen yang tepat, dan menghindari keputusan yang diambil secara impulsif berdasarkan tren atau informasi yang tidak akurat.
- Tingkat toleransi Risiko
Tingkat toleransi risiko menunjukkan seberapa besar kesiapan investor dalam menghadapi ketidakpastian serta kemungkinan kerugian terkait dengan investasi. Investor yang memiliki toleransi risiko tinggi biasanya lebih cenderung untuk memilih instrumen yang berisiko, seperti saham, demi mengejar keuntungan yang lebih besar, sementara investor dengan toleransi risiko rendah cenderung memilih instrumen yang lebih stabil dan aman, seperti obligasi atau deposito.
- Tujuan investasi
Tujuan investasi berfungsi sebagai pedoman utama yang menentukan strategi dalam mengelola portofolio, termasuk jangka waktu dan tingkat risiko yang diambil. Memiliki tujuan yang jelas, seperti dana pendidikan, dana pensiun, atau peningkatan aset, membantu investor untuk tetap konsisten dalam berinvestasi dan tidak mudah terpengaruh oleh fluktuasi pasar yang bersifat sementara.
- Ketersediaan informasi digital
Akses informasi digital memungkinkan investor untuk dengan cepat dan langsung memperoleh data pasar, seperti harga saham, berita ekonomi, dan laporan keuangan dari perusahaan. Dengan adanya informasi ini, proses pengambilan keputusan menjadi lebih efisien. Namun, banyaknya informasi juga menuntut kemampuan untuk menyaring data agar tidak terjebak oleh informasi yang salah, terlalu banyak, atau menyesatkan.
- Pengaruh lingkungan sosial
Pengaruh dari lingkungan sosial mencakup interaksi dengan keluarga, teman, komunitas, dan media sosial yang mampu memengaruhi keputusan investasi. Faktor ini sering terkait dengan perilaku mengikuti orang lain, di mana investor cenderung meniru keputusan orang lain tanpa melakukan analisis yang mendalam. Lingkungan sosial dapat memberikan referensi yang berguna, tetapi tetap perlu diimbangi dengan literasi finansial agar keputusan investasi yang diambil tetap logis dan tidak hanya mengikuti arus.
Bias Perilaku Dalam Pengelolaan Portofolio
Dalam pengelolaan portofolio, keputusan investasi sering kali dipengaruhi oleh faktor psikologis yang dapat memunculkan berbagai bias perilaku. Bias tersebut berpotensi memengaruhi cara investor menilai informasi dan mengambil keputusan investasi.
- Overconfidence Bias
Overconfidence bias adalah kecenderungan investor terlalu percaya pada kemampuan dan informasi yang dimilikinya. Akibatnya, investor merasa mampu memprediksi pasar dengan tepat, sering melakukan transaksi berlebihan, mengabaikan risiko, dan kurang mempertimbangkan informasi yang berbeda. Bias ini dapat menurunkan kualitas keputusan investasi.
- Loss Aversion
Loss aversion adalah kecenderungan investor lebih takut mengalami kerugian daripada menikmati keuntungan yang nilainya sama. Bias ini membuat investor sering menahan aset yang merugi terlalu lama dan menjual aset yang untung terlalu cepat. Akibatnya, portofolio menjadi kurang optimal.
- Confirmation Bias
Confirmation bias terjadi ketika investor hanya mencari dan mempercayai informasi yang mendukung keyakinannya, sementara informasi yang bertentangan diabaikan. Hal ini dapat membuat penilaian investasi menjadi kurang objektif dan menyebabkan keputusan yang kurang tepat.
- Anchoring Bias
Anchoring bias adalah kecenderungan investor menjadikan informasi awal, seperti harga beli atau target harga, sebagai acuan utama dalam mengambil keputusan. Akibatnya, investor sulit menyesuaikan diri dengan kondisi pasar yang berubah dan kurang mempertimbangkan informasi baru yang lebih relevan.
- Herding Behavior
Herding behavior adalah perilaku mengikuti keputusan mayoritas tanpa analisis yang cukup. Investor membeli atau menjual aset karena banyak orang melakukan hal yang sama. Bias ini dapat meningkatkan risiko kerugian, terutama ketika tren pasar berubah secara tiba-tiba.
Pengaruh Media Sosial dan Influencer Terhadap Keputusan Investasi
Media sosial telah menjadi salah satu sumber informasi yang banyak dimanfaatkan investor untuk memperoleh informasi mengenai pasar modal dan investasi. Melalui berbagai platform digital, investor dapat mengakses berita, analisis pasar, serta berdiskusi dengan investor lain secara cepat dan mudah. Selain sebagai sarana penyebaran informasi, media sosial juga menjadi tempat berbagi pengalaman dan wawasan yang dapat membantu investor dalam memahami berbagai instrumen investasi.
Perkembangan media sosial turut mendorong munculnya finfluencer, yaitu individu yang aktif membagikan konten tentang keuangan dan investasi. Kehadiran finfluencer membantu masyarakat memahami konsep investasi dengan cara yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Oleh karena itu, rekomendasi, opini, maupun pengalaman yang mereka bagikan sering menjadi salah satu pertimbangan bagi investor, terutama investor pemula, dalam mengambil keputusan investasi.
Media sosial dan influencer dapat memberikan dampak positif dengan meningkatkan literasi keuangan dan minat masyarakat untuk berinvestasi. Namun, informasi yang beredar tidak selalu akurat dan terkadang memicu hype investasi yang membuat investor mengikuti tren tanpa melakukan analisis yang memadai. Kondisi ini dapat memengaruhi perilaku investor dalam menilai peluang dan risiko suatu investasi.
Aktivitas Trading Investor Individu di Era Digital
Aktivitas trading investor individu di era digital semakin meningkat seiring kemudahan yang ditawarkan oleh aplikasi mobile banking dan platform trading online. Investor dapat melakukan transaksi kapan saja dan di mana saja tanpa banyak hambatan. Kondisi tersebut mendorong munculnya trading yang lebih aktif, meskipun frekuensi transaksi yang terlalu tinggi sering kali berdampak pada penurunan hasil investasi karena keputusan yang kurang matang dan biaya transaksi yang terus bertambah.
Media sosial memiliki pengaruh besar terhadap perilaku investor, terutama melalui fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Ketika melihat orang lain memperoleh keuntungan dari suatu aset, banyak investor terdorong untuk mengikuti tren tanpa melakukan analisis yang memadai. Kondisi ini membuat investor lebih rentan membeli aset yang sedang populer pada harga tinggi dan menghadapi risiko ketika tren pasar mengalami perubahan.
Perkembangan teknologi mendorong meningkatnya spekulasi jangka pendek dan aktivitas trading yang dipengaruhi sentimen pasar. Banyak investor lebih fokus memanfaatkan fluktuasi harga dalam waktu singkat dibandingkan mempertimbangkan nilai fundamental suatu aset. Informasi yang menyebar cepat melalui media sosial dapat membentuk sentimen kolektif dan perilaku berkelompok (herding), sehingga keputusan investasi sering dipengaruhi oleh emosi pasar, bukan berdasarkan analisis yang objektif.
Strategi Pengelolaan Portofolio Pada Era Digital
Perkembangan teknologi digital memberikan kemudahan bagi investor dalam mengakses informasi, memilih instrumen investasi, dan mengelola portofolio. Kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan strategi yang tepat agar risiko dapat dikendalikan dan tujuan investasi dapat tercapai secara optimal. Strategi pengelolaan portofolio yang dapat dilakukan pada era digital antara lain:
- Diversifikasi Aset
Diversifikasi merupakan strategi untuk mengurangi risiko investasi dengan menempatkan dana pada berbagai jenis aset yang memiliki tingkat korelasi rendah. Portofolio dapat terdiri atas saham, obligasi, reksa dana, maupun aset lainnya sehingga penurunan nilai pada satu aset dapat diimbangi oleh kinerja aset lain. Strategi ini membantu menjaga kestabilan portofolio dan menghadapi ketidakpastian pasar.
- Manajemen Risiko Investasi
Manajemen risiko merupakan proses identifikasi, analisis, dan pengendalian risiko yang mungkin muncul dalam kegiatan investasi. Penerapannya meliputi penentuan profil risiko investor, penyusunan alokasi aset yang sesuai, serta pengelolaan risiko pasar. Disiplin investasi dan kemampuan mengendalikan emosi juga menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas keputusan investasi.
- Pemanfaatan Teknologi dan Aplikasi Investasi
Teknologi seperti big data, artificial intelligence, dan platform investasi digital membantu investor memperoleh informasi pasar secara lebih cepat dan akurat. Fitur robo-advisor, notifikasi harga real-time, serta analisis portofolio otomatis membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih efisien dan berbasis data.
- Evaluasi Kinerja Portofolio
Evaluasi kinerja portofolio dilakukan untuk menilai hubungan antara return dan risiko yang ditanggung investor. Sharpe Ratio, Treynor Ratio, dan Jensen Alpha merupakan metode yang sering digunakan untuk mengukur kinerja portofolio. Penggunaan metode tersebut membantu investor membandingkan hasil investasi secara objektif dan mengevaluasi efektivitas strategi yang telah diterapkan.
Tantangan dan Risiko Investor Individu Dalam Era Digital
Kemudahan akses teknologi dan informasi memberikan banyak peluang bagi investor individu untuk berinvestasi. Namun, perkembangan digital juga menghadirkan berbagai tantangan dan risiko yang perlu dipahami agar keputusan investasi dapat dilakukan secara lebih bijak dan terhindar dari kerugian antara lain:
- Information Overload
Banyaknya informasi yang tersedia di internet dapat membuat investor kesulitan membedakan informasi yang akurat dan yang menyesatkan. Kondisi ini berpotensi memengaruhi kualitas pengambilan keputusan investasi sehingga diperlukan kemampuan menyaring informasi dari sumber yang terpercaya
- Volatilitas Pasar
Pergerakan harga saham dan aset digital yang sangat cepat dapat meningkatkan risiko investasi. Fluktuasi pasar yang tinggi sering mendorong investor mengambil keputusan berdasarkan emosi, terutama saat harga mengalami penurunan tajam
- Penipuan Investasi Digital
Perkembangan teknologi juga membuka peluang munculnya penipuan investasi online dan platform ilegal. Investor perlu memastikan legalitas platform yang digunakan serta memahami produk investasi sebelum menanamkan dana
- Ketergantungan Pada Rekomendasi Online
Kemudahan memperoleh rekomendasi investasi melalui media sosial dapat membuat investor terlalu bergantung pada pendapat orang lain. Kebiasaan mengikuti tren tanpa analisis yang memadai dapat meningkatkan risiko kesalahan dalam pengambilan keputusan investasi.
Dampak Perilaku Investor Individu Terhadap Stabilitas Pasar Keuangan
Meningkatnya jumlah investor individu di era digital memberikan pengaruh yang besar terhadap stabilitas pasar keuangan. Partisipasi investor individu dapat meningkatkan aktivitas pasar, tetapi juga dapat memengaruhi pergerakan harga dan efisiensi pasar ketika keputusan investasi lebih didasarkan pada sentimen daripada analisis yang rasional. Beberapa dampak perilaku investor individu terhadap stabilitas pasar keuangan antara lain sebagai berikut:
- Meningkatkan Volatilitas Harga
Keputusan investasi yang dipengaruhi sentimen, ekspektasi jangka pendek, atau informasi yang terbatas dapat menyebabkan fluktuasi harga yang lebih tinggi. Kondisi ini membuat harga aset tidak selalu mencerminkan nilai fundamentalnya
- Mendorong Terbentuknya Asset Bubble
Permintaan yang berlebihan terhadap suatu aset dapat menyebabkan harga naik jauh di atas nilai wajarnya. Situasi tersebut berpotensi membentuk asset bubble yang dapat menimbulkan penurunan harga secara drastis ketika minat investor mulai berkurang
- Mengubah Struktur Pasar Modal
Peningkatan jumlah investor ritel memperbesar peran investor individu dalam proses pembentukan harga di pasar. Kondisi ini membuat dinamika pasar semakin dipengaruhi oleh perilaku dan keputusan investor individu
- Memengaruhi Efisiensi Pasar
Perkembangan teknologi digital mempercepat penyebaran informasi dan membantu meningkatkan efisiensi pasar. Namun, penyebaran informasi yang tidak akurat atau belum terverifikasi juga dapat memengaruhi keputusan investor dan menciptakan ketidakefisienan pasar.
Studi Kasus: Pengaruh FOMO dan Herding Behavior Pada Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO)
Dalam perkembangan pasar modal modern, keputusan investasi tidak selalu ditentukan oleh adanya kondisi fundamental perusahaan, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh adanya ekspektasi, persepsi, serta respons investor terhadap informasi yang telah beredar di pasar. Dengan kemajuan teknologi digital ini telah mempercepat penyebaran informasi dan dapat meningkatkan partisipasi investor individu dalam aktivitas perdagangan sahamnya. Namun, kondisi tersebut juga dapat berpotensi untuk mendorong terbentuknya keputusan investasi yang lebih dipengaruhi oleh sentiment pasar yang dibandingkan dengan analisis yang objektif. Hal ini juga diakibatkan oleh adanya harga saham yang tidak selalu mencerminkan nilai intrinsic perusahaan, melainkan turut dipengaruhi oleh adanya faktor psikologis investor seperti Herding Behavior dan Fear of Missing Out (FOMO) yang dapat meningkatkan volatilitas pasar.
Fenomena tersebut dapat diamati pada saham PT GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) setelah pelaksanaan Initial Public Offering (IPO) pada tahun 2022. Sebagai salah satu perusahaan teknologi terbesar di Indonesia saat ini, GOTO telah memperoleh perhatian yang sangat besar dari investor karena telah dinilai memiliki prospek pertumbuhan yang sangat menjanjikan seiring perkembangan ekonomi digital. Dengan tingginya optimisme pasar telah mendorong peningkatan aktivitas perdagangan saham dan membentuk ekspektasi yang tinggi terhadap kinerja perusahaan di masa depan. Namun, ekspektasi tersebut tidak selalu sejalan dengan kondisi fundamental perusahaan yang masih terus menghadapi tantangan dalam mencapai profitabilitas yang berkelanjutan. Kondisi ini telah menunjukkan bahwa pergerakkan harga saham tidak hanya ditentukan oleh kinerja keuangan perusahaannya saja, tetapi juga oleh persepsi dan sentiment investor.
Pada kasus GOTO telah memberikan gambaran bahwa keputusan investasi yang terlalu beriorentasi pada ekspektasi pertumbuhan tanpa didukung oleh analisis fundamental yang memadai maka dapat meningkatkan risiko investasi.
KESIMPULAN
Perkembangan teknologi digital telah mengubah perilaku investor individu dalam mengelola portofolio dan melakukan aktivitas trading melalui kemudahan akses informasi, platform investasi, serta media sosial. Kondisi ini memberikan banyak peluang, tetapi juga menghadirkan berbagai tantangan seperti bias perilaku, FOMO, volatilitas pasar, dan risiko penipuan, sehingga diperlukan literasi keuangan, manajemen risiko, serta strategi pengelolaan portofolio yang tepat agar keputusan investasi dapat dilakukan secara lebih rasional dan berkelanjutan.
Perilaku investor individu juga memiliki pengaruh terhadap stabilitas pasar keuangan karena dapat memengaruhi volatilitas harga, pembentukan asset bubble, struktur pasar, dan efisiensi pasar. Oleh sebab itu, investor perlu mengutamakan analisis yang objektif, memanfaatkan teknologi secara bijak, serta tidak mudah terpengaruh oleh sentimen pasar agar dapat mencapai tujuan investasi sekaligus mendukung terciptanya pasar keuangan yang lebih stabil.
REFERENSI
Aiyubbi, D. el, Widarjono, A., Amir, N., Perbankan, D., Keuangan, D., Bisnis, F., & Ekonomika, D. (n.d.). The Impact of Sectoral Financing Diversification on Non-Performing Financing of Islamic Rural Banks Dampak Diversifikasi Pembiayaan Sektoral terhadap Non-Performing Financing Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. https://doi.org/10.20473/vol9iss20222pp140-155
Amandaputri1, R., Ningsih2, D. A., al Munawwaroh3, H., & Muhammadiyah Bengkulu, U. (n.d.). PERILAKU INVESTOR GENERASI Z: STUDI EMPIRIS PADA KEPUTUSAN INVESTASI SAHAM DIGITAL.
Aprilianti, A., & Suharti, T. (2022). ANALISIS KINERJA PORTOFOLIO SAHAM DENGAN METODE SHARPE, TREYNOR, DAN JENSEN (SAHAM IDX 30 TAHUN 2017 SAMPAI 2021). In Azolla Degita Azis Manager (Vol. 5, Issue 3). http://ejournal.uika-bogor.ac.id/index.php/MANAGER
Chantika Rinjani, A., & Readdy Darussalam, M. (2024). PT. Media Akademik Publisher INVESTASI DI ERA DIGITAL : PELUANG DAN TANTANGAN DI PASAR MODAL. JMA), 2, 3031–5220. https://doi.org/10.62281
Ezquerro, L., Coimbra, R., Bauluz, B., Núñez-Lahuerta, C., Román-Berdiel, T., & Moreno-Azanza, M. (2024a). Large dinosaur egg accumulations and their significance for understanding nesting behaviour. Geoscience Frontiers, 15(5). https://doi.org/10.1016/j.gsf.2024.101872
Ezquerro, L., Coimbra, R., Bauluz, B., Núñez-Lahuerta, C., Román-Berdiel, T., & Moreno-Azanza, M. (2024b). Large dinosaur egg accumulations and their significance for understanding nesting behaviour. Geoscience Frontiers, 15(5). https://doi.org/10.1016/j.gsf.2024.101872
Fadika, J., Afrida, Y., Universitas, I., Fatmawati, I. N., & Bengkulu, S. (n.d.). PERAN PASAR MODAL DALAM MENINGKATKAN MINAT INVESTASI PADA GENERASI MUDA DI ERA DIGITAL. In Journal of Management and Innovation Entrepreunership (JMIE (Vol. 2).
Fatimah Akbal. (2025). Narasi Digital dan Keputusan Finansial: Tinjauan Sistematis tentang Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Investor dan Analis Keuangan. Future Academia : The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and Advanced, 3(3), 1262–1278. https://doi.org/10.61579/future.v3i3.577
Industri Farmasi Dan Alat Kesehatan, D., Listianto, A., Halimah Sidik, N., Rahmawati, S., & Suria, G. (n.d.). Pengungkapan Proses Pengambilan Keputusan Membuat atau Membeli (Make or Buy) Analisis Strategi Diversifikasi Portofolio dalam Mengurangi Risiko Investasi.
Jumiyani Jumiyani, Edi Wibowo, & Ririn Indriastuti. (2024). Pengaruh Pengalaman Investasi, Risk Tolerance, dan Influencer Sosial Media terhadap Keputusan Investasi dengan Literasi Keuangan sebagai Variabel Moderasi. Digital Bisnis: Jurnal Publikasi Ilmu Manajemen Dan E-Commerce, 3(3), 451–470. https://doi.org/10.30640/digital.v3i3.3243
Lestari, A. della, Negeri, I., Tulungagung, A. R., Faiqoh, E., & Nurohman, D. (n.d.). MEMBANGUN KESADARAN INVESTASI SUKUK: TANTANGAN DIGITAL BAGI GENERASI Z. https://doi.org/10.30651/jms.v10i4.27286
Mufidah, A., Kartika Sari, N., & Nurul Awaliyah, I. (n.d.). DAMPAK PERILAKU BIAS TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN INVESTASI. https://doi.org/10.32812/jibeka.v17i2.1542
Rahmi, A. Q., & Naryoto, P. (2026). Pengaruh Literasi Keuangan, Risk Tolerance dan Herding Behavior Terhadap Keputusan Investasi. Jurnal Mahasiswa Manajemen Dan Akuntansi, 5(1), 1401–1413. https://doi.org/10.30640/jumma45.v5i1.6094
Reja Dwi Pranoto, M., Khairon Dwiputra, S., & Muhammadiyah Bengkulu, U. (2026). ANALISIS ASIMETRI INFORMASI DAN DAMPAKNYA TERHADAP PERILAKU INVESTOR SERTA VOLATILITAS HARGA SAHAM DI BURSA EFEK INDONESIA : STUDY SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW. Journal of Islamic Economics and Finance, 2(3).
Saputri, N. D. M., Santati, P., & Putri, M. A. (2024). Era Digitalisasi Ekonomi: Influencer, Literasi Keuangan, Self-control dan Pengaruhnya Terhadap Keputusan Investasi. Reviu Akuntansi Dan Bisnis Indonesia, 8(3), 325–341. https://doi.org/10.18196/rabin.v8i3.22415
Setiawan, I., Dani Arifin, A., Nur Wahyuningsih, A., & Widhowati Singgih, E. (2025). ANALISIS KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN YANG MELAKUKAN INITIAL PUBLIC OFFERING (IPO) DENGAN METODE ANALISIS COMMON-SIZE : STUDI KASUS PADA PT.GoTo GOJEK TOKOPEDIA Tbk. In Bisnis & Akuntansi (Vol. 2, Issue 2). https://jurnal.asthagrafika.com/index.php/wlb/index
Shahzad, M. F., Xu, S., Lim, W. M., Yang, X., & Khan, Q. R. (2024). Artificial intelligence and social media on academic performance and mental well-being: Student perceptions of positive impact in the age of smart learning. Heliyon, 10(8). https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024.e29523
Tri Setyaningrum, N., Rusmana Fakultas Ekonomi dan Bisnis, O., Studi Magister Akuntansi, P., Jenderal Soedirman Jalan Profesor Boenyamin No, U. H., Utara, P., & Tengah, J. (2025). Fenomena Anomali Pasar dan Perilaku Investor dalam Aktivitas Perdagangan Saham di Indonesia. Journal of Business and Economics Research (JBE), 6(3), 896–907. https://doi.org/10.47065/jbe.v6i3.8211
Zhang, W., Xu, M., Feng, Y., Mao, Z., & Yan, Z. (2024a). The Effect of Procrastination on Physical Exercise among College Students—The Chain Effect of Exercise Commitment and Action Control. International Journal of Mental Health Promotion, 26(8), 611–622. https://doi.org/10.32604/ijmhp.2024.052730
Zhang, W., Xu, M., Feng, Y., Mao, Z., & Yan, Z. (2024b). The Effect of Procrastination on Physical Exercise among College Students—The Chain Effect of Exercise Commitment and Action Control. International Journal of Mental Health Promotion, 26(8), 611–622. https://doi.org/10.32604/ijmhp.2024.052730
Zulfa Qur’anisa, Mira Herawati, Lisvi Lisvi, Melinda Helmalia Putri, & O. Feriyanto. (2024). Peran Fintech Dalam Meningkatkan Akses Keuangan Di Era Digital. GEMILANG: Jurnal Manajemen Dan Akuntansi, 4(3), 99–114. https://doi.org/10.56910/gemilang.v4i3.1573
Penyusun: Mahasiswa Jurusan Manajemen Universitas Pamulang
- Alya Syariyatun Nissa
- Azizatul Munafiroh
- Dita Nurmala Sari
- Nabila Sopiarini
- Nur Aisah
- Wulan Syafitri6
Dosen Pengampu: Kartika Sari Dewi, SE, MM











