Portalmahasiswa.com – Inovasi pengelolaan sampah berbasis teknologi membawa tim dari Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya meraih prestasi di tingkat internasional. Tim tersebut berhasil memperoleh Silver Medal dalam kategori Esai subtema Law and Politics pada Kompetisi International Future Leaders 2026.
Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Sastra Arab Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Sentosa Foundation pada Sabtu-Minggu (25–26/7/2026) di Yogyakarta.
Tim Universitas Brawijaya diketuai Andre Kurniawan Pratama, dengan anggota Gabriel Salindeho, Wahyu Tabah Utomo, dan Lolita Maharani.
International Future Leaders 2026 mempertemukan peserta dari 10 negara melalui dua kategori kompetisi, yakni esai dan business plan. Para peserta ditantang menghadirkan gagasan inovatif berdasarkan subtema yang dipilih.
SISA, Solusi Digital untuk Bank Sampah Desa
Dalam kompetisi tersebut, Andre bersama tim mengangkat esai berjudul “The Implementing of Law No. 6 of 2014 through the Sistem Informasi Sampah Desa (SISA) as a Participatory Waste Management Model Based on Regional Waste Banks.”
Gagasan utama yang ditawarkan adalah Sistem Informasi Sampah Desa (SISA), sebuah website yang dirancang untuk mempermudah pengelolaan bank sampah di tingkat desa.
Ide tersebut tidak muncul begitu saja. Andre mendapatkan inspirasi ketika menjalani kegiatan KKN di Desa Rengel, Kabupaten Tuban, pada 2025. Saat itu, ia mendapat tugas membentuk bank sampah di setiap RW dan menemukan tingkat partisipasi masyarakat yang cukup tinggi.
“Di kompetisi ini kami mengambil inovasi dari kejadian nyata di salah satu desa mandiri Kabupaten Tuban yaitu Desa Rengel. Ketika KKN pada tahun 2025 saya mendapat tugas untuk membentuk bank sampah di setiap RW dan mendapati tingkat partisipasi yang tinggi dengan model pencatatan manual menggunakan buku.” Ucap Andre.
Menurut Andre, tingginya partisipasi masyarakat salah satunya dipengaruhi oleh keberadaan bank sampah yang dekat dengan tempat tinggal warga. Faktor hubungan sosial di lingkungan RW juga turut memperkuat keterlibatan masyarakat.
“Jadi partisipasi tinggi dari masyarakat itu dikarenakan bank sampah tersedia di tiap RW sehingga jaraknya dekat dengan rumah warga dan adanya ikatan sosial antar anggota RW.”
Dari Catatan Manual Beralih ke Teknologi Digital
Meski memiliki tingkat partisipasi tinggi, sistem pengelolaan secara manual ternyata menimbulkan persoalan tersendiri. Pencatatan menggunakan buku dinilai membutuhkan tenaga dan waktu lebih banyak.
Kondisi tersebut kemudian mendorong tim mengembangkan SISA sebagai solusi digital yang dapat membantu desa mengelola aktivitas bank sampah secara lebih efektif.
“akhirnya kami menghadirkan inovasi SISA yaitu website digital yang dapat digunakan oleh desa maju di Indonesia dan memiliki kapasitas sumber daya manusia yang memadai.” Kata Andre.
Website SISA dirancang tidak hanya untuk membantu proses pengumpulan dan penjualan sampah. Inovasi tersebut juga membuka peluang kerja sama dengan Pertamina, khususnya dalam pemanfaatan minyak jelantah yang dapat diolah menjadi bioavtur.
Dalam mekanismenya, sampah dikumpulkan secara kolektif dari setiap RW. Setelah terkumpul, sampah kemudian diserahkan kepada pihak Pertamina melalui mekanisme kerja sama dengan pemerintah desa.
Prototype SISA Mulai Dikembangkan Sejak Maret
Pengembangan website SISA telah dilakukan tim sejak Maret. Saat ini, mereka telah memiliki prototype sebagai gambaran awal sistem yang ditawarkan.
“kami udah mulai menyusun websitenya dari bulan maret jadi sudah ada prototype-nya. Namun, websitenya belum dibasiskan karena ini dalam bentuk inovasi jadi tidak dipublikasikan ke publik.”
Andre menjelaskan, pemilihan subtema Law and Politics juga memiliki alasan kuat. Tim melihat adanya regulasi yang memberikan ruang bagi desa untuk membentuk badan atau unit pengelola sampah secara mandiri.
Dengan demikian, SISA tidak hanya menawarkan solusi teknologi, tetapi juga mencoba menghubungkan inovasi pengelolaan sampah dengan aspek kebijakan dan kewenangan desa.
Dibimbing Aktivis Lingkungan
Pencapaian tim Universitas Brawijaya tersebut tidak terlepas dari peran dosen pembimbing Dr. Riyanti Isaskar, S.P., M.Si. Riyanti dikenal sebagai aktivis lingkungan yang aktif dalam pengelolaan bank sampah di Kota Malang.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam proses pengembangan gagasan SISA. Pemahaman terhadap kondisi masyarakat di lapangan membantu tim menyusun inovasi yang tidak hanya menarik secara konsep, tetapi juga mempertimbangkan kemungkinan penerapannya di masyarakat.
Targetkan SISA Bisa Diterapkan di Berbagai Desa
Setelah meraih Silver Medal di ajang International Future Leaders 2026, Andre dan tim memiliki target lebih jauh. Mereka berharap SISA dapat dikembangkan dan diterapkan di desa-desa maju di berbagai wilayah Indonesia.
Tak berhenti pada pengembangan teknologi, tim juga berencana mengikuti pitching dalam kompetisi yang bekerja sama dengan perusahaan. Langkah tersebut diharapkan dapat membuka peluang dukungan investasi agar inovasi SISA dapat dikembangkan dan diimplementasikan secara lebih luas.
Prestasi ini sekaligus menunjukkan bahwa persoalan lingkungan di tingkat desa dapat menjadi sumber lahirnya inovasi. Dengan menggabungkan partisipasi masyarakat, teknologi digital, dan dukungan kebijakan, pengelolaan sampah dapat diarahkan menjadi sistem yang lebih terorganisasi dan berkelanjutan.
Sumber Berita: prasetya.ub.ac.id











