Portalmahasiswa.com – Program Magister Pengelolaan Lingkungan (MPL) Universitas Gadjah Mada kembali menunjukkan komitmennya dalam menjembatani dunia akademik dan dunia industri. Kali ini, MPL UGM menggelar kunjungan industri ke Environesia Group sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi nyata di sektor lingkungan—bukan sekadar teori di ruang kelas, tetapi praktik langsung di lapangan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian kuliah praktisi yang menghadirkan CEO Environesia Group, Saprian, sebagai dosen praktisi. Dengan pengalaman lebih dari 15 tahun berkecimpung di bidang lingkungan, Saprian berbagi perspektif tentang dinamika industri, tantangan regulasi, hingga strategi bertahan di tengah perubahan kebijakan dan pasar.
Rangkaian kunjungan diawali dengan pemaparan profil Environesia Group, termasuk model bisnis dan alur proses kerja perusahaan. Mahasiswa kemudian diajak mengikuti office and lab tour untuk melihat lebih dekat bagaimana ekosistem bisnis lingkungan berjalan secara terintegrasi. Mereka diperkenalkan pada alur kerja konsultan dan laboratorium lingkungan—mulai dari proses marketing, operasional, hingga aspek teknis yang mendukung layanan perusahaan.
Ketua Magister Pengelolaan Lingkungan UGM, Dr. Langgeng Wahyu Santosa, menegaskan bahwa kolaborasi antara kampus dan industri harus benar-benar selaras dengan kebutuhan riil di lapangan. Ia melihat model pembelajaran berbasis kunjungan industri sebagai langkah strategis yang perlu terus dikembangkan.
“Penelitian di kampus harus di-matchkan dengan kebutuhan industri. Melalui kolaborasi seperti ini, riset tidak berhenti sebagai laporan, tetapi menjadi solusi yang bisa diimplementasikan. Pendekatan pentahelix, melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media, menjadi kunci percepatan pembangunan berkelanjutan,” ujar Dr Langgeng dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 26 Februari 2026.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penelitian tidak boleh berhenti di tataran konseptual. Riset harus bergerak menjadi solusi konkret yang mampu menjawab persoalan lingkungan secara aplikatif. Pendekatan pentahelix pun dinilai sebagai formula penting dalam membangun pembangunan berkelanjutan yang kolaboratif.
Di sisi lain, Saprian menyoroti pentingnya keberanian untuk mengeksekusi gagasan. Menurutnya, mahasiswa perlu melihat langsung bahwa bisnis berbasis lingkungan bukanlah sesuatu yang abstrak atau utopis. Dunia industri menuntut ketangkasan dan kemampuan beradaptasi.
“Kami ingin menunjukkan bahwa bisnis lingkungan itu bukan sesuatu yang utopis. Tidak ada framework yang benar-benar ideal, dan jika kita menunggu semuanya sempurna, bisnis itu hanya akan berhenti di kepala kita sendiri. Di Environesia, kami memilih jalan eksekusi: belajar sambil berjalan, tetap taat regulasi, dan fokus pada dampak,” ujar Saprian.
Pesan tersebut menjadi refleksi penting bahwa praktik di lapangan sering kali menuntut keputusan cepat, keberanian mengambil risiko, dan komitmen terhadap regulasi. Kesempurnaan bukanlah prasyarat utama untuk bergerak; yang terpenting adalah konsistensi dalam memberi dampak nyata.
Kunjungan industri MPL UGM ke Environesia ini dinilai sebagai terobosan pembelajaran yang relevan dan progresif. Model seperti ini belum banyak diterapkan secara konsisten oleh program studi serupa di Indonesia. Melalui langkah tersebut, UGM semakin menegaskan posisinya sebagai pelopor sinergi kampus dan industri dalam bidang pengelolaan lingkungan.
Dengan pendekatan yang mengintegrasikan teori, riset, dan praktik, MPL UGM berupaya mencetak lulusan yang tidak hanya memahami konsep keberlanjutan, tetapi juga mampu menerjemahkannya menjadi aksi nyata di dunia profesional.
Sumber Berita: metrotvnews.com











