Portalmahasiswa.com – Universitas Brawijaya (UB) terus meneguhkan komitmennya dalam membangun budaya keselamatan berlalu lintas di lingkungan kampus. Upaya tersebut diwujudkan melalui sosialisasi Peraturan Rektor Nomor 44 Tahun 2024 tentang Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) yang dipadukan dengan pelatihan traffic safety dan safety riding bagi mahasiswa, Sabtu (7/2).
Kegiatan ini dirancang sebagai langkah preventif untuk menekan risiko kecelakaan lalu lintas sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif sivitas akademika akan pentingnya berkendara secara aman dan bertanggung jawab. Sosialisasi K3L disampaikan oleh Kepala Divisi K3L UB, Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah, yang menekankan bahwa keselamatan tidak sebatas pemenuhan aturan administratif, melainkan harus menjadi nilai dan kebiasaan bersama di lingkungan kampus.
“Rambu-rambu lalu lintas di Universitas Brawijaya adalah milik kita bersama. Jika seluruh stakeholder memahami dan mematuhi aturan, maka lalu lintas kampus akan aman, nyaman, dan mendukung terwujudnya zero accident,” ujarnya.
Sejalan dengan sosialisasi tersebut, UB juga menggelar pelatihan safety riding Level B1 bekerja sama dengan komunitas RAMBU (Rakyat Aman Berlalu Lintas) Universitas Brawijaya. Materi pelatihan disampaikan oleh Rafi Mustopa, anggota RAMBU UB, yang menjelaskan bahwa pelatihan ini berlandaskan tiga pilar utama, yaitu Profesionalisme Kompetensi (Profkom), sosialisasi Peraturan Transportasi (Pertors), serta penerapan K3L yang mengacu pada regulasi nasional.
Rafi menuturkan, pelatihan ini tidak hanya bertujuan menanamkan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga membekali peserta dengan kemampuan mitigasi risiko saat berkendara. “Pengendara perlu memahami kondisi-kondisi tidak terduga, seperti pengereman mendadak, jalan licin saat hujan, hingga risiko aquaplaning akibat genangan air yang bisa menyebabkan kendaraan kehilangan traksi,” jelasnya.
Melalui pendekatan tersebut, pelatihan diharapkan mampu mengubah ketidaktahuan menjadi kesadaran, sehingga potensi kecelakaan dapat diminimalkan. Edukasi keselamatan ini juga diarahkan untuk menyelaraskan kebiasaan berkendara dengan prinsip keselamatan yang benar, bukan sekadar mengikuti pola berkendara yang sudah terlanjur terbentuk.
Pelaksanaan pelatihan dilakukan secara bertahap. Sebagai komunitas yang tumbuh di lingkungan kampus, RAMBU memprioritaskan mahasiswa sebagai sasaran awal sebelum memperluas program kepada tenaga kependidikan, dosen, pengemudi pimpinan universitas, hingga karyawan UB lainnya. Tahap awal ini difokuskan pada mahasiswa sebagai upaya pengayaan wawasan sekaligus regenerasi anggota komunitas RAMBU.
Peserta kegiatan pada 7 Februari berasal dari Universitas Brawijaya, dengan kepanitiaan yang tergabung dalam Champion Traffic Safety Program UB dan Universitas Airlangga. Kegiatan ini terbuka tidak hanya bagi mahasiswa sebagai pengendara, tetapi juga menyasar pengguna jalan lain, seperti pejalan kaki dan pesepeda.
Materi pelatihan disampaikan secara komprehensif melalui teori dan praktik langsung. Peserta mendapatkan pembekalan terkait inspeksi kendaraan, pengaturan posisi berkendara (riding posture), penempatan tangan pada kemudi di posisi jam 9 dan 3, serta pengaturan spion untuk meminimalkan blind spot. Selain itu, peserta juga dikenalkan pada etika berlalu lintas, tata cara menyeberang jalan yang aman, serta pemahaman fasilitas penyeberangan seperti zebra cross dan pelican crossing.
Prof. Qomariyatus menambahkan bahwa rendahnya kesadaran berlalu lintas, khususnya di kalangan mahasiswa, masih menjadi salah satu faktor utama tingginya risiko kecelakaan. Perilaku berkendara yang tidak tertib, seperti melaju dengan kecepatan tinggi, menimbulkan kebisingan, serta mengabaikan rambu dan marka jalan, dinilai dapat membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.
Selain aspek keselamatan, ia juga menyoroti pentingnya sertifikasi K3 bagi mahasiswa. Menurutnya, sertifikat tersebut memiliki nilai strategis sebagai bekal kompetensi di dunia kerja, termasuk di lingkungan badan usaha milik negara (BUMN).
Melalui kolaborasi dengan mitra edukasi keselamatan berkendara seperti CSR Honda dan Toyota, Universitas Brawijaya berharap program ini dapat meningkatkan kesadaran berlalu lintas, menekan angka kecelakaan, serta mewujudkan lingkungan kampus yang aman, tertib, dan berkelanjutan.
Sumber Berita: prasetya.ub.ac.id











