Portalmahasiswa—Doktor Ilmu Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI), Diah Kartika Pratami, melakukan riset mendalam terkait peran metabolomik dan penggunaan pelarut hijau dalam pengembangan propolis di Indonesia. Penelitian ini menawarkan pendekatan baru yang lebih komprehensif dalam melihat potensi propolis sebagai bahan bioaktif.
Diah Kartika menjelaskan bahwa selama ini kajian propolis umumnya hanya menitikberatkan pada identifikasi senyawa atau aktivitas biologis tertentu, tanpa mengaitkannya secara menyeluruh dengan faktor spesies lebah, kondisi lingkungan, maupun jenis pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi.
“Penelitian propolis selama ini umumnya hanya berfokus pada identifikasi senyawa atau aktivitas biologis tertentu, tanpa mengaitkannya secara menyeluruh dengan faktor spesies lebah, lingkungan, serta jenis pelarut yang digunakan,” kata Diah Kartika di Depok, Senin.
Melalui pendekatan metabolomik berbasis FTIR dan LC-MS/MS, penelitian ini menunjukkan bahwa profil kimia propolis tidak hanya ditentukan oleh vegetasi sumber resin, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh spesies lebah penghasilnya. Kajian tersebut menganalisis 25 sampel propolis dari lebah tak bersengat yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.
Hasil analisis mengungkap adanya variasi yang cukup signifikan pada rendemen, kandungan fenolik, dan flavonoid. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh jenis spesies lebah serta keragaman vegetasi di masing-masing daerah. Lebah dengan ukuran tubuh lebih besar, seperti Geniotrigona thoracica, yang hidup di wilayah dengan ketersediaan resin melimpah, cenderung menghasilkan rendemen propolis yang lebih tinggi.
Dari sisi bioaktivitas, ekstrak propolis yang diuji menunjukkan aktivitas antioksidan dan antiinflamasi yang kuat. Uji berbasis sel memperlihatkan kemampuan ekstrak propolis dalam menekan mediator inflamasi, seperti TNF-α, iNOS, dan Nitric Oxide (NO).
Penelitian ini juga membandingkan Ekstrak Etanol Propolis (EEP) dengan ekstrak propolis yang menggunakan Natural Deep Eutectic Solvent (NaDES). Hasilnya, beberapa formulasi NaDES—terutama yang berbasis Kolin Klorida, Asam Laktat, dan Propilen Glikol—menunjukkan aktivitas biologis yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak etanol.
“Aktivitas bioaktif propolis tidak berasal dari satu senyawa tunggal, melainkan merupakan hasil kerja sinergis dari berbagai senyawa yang saling melengkapi melalui mekanisme yang berbeda,” katanya.
“Melalui pendekatan metabolomik, kami juga berhasil mengidentifikasi senyawa penanda yang berkorelasi dengan aktivitas antioksidan dan anti-inflamasi, serta menunjukkan perbedaan profil senyawa antara ekstrak etanol dan ekstrak berbasis Natural Deep Eutectic Solvent,” tambahnya.
Meski hasil penelitian ini dinilai sangat menjanjikan, Diah Kartika menyampaikan bahwa riset tersebut masih berada pada tahap in vitro. Ke depan, penelitian akan dilanjutkan ke tahap uji preklinik, meliputi pengujian keamanan serta uji farmakodinamik sebagai imunomodulator menggunakan hewan coba, agar temuan yang diperoleh memiliki relevansi klinis yang lebih kuat.
Atas capaian riset disertasinya yang berjudul “Pendekatan Metabolomik untuk Pengembangan Metode Ekstraksi Propolis Lebah Tak Bersengat dengan Natural Deep Eutectic Solvent (NaDES) Guna Meningkatkan Aktivitas Antioksidan dan Anti-Inflamasi”, Diah Kartika Pratami berhasil meraih gelar doktor dari Fakultas Farmasi Universitas Indonesia.
Sumber Berita: antaranews.com











