Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (SV UNDIP) terus memperkuat langkahnya dalam membangun kampus yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penetapan Program SV Zero Discharge, sebuah program strategis yang mengintegrasikan pengelolaan sumber daya, limbah, energi, dan lingkungan kampus dalam satu sistem terpadu.
Program ini menjadi penguatan sekaligus pengembangan dari kebijakan UNDIP Zero Waste yang sebelumnya diatur dalam Peraturan Rektor Universitas Diponegoro Nomor 5 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Sampah di Lingkungan Universitas Diponegoro.
Jika pendekatan zero waste berfokus pada pengurangan sampah, maka Zero Discharge membawa konsep tersebut ke tingkat yang lebih luas. Sistem ini dirancang untuk meminimalkan pembuangan limbah keluar kampus melalui pengolahan, pemanfaatan kembali, serta inovasi berbasis ekonomi sirkular.
Zero Discharge, Konsep Pengelolaan Kampus Masa Depan
Penetapan Program SV Zero Discharge dituangkan dalam Keputusan Dekan Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro Nomor 026/UN7.M2/HK/IV/2026 tentang Penetapan Program SV Zero Discharge di Lingkungan Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro.
Sebagai tindak lanjut implementasi, Sekolah Vokasi juga menetapkan pedoman perilaku mahasiswa melalui keputusan dekan tersendiri agar seluruh civitas akademika memiliki peran aktif dalam mendukung program ini.
Berbeda dengan pengelolaan sampah konvensional, Program SV Zero Discharge mencakup seluruh jenis limbah dan sumber daya kampus, meliputi:
-
Limbah cair
-
Limbah padat
-
Limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun)
-
Emisi lingkungan
Program ini juga mencakup berbagai inovasi pengelolaan sumber daya, seperti pemanenan air hujan, pengolahan dan pemanfaatan kembali air olahan, pengembangan sistem biogas, pengolahan limbah organik dan anorganik berbasis circular economy, pengelolaan limbah laboratorium, hingga pengendalian emisi secara bertahap.
Transformasi Kampus Menuju Keberlanjutan
Dekan Sekolah Vokasi UNDIP, Prof. Dr. Ir. Budiyono, M.Si., menegaskan bahwa SV Zero Discharge bukan sekadar program lingkungan biasa. Menurutnya, program ini merupakan bagian dari transformasi kelembagaan menuju kampus vokasi masa depan yang berkelas dunia.
“Dunia saat ini menghadapi tantangan besar terkait perubahan iklim, efisiensi sumber daya, dan pembangunan berkelanjutan. Pendidikan vokasi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang kompeten secara teknis, tetapi juga harus mampu menanamkan cara berpikir dan cara bekerja yang berkelanjutan. Karena itu, SV Zero Discharge kami posisikan sebagai bagian dari transformasi Sekolah Vokasi menuju kampus berkelanjutan berkelas dunia,” paparnya.
Menurut Prof. Budiyono, isu keberlanjutan kini menjadi salah satu indikator penting dalam pengembangan perguruan tinggi di tingkat global. Karena itu, berbagai inisiatif yang dijalankan Sekolah Vokasi tidak hanya bertujuan menjaga lingkungan kampus, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran nyata bagi mahasiswa.
Teaching Factory dan Living Laboratory
Salah satu keunggulan utama Program SV Zero Discharge adalah perannya sebagai Teaching Factory dan Living Laboratory.
Melalui pendekatan ini, mahasiswa dari berbagai program studi tidak hanya belajar teori di ruang kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam pengembangan teknologi dan sistem keberlanjutan di lingkungan kampus.
Mahasiswa dapat berpartisipasi dalam berbagai bidang, antara lain:
-
Pengolahan air dan daur ulang air
-
Pengembangan energi terbarukan dan sistem biogas
-
Ekonomi sirkular berbasis limbah organik dan anorganik
-
Monitoring kualitas lingkungan
-
Pengelolaan limbah laboratorium
-
Inovasi berbasis kecerdasan buatan dan teknologi digital untuk kampus berkelanjutan
Dengan model ini, kampus menjadi ruang belajar yang hidup. Mahasiswa tidak hanya memahami konsep sustainability secara akademis, tetapi juga mengalami langsung bagaimana sistem keberlanjutan dijalankan dalam praktik sehari-hari.
Bagian dari Ekosistem Vokasi 2030
Program SV Zero Discharge juga menjadi bagian penting dari UNDIP Vocational Excellence Ecosystem 2030, yaitu kerangka pengembangan Sekolah Vokasi yang mengintegrasikan berbagai aspek pendidikan terapan dalam satu ekosistem.
Ekosistem tersebut mencakup:
-
Pendidikan vokasi berbasis praktik
-
Teaching Factory
-
Kolaborasi dengan industri
-
Global employability
-
Inovasi dan riset terapan
-
Digital visibility
-
Keberlanjutan (sustainability)
Integrasi ini menunjukkan bahwa SV UNDIP tidak memandang sustainability sebagai program terpisah, melainkan sebagai fondasi yang menopang seluruh proses pendidikan dan pengembangan institusi.
Menyiapkan Lulusan untuk Industri Masa Depan
Prof. Budiyono menambahkan bahwa dunia industri masa depan membutuhkan lulusan yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga memahami prinsip keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya belajar tentang sustainability di ruang kelas, tetapi mengalaminya secara langsung dalam kehidupan kampus sehari-hari. Dengan demikian, mereka akan tumbuh menjadi lulusan yang siap menghadapi kebutuhan industri masa depan sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat,” tambah Prof Budiyono.
Pendekatan ini sejalan dengan tren global yang semakin menempatkan aspek ESG (Environmental, Social, and Governance) sebagai bagian penting dalam operasional perusahaan dan organisasi.
Dengan pengalaman langsung melalui SV Zero Discharge, mahasiswa diharapkan memiliki keunggulan kompetitif saat memasuki dunia kerja, terutama di sektor industri yang mulai menerapkan standar keberlanjutan secara ketat.
Menuju Kampus Vokasi Berkelas Dunia
Melalui Program SV Zero Discharge, Sekolah Vokasi UNDIP berharap dapat menjadi model pengembangan kampus vokasi berkelanjutan di Indonesia.
Program ini tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan lulusan unggul, tetapi juga menghadirkan solusi nyata terhadap berbagai tantangan lingkungan, efisiensi sumber daya, dan pembangunan berkelanjutan.
Dengan menggabungkan inovasi teknologi, pendidikan terapan, dan kepedulian lingkungan dalam satu sistem, SV UNDIP menunjukkan bahwa kampus vokasi dapat menjadi motor perubahan menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Sumber Berita: jateng.antaranews.com











