Portalmahasiswa – Mahasiswi dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Universitas Samudra (Unsam) terlibat langsung dalam upaya pemulihan pascabencana banjir di Aceh Tamiang melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kemanusiaan. Salah satu kegiatan yang mereka lakukan adalah mengajarkan mengaji kepada anak-anak penyintas banjir sebagai bagian dari pendampingan spiritual dan psikososial.
Eka Pratiwi, mahasiswi UNY yang tergabung dalam program KKN Kemanusiaan, menjelaskan bahwa kegiatan pengabdian ini difokuskan pada tiga agenda utama, yakni pembersihan fasilitas sekolah dan fasilitas umum, pendampingan proses belajar mengajar di sekolah, serta dukungan psikososial bagi anak-anak terdampak bencana.
“Dan kita banyak belajar dari mereka, bukan cuma mereka yang belajar dari kita, tapi kita di sini sama-sama belajar,” kata Tiwi—sapaan akrab Eka Pratiwi—saat ditemui ANTARA ketika memberikan pengajian kepada anak-anak di Masjid Nurhasanah, Kebun Medang Ara, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, Kamis (29/1) malam.
Ia menjelaskan, pada pekan pertama pelaksanaan KKN, para mahasiswa membantu proses pembelajaran di sekolah-sekolah karena para guru masih disibukkan dengan pembersihan lingkungan pascabanjir. Selain itu, mahasiswa juga melakukan pemulihan trauma sederhana melalui permainan, interaksi, dan kegiatan ice breaking bersama para siswa.
Sejumlah anak tampak mengikuti kegiatan belajar mengaji di Masjid Nurhasanah, yang diinisiasi oleh mahasiswa KKN dari UNY dan Universitas Samudra. Memasuki pekan kedua, mahasiswa melanjutkan kegiatan pembersihan fasilitas pendidikan di SMAN 2 Percontohan Karang Baru, sebelum merencanakan fokus pendampingan psikososial bagi masyarakat sekitar pada pekan ketiga.
Tidak hanya beraktivitas di siang hari, para mahasiswa juga menjalankan program pengajaran mengaji setiap malam di masjid. Kegiatan tersebut dimulai selepas Salat Maghrib hingga menjelang Isya, dan diselingi dengan cerita-cerita keislaman guna menanamkan nilai spiritual kepada anak-anak.
Menurut Eka, anak-anak dikumpulkan melalui pendekatan langsung ke posko pengungsian dan sekolah terdekat. Upaya ini bertujuan agar mereka dapat kembali beraktivitas bersama, belajar membaca Iqra dan Al-Qur’an, serta membangun kebersamaan pascabencana.
Mahasiswa yang terlibat berasal dari berbagai latar belakang disiplin ilmu, mulai dari pendidikan olahraga, psikologi, hukum, sastra, teknik, hingga pendidikan guru sekolah dasar. Mereka berharap kehadiran KKN Kemanusiaan ini mampu memberikan dampak positif bagi pemulihan mental, semangat belajar, dan tumbuhnya harapan baru bagi anak-anak Aceh Tamiang.
Sementara itu, Anisa Trias Safitri dari Universitas Samudra menambahkan bahwa masa pengabdian mereka berlangsung selama satu bulan. Pada pekan awal, fokus kegiatan diarahkan ke sekolah dasar untuk mendampingi pembelajaran dan menghibur siswa.
Selain mendampingi anak-anak, para mahasiswi juga bergotong royong membersihkan fasilitas umum di SMAN 2 Percontohan. Dengan menggunakan peralatan sederhana seperti cangkul dan sekop, mereka membersihkan sisa lumpur yang masih menebal di sejumlah area sekolah.
Anisa mengungkapkan bahwa tantangan utama di lapangan adalah perbedaan karakter dan daya tangkap setiap anak. Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat para mahasiswi untuk terus memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat.
Program mengaji direncanakan berlangsung setiap malam, kecuali malam Minggu yang dijadikan waktu libur. Mahasiswa berharap kegiatan tersebut dapat membantu memulihkan kondisi psikologis anak-anak korban banjir. Antusiasme anak-anak Aceh Tamiang pun menjadi energi tersendiri bagi para mahasiswa selama masa pengabdian.
Salah satu peserta kegiatan, Haikal (11), mengaku senang mengikuti kelas mengaji yang dipandu para mahasiswi. Ia merasa lebih nyaman belajar karena suasananya santai dan diselingi dengan obrolan serta permainan bersama teman-temannya. Sebelumnya, ia dan teman-temannya sempat berhenti mengaji karena bangunan TPA dijadikan lokasi pengungsian.
“Nyaman (ngaji) di sini. Karena bisa ngomong-ngomong, bicara-bicara, bisa main-main,” katanya.
Hal serupa dirasakan Sila, siswi kelas tiga sekolah dasar yang juga aktif mengikuti kegiatan mengaji setiap malam. Ia bercerita bahwa rumahnya sempat terendam banjir hingga keluarganya harus mengungsi ke atas genteng.
“Saya senang ngaji sini karena ada kakak-kakak KKN,” ucap Sila yang bercita-cita menjadi guru.
Kini, meski kondisi lingkungan belum sepenuhnya pulih, anak-anak Aceh Tamiang perlahan kembali menjalani aktivitas belajar dan keagamaan berkat pendampingan para mahasiswa KKN Kemanusiaan.
Sumber Berita: jogja.antaranews.com











