Penelitian itu kami arahkan untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan, yaitu metode deteksi residu pestisida yang sensitif, stabil, dan tidak bergantung pada enzim
Portalmahasiswa.com – Dosen Departemen Kimia FMIPA Universitas Indonesia (UI), Dr. Munawar Khalil, memperkenalkan hasil riset terbarunya terkait pengembangan sensor pestisida sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem keamanan pangan, khususnya pada produk hortikultura yang rentan terpapar residu bahan kimia.
Menurut Munawar, riset ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan akan metode deteksi yang tidak hanya akurat, tetapi juga praktis dan efisien. “Penelitian itu kami arahkan untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan, yaitu metode deteksi residu pestisida yang sensitif, stabil, dan tidak bergantung pada enzim,” kata Munawar Khalil dalam keterangan di Depok, Rabu.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam artikel berjudul “Ultrasensitive Non-Enzymatic Electrochemical Detection of Paraoxon-ethyl in Fruit Samples Using 2D Ti₃C₂Tₓ/MWCNT-OH” yang tercatat sebagai salah satu artikel paling populer di jurnal Nanoscale terbitan Royal Society of Chemistry (RSC), Inggris. Publikasi ini sekaligus menegaskan kontribusi ilmiah UI di kancah internasional dalam bidang sensor dan material maju.
Sensor yang dikembangkan dirancang untuk mampu mendeteksi residu pestisida secara cepat, stabil, dan akurat. Tak hanya itu, perangkat ini juga dibuat dengan mempertimbangkan kemudahan penggunaan serta biaya yang relatif terjangkau. Dengan karakter tersebut, teknologi ini berpotensi dimanfaatkan sebagai alat skrining langsung di pasar tradisional, pusat distribusi pangan, hingga kegiatan pengawasan lapangan.
Pendekatan non-enzimatik menjadi keunggulan utama dalam riset ini. Berbeda dengan sensor berbasis enzim yang sensitif terhadap perubahan suhu dan pH, sensor non-enzimatik dinilai lebih tahan terhadap variasi kondisi lingkungan sekaligus lebih ekonomis dalam jangka panjang.
Penelitian ini merupakan bagian dari tesis mahasiswa Program Magister (S2) Departemen Kimia FMIPA UI, Asmi Aris. Fokus risetnya adalah pengembangan sensor elektrokimia berbasis material komposit dua dimensi, yakni MXene (Ti₃C₂Tₓ) yang dipadukan dengan Multiwalled Carbon Nanotubes (MWCNT). Kombinasi material dua dimensi dan satu dimensi tersebut menghasilkan peningkatan konduktivitas serta aktivitas elektroda secara signifikan.
Hasilnya, sensor mampu mendeteksi pestisida jenis paraoxon-ethyl hingga konsentrasi yang sangat rendah, sekitar 10 nanomolar. Sensitivitas tinggi ini menjadi indikator penting dalam sistem deteksi dini residu berbahaya pada bahan pangan.
Namun, proses pengembangan materialnya tidak lepas dari tantangan teknis. “Proses etching Ti₃C₂Tₓ melibatkan bahan kimia berbahaya seperti HF, sehingga harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan sesuai dengan regulasi keselamatan. Selain itu, waktu sintesis yang cukup panjang menuntut ketelitian dan konsistensi agar material yang dihasilkan benar-benar sesuai untuk aplikasi sensor,” jelas Asmi Aris.
Selain faktor keamanan dalam proses sintesis, tantangan lain muncul pada tahap optimasi komposisi nanokomposit Ti₃C₂Tₓ/MWCNT-OH. Perbedaan karakteristik antara material dua dimensi dan satu dimensi memengaruhi luas permukaan aktif, konduktivitas, hingga gugus fungsional pada elektroda.
“Komposisinya harus disesuaikan secara spesifik dengan analit target, dalam hal ini paraoxon-ethyl, agar sensor memiliki sensitivitas dan selektivitas yang tinggi,” jelas Asmi.
Tahap berikutnya yang tak kalah kompleks adalah pengujian pada sampel nyata seperti buah. Matriks sampel yang kompleks membuka peluang terjadinya interferensi dari senyawa lain, sehingga diperlukan metode validasi yang cermat agar hasil deteksi tetap akurat.
Ke depan, tim peneliti berencana menyempurnakan teknologi ini agar semakin stabil, efisien, dan adaptif terhadap berbagai jenis sampel pangan. Target akhirnya bukan sekadar publikasi ilmiah, melainkan implementasi nyata di lapangan.
“Harapannya, teknologi ini dapat digunakan langsung di lapangan dan berkontribusi nyata dalam sistem pengawasan keamanan pangan,” ujar Asmi.
Riset ini juga menjadi contoh kolaborasi lintas institusi yang solid. Pengembangannya melibatkan FMIPA UI, Institut Pertanian Bogor (IPB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), hingga A*STAR Singapura. Sinergi tersebut memperkuat kualitas riset sekaligus membuka peluang hilirisasi teknologi sensor pangan di masa mendatang.
Melalui inovasi ini, UI menunjukkan komitmennya dalam menjawab tantangan keamanan pangan dengan pendekatan ilmiah yang presisi, aplikatif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Sumber Berita: antaranews.com











