Portalmahasiswa.com – Media sosial telah menjadi ruang utama bagi Generasi Z dalam memperoleh informasi, termasuk pengetahuan keagamaan. Di balik kemudahan akses tersebut, muncul tantangan baru berupa penyebaran paham radikalisme dan intoleransi berbasis SARA yang dinilai memerlukan pendekatan lebih komprehensif.
Hal itu menjadi fokus pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Dampak Media Sosial terhadap Pemahaman Radikalisme dan Intoleransi Berbasis SARA pada Generasi Z di Indonesia” yang diselenggarakan Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Dalam forum tersebut, para akademisi sepakat bahwa penanggulangan radikalisme tidak lagi cukup mengandalkan pendekatan keamanan, melainkan harus diperkuat melalui pendidikan, literasi digital, moderasi beragama, dan pembangunan budaya toleransi.
Literasi Digital Dinilai Jadi Benteng Utama
Guru Besar UPI, Prof. Dr. Dadan Wildan, menilai kondisi Indonesia yang berhasil mencatat zero terror attack dalam beberapa tahun terakhir tidak boleh membuat masyarakat lengah terhadap ancaman radikalisme.
Menurutnya, kelompok penyebar paham ekstrem masih ada dan berpotensi muncul kembali ketika menemukan momentum yang tepat.
“Komunitasnya masih ada dan sedang menunggu momentum. Karena itu pendekatan penanggulangan harus bergeser dari hard approach menuju soft approach melalui pendidikan, penguatan moderasi beragama, literasi digital, serta kontra narasi di ruang siber,” ujarnya.
Ia menambahkan, sekolah dan perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam membangun komitmen kebangsaan, memperkuat toleransi, sekaligus membentuk ketahanan ideologis generasi muda.
Kolaborasi Tiga Perguruan Tinggi Teliti Pengaruh Media Sosial
FGD tersebut merupakan bagian dari penelitian Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) Tahun 2026 yang melibatkan tiga perguruan tinggi, yakni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Negeri Malang (UM), dan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).
Penelitian bertema “Dampak Media Sosial terhadap Pemahaman Radikalisme dan Intoleransi Berbasis SARA pada Generasi Z di Indonesia” itu diketuai oleh Guru Besar Sosiologi UPI, Prof. Dr. Elly Malihah, bersama tim yang terdiri atas Prof. Dr. Ahmad Munjin Nasih, S.Pd., M.Ag. dari Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Siti Nurbayani dari UPI, serta Ridwan, Ph.D. dari Universitas Islam Internasional Indonesia.
Diskusi juga menghadirkan sejumlah pakar, di antaranya Dekan FPIPS UPI Prof. Dr. Cecep Darmawan, S.H., S.IP., S.AP., Guru Besar UPI Prof. Dr. Dadan Wildan, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof. Dr. Karman, S.Ag., M.Ag., serta pakar pendidikan Islam Universitas Islam Bandung Imam Pamungkas, Ph.D.
FGD semakin komprehensif dengan melibatkan siswa SMA dan mahasiswa sebagai representasi Generasi Z.
Otoritas Pengetahuan Keagamaan Mulai Bergeser
Dalam pemaparannya, Prof. Elly Malihah mengungkapkan salah satu temuan penting penelitian, yakni terjadinya pergeseran sumber otoritas pengetahuan keagamaan di kalangan Generasi Z.
Jika sebelumnya generasi muda lebih banyak belajar langsung kepada kiai atau ustaz, kini proses pencarian informasi semakin didominasi oleh mesin pencari dan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Penelitian juga menemukan bahwa kemampuan berpikir kritis dan literasi digital menjadi faktor penting dalam mencegah penyebaran paham intoleran.
Mayoritas Generasi Z memang tidak langsung mengubah pandangan ideologinya setelah mengakses media sosial. Namun, paparan konten negatif tetap menjadi tantangan serius sehingga mereka perlu memiliki kemampuan membedakan kritik, ujaran kebencian, hingga narasi radikalisme melalui fact checking dan pemahaman terhadap teknik framing informasi.
Algoritma Media Sosial Dinilai Perkuat Polarisasi
Sementara itu, Ridwan, Ph.D. menyoroti bagaimana algoritma media sosial membentuk filter bubble yang memengaruhi cara pandang pengguna.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat ruang digital semakin rentan terhadap polarisasi dan berkembangnya sikap eksklusif, termasuk penolakan terhadap kelompok yang berbeda.
Karena itu, pada tahun kedua penelitian, tim akan menyusun model rekonstruksi pengetahuan yang lebih terbuka dan inklusif, sekaligus menghasilkan luaran berupa buku serta media edukasi.
Radikalisme Tidak Muncul Secara Instan
Dekan FPIPS UPI, Prof. Dr. Cecep Darmawan, menjelaskan bahwa proses radikalisasi tidak terjadi secara tiba-tiba.
Mengacu pada konsep Psychology of Terrorism, ia menyebut terdapat tiga faktor utama yang memengaruhi proses tersebut, yakni kebutuhan psikologis (need), narasi ideologis (narrative), dan jaringan sosial (network).
“Radikalisme tidak lahir secara instan. Ada kebutuhan psikologis, narasi yang membentuk keyakinan, dan jaringan yang memperkuatnya,” ujarnya saat menjelaskan konsep Three Pillars of Radicalization.
Senada dengan itu, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof. Dr. Karman menekankan pentingnya memahami ajaran agama secara utuh agar ayat-ayat keagamaan tidak dimaknai secara parsial.
Ia juga mengingatkan bahwa tingkat literasi digital masyarakat Indonesia yang masih berada pada kategori sedang menjadi tantangan dalam menghadapi penyebaran narasi ekstrem di ruang digital.
Sementara itu, Imam Pamungkas, Ph.D. menyoroti pentingnya pendidikan karakter sejak dini sebagai fondasi membangun generasi yang moderat dan terbuka.
Bangun Generasi Z yang Kritis dan Inklusif
Melalui diskusi tersebut, para peneliti dan pakar menyimpulkan bahwa media sosial memiliki dua sisi. Di satu sisi membuka akses pengetahuan yang sangat luas, namun di sisi lain juga menjadi ruang penyebaran paham radikalisme dan intoleransi apabila tidak diimbangi kemampuan berpikir kritis.
Karena itu, hasil penelitian ini diharapkan mampu melahirkan model edukasi yang mengintegrasikan literasi digital, moderasi beragama, kontra narasi, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan untuk membentuk Generasi Z yang kritis, inklusif, dan tangguh menghadapi berbagai bentuk ekstremisme di era digital.
Sumber Berita: tugubandung.id











