PODKHAS UIN KHAS Jember Kupas Peran Madrasah dalam Mencetak Generasi Siap Kuliah

ikon kampus daily

Senin, 8 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

dok. uinkhas.ac.id

dok. uinkhas.ac.id

Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember terus berinovasi dalam memperluas ruang edukasi publik melalui berbagai media komunikasi yang dekat dengan masyarakat. Salah satu terobosan yang kini menjadi perhatian adalah program podcast kampus bertajuk PODKHAS, yang menghadirkan berbagai diskusi inspiratif seputar pendidikan, sosial, budaya, hingga pengembangan sumber daya manusia.

Melalui salah satu program unggulannya yang bernama Titik Temu, UIN KHAS Jember menghadirkan dialog yang mengupas berbagai isu strategis pendidikan. Pada episode perdana yang tayang melalui kanal YouTube UIN KHAS Jember pada 26 Mei 2026, tema yang diangkat adalah “Dari Pesantren ke Perkuliahan: Membangun Generasi Berprestasi dan Siap Kuliah.”

Tema tersebut dinilai sangat relevan dengan kondisi saat ini, di mana pesantren dan madrasah tidak lagi hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga berperan penting dalam mempersiapkan generasi muda yang siap menghadapi tantangan pendidikan tinggi dan dunia kerja modern.

Menghadirkan Praktisi Pendidikan Madrasah

Episode perdana Titik Temu menghadirkan dua narasumber yang memiliki pengalaman panjang dalam dunia pendidikan madrasah di Kabupaten Lumajang. Mereka adalah Hasan Asy’iri selaku Ketua Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (KKMA) Kabupaten Lumajang dan Agus Supriyadi yang menjabat sebagai Ketua Lembaga Bimbingan Karier (LBK) Ma’had Aly Nurul Qadim.

Diskusi tersebut dipandu oleh Ainun Zamilah, M.E., dosen Fakultas Syariah UIN KHAS Jember yang mengarahkan perbincangan secara santai namun penuh substansi.

Selama lebih dari dua puluh menit, para narasumber membahas berbagai aspek penting mengenai pendidikan madrasah berbasis pesantren, mulai dari strategi pembinaan prestasi, pembangunan karakter siswa, hingga kesiapan lulusan dalam melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Madrasah Semakin Aktif Membangun Budaya Prestasi

Dalam kesempatan tersebut, Hasan Asy’iri menjelaskan bahwa Kabupaten Lumajang saat ini memiliki sekitar 89 Madrasah Aliyah yang tersebar di berbagai wilayah. Setiap madrasah memiliki program unggulan masing-masing yang dirancang untuk meningkatkan kualitas peserta didik maupun tenaga pendidik.

Menurutnya, KKMA terus mendorong seluruh madrasah agar memiliki sistem pembinaan prestasi yang terintegrasi dan berkelanjutan.

“Prestasi tidak hanya menjadi target siswa, tetapi juga guru madrasah. Karena itu kami terus membangun ekosistem yang mendorong lahirnya budaya kompetitif dan inovatif di lingkungan madrasah,” ujarnya. Seperti Dilansir uinkhas.ac.id

Ia menambahkan bahwa dukungan dari berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi seperti UIN KHAS Jember, memberikan semangat baru bagi madrasah untuk terus berkembang dan meningkatkan mutu pendidikan.

Baca Juga :  Prestasi Membanggakan! Dua Dosen UIN KHAS Jember Lolos Pendanaan Riset Internasional 2026

Program sosialisasi pendidikan tinggi, pengabdian masyarakat, hingga kerja sama akademik menjadi faktor penting dalam mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan madrasah.

Madrasah Tak Lagi Dipandang Sebelah Mata

Sementara itu, Agus Supriyadi menegaskan bahwa paradigma masyarakat terhadap madrasah kini telah berubah. Jika dahulu madrasah sering dipandang hanya unggul dalam bidang keagamaan, saat ini madrasah telah berkembang menjadi lembaga pendidikan yang mampu mengakomodasi berbagai potensi siswa.

“Madrasah memiliki keunggulan pada aspek keagamaan dan pembentukan karakter. Namun pada saat yang sama, siswa madrasah juga didorong mengikuti berbagai kompetisi akademik, olahraga, sains, hingga karya tulis ilmiah yang diselenggarakan oleh berbagai kementerian,” kata Agus.

Menurutnya, siswa madrasah di Lumajang secara aktif mengikuti berbagai ajang kompetisi seperti Kompetisi Sains Madrasah (KSM), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), lomba jurnalistik, hingga berbagai kompetisi akademik tingkat regional dan nasional.

Keterlibatan tersebut menjadi bukti bahwa madrasah mampu bersaing dan menunjukkan kualitas yang tidak kalah dengan sekolah umum lainnya.

Sistem Pembinaan Prestasi yang Berjenjang

Keberhasilan siswa madrasah dalam berbagai kompetisi tidak terjadi secara instan. Agus menjelaskan bahwa pembinaan dilakukan secara bertahap dan sistematis.

Setiap madrasah terlebih dahulu mengadakan kompetisi internal untuk menjaring siswa yang memiliki potensi terbaik. Setelah itu, para juara dipertemukan dalam kompetisi tingkat wilayah sebelum berlanjut ke tingkat kabupaten hingga nasional.

“Melalui sistem itu kami bisa memetakan kekuatan dan kelemahan siswa. Hasil evaluasi kemudian menjadi dasar pembinaan berikutnya,” ujarnya.

Pendekatan ini memungkinkan proses pembinaan berjalan lebih efektif karena setiap peserta didik mendapatkan pendampingan sesuai kebutuhan dan potensi yang dimiliki.

Lingkungan Pesantren Membentuk Karakter Kuat

Salah satu keunggulan utama madrasah berbasis pesantren adalah kemampuan dalam membangun karakter peserta didik secara berkelanjutan.

Menurut Agus, kehidupan pesantren yang berlangsung selama 24 jam menciptakan ruang pendidikan yang jauh lebih luas dibandingkan pembelajaran formal di kelas. Nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kesederhanaan, dan spiritualitas dapat ditanamkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut diperkuat oleh berbagai program khas yang diterapkan di madrasah dan pesantren di Lumajang.

Gerakan Santri Lumajang sebagai Penguat Identitas

Dalam diskusi tersebut, Hasan Asy’iri juga memperkenalkan salah satu program unggulan bernama Gerakan Santri Lumajang.

Program ini dilaksanakan setiap hari Kamis dengan melibatkan seluruh warga madrasah, mulai dari siswa, guru, hingga tenaga kependidikan.

Pada hari tersebut seluruh peserta mengenakan pakaian santri dan memulai aktivitas dengan membaca Al-Qur’an serta wirid sesuai tradisi masing-masing lembaga.

“Gerakan ini bukan hanya simbolik, tetapi bagian dari upaya membangun identitas dan karakter siswa madrasah,” kata Hasan.

Baca Juga :  Dosen UIN KHAS Jember Belajar Al-Qur'an Braille Bersama Penyandang Tunanetra, Perkuat Pengabdian Inklusif

Program tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana pendidikan karakter di madrasah tidak hanya diajarkan melalui teori, tetapi juga diwujudkan dalam praktik keseharian.

Menyiapkan Lulusan yang Siap Kuliah

Topik diskusi kemudian berfokus pada kesiapan lulusan madrasah dalam melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Hasan menegaskan bahwa berbagai pengalaman mengikuti kompetisi dan kegiatan akademik selama di madrasah merupakan bekal penting untuk menghadapi dunia perkuliahan.

“Prestasi menjadi indikator potensi dan kapasitas siswa. Ketika mereka terbiasa mengikuti kompetisi, menulis karya ilmiah, atau terlibat dalam berbagai kegiatan akademik, mereka akan lebih siap menghadapi dunia perkuliahan,” ujarnya.

Agus menambahkan bahwa siswa madrasah memiliki peluang yang sama besar untuk memasuki berbagai bidang keilmuan.

Ia bahkan menceritakan pengalaman seorang siswa jurusan IPS yang berhasil diterima di Program Studi Tadris IPA. Kisah tersebut menunjukkan bahwa madrasah saat ini memberikan ruang yang sangat luas bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi sesuai minat dan bakat masing-masing.

“Madrasah saat ini sudah sangat fleksibel. Siswa dapat mengembangkan minat sesuai potensi yang dimiliki. Tidak lagi terbatas pada bidang keagamaan semata,” katanya.

Menjawab Tantangan Era Digital

Data yang dipaparkan Hasan menunjukkan bahwa sekitar 40 persen lulusan Madrasah Aliyah di Kabupaten Lumajang berhasil melanjutkan studi ke perguruan tinggi negeri.

Banyak di antaranya diterima di perguruan tinggi keagamaan Islam negeri seperti UIN KHAS Jember, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, serta sejumlah kampus negeri lainnya.

Meskipun demikian, dunia pendidikan terus menghadapi tantangan baru, terutama terkait perkembangan teknologi digital dan kebutuhan dunia kerja yang semakin kompleks.

Karena itu, madrasah mulai menerapkan pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel melalui diferensiasi pembelajaran dan penguatan Kurikulum Berbasis Cinta yang dikembangkan Kementerian Agama.

Menurut Agus, pendekatan tersebut memungkinkan siswa menentukan mata pelajaran yang sesuai dengan rencana pendidikan dan karier masa depan mereka, termasuk bidang teknologi, otomotif, seni, maupun kewirausahaan.

“Jangan lagi memandang madrasah secara sempit. Madrasah hari ini sudah mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan dan cita-cita peserta didik,” ujarnya.

Pendidikan Tinggi sebagai Investasi Masa Depan

Menjelang akhir diskusi, kedua narasumber memberikan motivasi kepada para siswa yang masih ragu untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Hasan menegaskan bahwa kuliah merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup dan memperluas peluang masa depan.

Sementara itu, Agus menilai bahwa perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat mengharuskan generasi muda untuk terus meningkatkan kapasitas diri melalui pendidikan tinggi.

“Sekarang bukan lagi zamannya lulusan MA langsung menikah. Ini zamannya lulusan MA melanjutkan kuliah agar memiliki bekal yang cukup menghadapi tantangan masyarakat yang semakin kompleks,” katanya.

Melalui episode perdana Titik Temu, PODKHAS UIN KHAS Jember berhasil menghadirkan ruang diskusi yang inspiratif sekaligus memperkuat pesan bahwa madrasah dan pesantren memiliki peran strategis dalam melahirkan generasi berprestasi, berkarakter, serta siap menghadapi tantangan dunia perkuliahan dan masa depan.

Follow WhatsApp Channel kampusdaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kirim Artikel atau Tugas Paper Mahasiswa ke Media Online. Ini Caranya!
Begini Cara Siswi Thamavitya Mulniti School Jatuh Cinta pada Bahasa Arab
Kunjungan Literasi di Kademangan, Mahasiswa UM Ajak Anak Membaca Sambil Berkreasi
Mahasiswa KKN UB Ajarkan Petani Milenial Produksi Agens Hayati untuk Pertanian Berkelanjutan
Perjuangan di Balik IPK 3,99: Mahasiswa KIP-K UIJ Buktikan Keterbatasan Bukan Halangan
Unesa dan UPI Perkuat Kolaborasi Komunikasi Publik dan Riset Kehumasan
Tim Universitas Brawijaya Raih Silver Medal Internasional Lewat Inovasi Bank Sampah Digital
Dosen UIN KHAS Jember Belajar Al-Qur’an Braille Bersama Penyandang Tunanetra, Perkuat Pengabdian Inklusif

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 21:30 WIB

Kirim Artikel atau Tugas Paper Mahasiswa ke Media Online. Ini Caranya!

Rabu, 12 Agustus 2026 - 19:36 WIB

Begini Cara Siswi Thamavitya Mulniti School Jatuh Cinta pada Bahasa Arab

Senin, 10 Agustus 2026 - 14:03 WIB

Mahasiswa KKN UB Ajarkan Petani Milenial Produksi Agens Hayati untuk Pertanian Berkelanjutan

Minggu, 9 Agustus 2026 - 12:55 WIB

Perjuangan di Balik IPK 3,99: Mahasiswa KIP-K UIJ Buktikan Keterbatasan Bukan Halangan

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 21:08 WIB

Unesa dan UPI Perkuat Kolaborasi Komunikasi Publik dan Riset Kehumasan

Berita Terbaru