Sejarah, Riset Sejarah, dan Level Tafsir atas Peristiwa Sejarah

A. Hanief Saha Ghafur (Guru Besar Pada Program Doktor Kajian Stratejik dan Global, SPPB, Universitas Indonesia)

ikon kampus daily

Jumat, 9 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

dok realitarakyat.com

dok realitarakyat.com

Portalmahasiswa.com | Tulisan ini ditulis karena kerisauan penulis melihat begitu mudahnya masyarakat menyebut cerita masa lalu itu sejarah. Tulisan ini dimaksudkan sebagai kritik dan sekaligus meluruskan pemikiran masyarakat pada umumnya. Agar kita jangan gampang-gampang menyebut semua “cerita masa lalu” itu sejarah. Apalagi sampai mendalilkan dan menyebutnya sebagai “fakta sejarah”.  Sebab tidak semua macam cerita masa lalu itu bisa disebut sejarah.

Ada banyak macam cerita atau hikayat yang hidup dan berkembang di masyarakat. Bisa berupa cerita legenda, cerita mitos, cerita epos, cerita fiksi, cerita sejarah, dsb. Untuk bisa disebut sejarah, para pakar ilmu pengetahuan mensyaratkan lebih ketat dan selektif terhadap metodologinya.

Jangan mudah menyebut suatu kejadian masa lalu itu peristiwa sejarah. Bila kejadian dan peristiwa masa lalu itu bukan merupakan hasil riset penelusuran dengan fakta dan data yang dapat diverifikasi. Bahkan data dan jalan ceritanya dapat ditelusuri dan bisa diaudit ulang kebenarannya. Bila peristiwa itu belum dilakukan penelusuran riset, sejatinya ada sebutan paling tepat dan netral yaitu sebut saja “cerita atau hikayat (story)”, bukan sejarah (history). Sehingga tidak terkesan semua kejadian masa lalu itu merupakan produk dari riset sejarah.

Baca Juga :  Dampak Media Sosial: Antara Manfaat dan Ancaman bagi Generasi Z

Semua peristiwa sejarah itu fakta kejadian “(evidence)”-nya bersifat objektif. Tetapi tafsir atas peristiwa sejarah itu akan selalu bersifat subyektif. Jadi yang terpenting dalam tafsir sejarah itu bukanlah tentang objektifitasnya. Tetapi yang  diperlukan adalah adanya “share of subjectivity”. Subyektiftas Anda sama dengan Subyektiftas kita. Khususnya subyektiftas tafsir di antara para pakar sejarah itu sendiri.

Dipastikan bukan subyektiftas tafsir di antara para awam yang tidak memiliki kompetensi metodologi untuk menyeleksi, menginformasi, dan mengonfirmasi kebenarannya. Khususnya metodologi tafsir hermeneutik, baik berupa hermeneutika teks, simbolik, dan perilaku, (baik perilaku individu maupun kolektif masyarakat). Bahkan tafsir hermeneutik atas peristiwa sejarah itupun masih bertingkat. Mulai dari level tafsir yang sederhana, sampai dengan tafsir yang canggih (sophisticated) berbasis ilmu pengetahuan.

Berikut level-level tafsir hermeneutik terhadap perilaku dan peristiwa sejarah:

1). Level uji dan verifikasi data (data exegecies) yang sederhana sekedar mengeluarkan makna dari data menjadi suatu informasi tafsir yang sifatnya masih permukaan dan dangkal. Namun semua bentuk analisis data itu dimulai dari level ini;

Baca Juga :  Perbuatan, Niat, dan Hukuman Mati, Menguji Kasus Fandi Ramadhan

2).  Level tafsir sejarah berbasis informasi yang masih menjadi opini subyektif dan tidak/belum terkonfirmasi di antara para pakar;

3). Level tafsir informasi sejarah berbasis “share of subjectivity” yang sudah terkonfirmasi di antara para pakar sejarah;

4). Level tafsir sejarah berbasis diskusi akademik dan teori ilmu pengetahuan. Bentuknya berupa tafsir mendalam dan berakar kuat pada data. Di balik informasi cerita itu kita kita bisa melihat suatu temuan kebaruan disamping fakta-fakta (See something behind the facts) dan lebih jauh masuk pada kedalaman tafsir dengan melihat sesuatu dibalik struktur realitas yang nyata (See something beyond the structure of reality). Contoh riset dengan temuan berbasis fakta lapangan yang memiliki nilai kebaruan (novelty) dan analisis mendalam seperti inilah yang dikenal sebagai “magnum opus dissertation” dan layak menyandang gelar sebagai “Philosophy Doctor (Ph.D)”.

Jadi kesimpulannya, setiap peristiwa sejarah itu memiliki tingkat-tingkat akurasi dan kedalaman tafsir yang berbeda. Bagi awam pada umumnya tafsir itu masih sederhana dan dangkal, sampai kepada tafsir sejarah level tinggi yang memiliki tingkat sopistikasi intelektual yang mendalam dan teruji secara akademik. Sekian.[]

Follow WhatsApp Channel kampusdaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penerapan Riset Operasi Dalam Menentukan Lokasi Usaha Yang Optimal
Pendidikan Karakter Tidak Bisa Digantikan oleh Media Massa
Realitas yang Dibentuk Layar: Relevansi Teori Kultivasi di Era Digital
Avoidant dalam Perspektif Komunikasi Hati
Menurunnya Investasi dan Ancaman Perlambatan Ekonomi Nasional
Daya Beli Masyarakat Melemah, Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Tertahan
4 Aspek Kritis Security Awareness: Evolusi dari Manual ke Integrasi Teknologi
Peringatan Hari Buruh: Realitas Buruh Indonesia di Tengah Tekanan Ekonomi dan Kebijakan Publik

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 14:43 WIB

Penerapan Riset Operasi Dalam Menentukan Lokasi Usaha Yang Optimal

Selasa, 23 Juni 2026 - 08:26 WIB

Pendidikan Karakter Tidak Bisa Digantikan oleh Media Massa

Minggu, 21 Juni 2026 - 14:11 WIB

Realitas yang Dibentuk Layar: Relevansi Teori Kultivasi di Era Digital

Sabtu, 20 Juni 2026 - 13:11 WIB

Avoidant dalam Perspektif Komunikasi Hati

Minggu, 14 Juni 2026 - 18:13 WIB

Menurunnya Investasi dan Ancaman Perlambatan Ekonomi Nasional

Berita Terbaru