Portal Mahasiswa | Dalam kehidupan sosial modern saat ini, komunikasi sering kali di asumsikan sebagai sesuatu yang berjalan secara alami bahwa setiap orang, pada dasar nya mampu mengungkapkan apa yang dirasakannya kepada orang lain. Tetapi kenyataan berkata lain, ada Sebagian orang yang justru memilih diam Ketika hati nya terasa penuh, mengihalng Ketika hubungan mulai terasa semakin dekat, dan justru malah menarik diri di saat orang lain paling membutuhkan kehadiaran mereka. Pola ini dikenal dalam dunia psikologis sebagai Avoidant hal ini merupakan sebuah gaya kelekatan (attachment style) yang ditandai oleh kecenderungan menjaga jarak secara emosional.
Tulisan ini bermula dari kegelisahan atas kesalahpahaman tersebut. Dengan menggunakan kerangka Teori Komunikasi Hati (HCT) yang di kembangkan dalam kajian ilmu komunikasi, penulis ingin menawarkan cara pendang yang lebih adil dan empatik dalam membahas fenomena avoidant, bukan sebagai cacat kepribadian, melainkan sebagai persoalan komunikasi yang dapat di pahami dan, pada akhirnya, dapat dikelola.
Isi Opini
Inti dari Teori Komunikasi Hati adalah keyakinan bahwa komunikasi yang efektif tidak dimulai dari kata-kata, melainkan dari proses olah pikir dan olah rasa. Olah pikir adalah suatu kemampuan mengolah setiap pikiran agar mengahislkan sesuatu yang baik dan konstruktif, sementara olah rasa adalah kepekaan seseorang dalam mengelola perasaannya agar dapat merespons lingkungan lingkungan sosial secara tepat. Keduanya berjalan beriringan dan bermuara pada sikap, yang kemudian membentuk perilaku nyata dalam berkomunikasi.
Di sinilah letak masalah utama individu avoidant: bukan ketiadaan rasa, melainkan kesulitan dalam proses olah rasa. Perasaan itu ada, mungkin bahkan sangat kuat, namun tidak pernah diajarkan, dilatih, atau diberi ruang untuk diolah dan disampaikan. Akibatnya, energi emosional yang seharusnya menjadi jembatan komunikasi justru tersumbat di dalam, dan yang tampak dari luar hanya keheningan.
Dalam tiga tahapan komunikasi hati menurut Nyonyorino(2014); kenali hati, desain hati, dan berbagi hati, individu avoidant umumnya terhenti di tahap pertama. Mereka belum tuntas mengenali hati mereka sendiri, sehinga melompat ke tahap berbagi terasa seperti sebuah tuntutan yang terlalu berat.
Namun HCT juga menegaskan bahwa komunikasi yang baik bukanlah bakat bawaan, melainkan hasil dari manajemen yang bisa dilatih. Pola avoidant bukan takdir, ia adalah kebiassaan yang terbentuk dari pengalaman, dan dengan kesadaran serta Latihan yang konsisten, ia bisa diubah. Solusi nya bukan memaksa mereka untuk terbuka, melainkan mendampingi mereka dalam proses olah pikir dan olah rasa yang selama ini belum sempat dijalani.
Kesimpulan
Avoidant adlah salah satu fenomena komunikasi yang paling sering disalahpahami. Di balik jarak yang mereka jaga dan diam yang mereka pilih, bukan ketidak pedulian yang bersemayam, melainkan hati yang belum terlatih untuk mengungkapkan.
Teori Komunikasi Hati memberikan kita secara lebih manusiawi. Bahwa komunikasi yang efektif berakar dari olah pikir dan olah rasa yang sehat; bahwa sampah hati secara tidak terkelola akan terus menghambat seseorang untuk terhubung secara tulus; dan bahwa perubahan itu mungkin bukan melauli paksaan, melainkan melalui proses mengenal hati sendiri secara berharap.
Pada akhirnya, komunikasi yang sejati bukan tentang siapa yang paling fasih berbicara, tetapi tentang siapa yang cukup berani untuk jujur kepada diri sendiri terlebih dahulu, sebelum kepada orang lain. Dan keberanian itu, sekecil apapun bentuknya, selalu layak untuk di hargai.











