Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) terus berupaya menghadirkan inovasi dalam dunia pendidikan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkenalkan metode fun chemistry sebagai pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif, menyenangkan, dan mampu meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran kimia.
Inovasi tersebut diperkenalkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) bertajuk “Peningkatan Kompetensi Guru Kimia melalui Penggunaan Fun Chemistry sebagai Ice Breaking dalam Pembelajaran Kimia” yang diselenggarakan di SMAN 1 Pangandaran. Kegiatan ini tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kompetensi para guru kimia, tetapi juga menjadi upaya membangun suasana belajar yang lebih aktif dengan menempatkan eksperimen sederhana sebagai pintu masuk memahami konsep-konsep ilmiah.
Melalui pendekatan ini, UPI ingin mengubah cara pandang bahwa kimia merupakan mata pelajaran yang sulit dan identik dengan rumus-rumus yang rumit. Sebaliknya, siswa diajak untuk mengenal konsep kimia melalui pengalaman langsung sehingga proses belajar menjadi lebih mudah dipahami dan menyenangkan.
Mengubah Paradigma Pembelajaran Kimia
Selama bertahun-tahun, pembelajaran kimia di berbagai sekolah masih didominasi metode ceramah dan penyampaian teori sebelum siswa melakukan praktik. Kondisi tersebut sering kali membuat peserta didik merasa kesulitan memahami konsep karena mereka harus menghafal banyak rumus tanpa mengetahui penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui metode fun chemistry, pola tersebut dibalik. Guru terlebih dahulu menghadirkan eksperimen sederhana yang mampu memancing rasa penasaran siswa. Setelah siswa mengamati fenomena yang terjadi, guru kemudian menghubungkannya dengan konsep ilmiah yang relevan.
Ketua pelaksana kegiatan, Ali Kusrijadi, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut dirancang agar siswa lebih aktif membangun pengetahuannya sendiri melalui pengalaman.
“Selama ini pembelajaran kimia masih sering dipersepsikan sulit karena siswa lebih dahulu dihadapkan pada teori dan rumus. Melalui fun chemistry, kami membalik pola tersebut. Siswa diajak mengamati fenomena sederhana lebih dulu, kemudian guru mengaitkannya dengan konsep ilmiah. Dengan cara ini, rasa ingin tahu tumbuh terlebih dahulu sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna,” kata Ali di Bandung, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Menurutnya, rasa ingin tahu merupakan fondasi penting dalam proses belajar. Ketika siswa penasaran terhadap suatu fenomena, mereka akan lebih mudah menerima penjelasan ilmiah yang diberikan guru.
Eksperimen Menjadi Ice Breaking yang Edukatif
Dalam kegiatan tersebut, fun chemistry juga dikenalkan sebagai strategi ice breaking yang memiliki nilai edukatif. Berbeda dengan permainan biasa, eksperimen sederhana digunakan untuk membangun suasana kelas yang lebih hidup sekaligus menghubungkan siswa dengan materi pelajaran.
Ali menegaskan bahwa eksperimen bukan sekadar hiburan di awal pembelajaran, melainkan bagian dari strategi pembelajaran yang memiliki tujuan akademik.
“Fun chemistry bukan tujuan akhir, tetapi jembatan agar siswa lebih mudah memahami materi. Percobaan yang digunakan harus sederhana, aman, mudah diterapkan di sekolah, dan memiliki keterkaitan langsung dengan kompetensi yang sedang dipelajari. Jadi, bukan sekadar membuat siswa terhibur,” beber Ali.
Melalui pendekatan tersebut, guru diharapkan mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna tanpa harus menggunakan peralatan laboratorium yang mahal atau rumit.
Guru Dibekali Keterampilan Merancang Pembelajaran
Workshop ini diikuti oleh sebanyak 22 guru kimia dari jenjang SMA, MA, dan SMK se-Kabupaten Pangandaran.
Selama pelatihan, para peserta tidak hanya mempelajari berbagai eksperimen sederhana, tetapi juga mendapatkan pendampingan dalam memilih kegiatan praktikum yang sesuai dengan kompetensi pembelajaran.
Mereka diajak menganalisis efektivitas setiap percobaan berdasarkan beberapa aspek penting, seperti tingkat keamanan, durasi pelaksanaan, kemudahan memperoleh alat dan bahan, hingga keterkaitannya dengan materi yang sedang dipelajari.
Pendekatan tersebut bertujuan agar guru mampu menyusun modul pembelajaran yang lebih kontekstual dan mudah diterapkan di sekolah masing-masing.
Selain itu, guru juga didorong untuk melakukan modifikasi terhadap berbagai eksperimen sehingga dapat disesuaikan dengan kondisi fasilitas laboratorium yang tersedia di sekolah.
Penguatan dari Narasumber Nasional
Kegiatan ini turut menghadirkan dua narasumber nasional yang memiliki pengalaman panjang dalam bidang pendidikan kimia, yakni Dr rer nat Omay Sumarna dan Dr paed Sjaeful Anwar.
Keduanya memberikan materi mengenai pentingnya inovasi pembelajaran sains di era modern. Mereka menekankan bahwa proses belajar tidak cukup hanya membuat siswa menghafal teori, tetapi juga harus mampu melatih keterampilan berpikir kritis, mengamati, menganalisis, serta menarik kesimpulan berdasarkan fakta.
“Dua narasumber nasional, Dr rer nat Omay Sumarna, dan Dr paed Sjaeful Anwar, turut memberikan penguatan mengenai pentingnya inovasi pembelajaran agar siswa tidak hanya menghafal konsep, tetapi juga memahami proses ilmiah melalui pengalaman langsung,” ungkap Ali.
Materi tersebut memperkuat pemahaman peserta bahwa pembelajaran kimia dapat dikembangkan menjadi lebih menarik tanpa mengurangi kedalaman materi.
Ratusan Siswa Antusias Mengikuti Demonstrasi
Selain workshop bagi guru, kegiatan ini juga melibatkan sebanyak 206 siswa kelas XI SMAN 1 Pangandaran.
Para siswa mengikuti sesi demonstrasi yang menampilkan sekitar 20 eksperimen fun chemistry. Berbagai percobaan sederhana diperagakan secara langsung untuk menjelaskan konsep-konsep kimia melalui perubahan warna, reaksi kimia, hingga fenomena menarik lainnya yang mudah diamati.
Pendekatan visual tersebut membuat siswa lebih mudah memahami konsep abstrak yang selama ini hanya dijelaskan melalui buku atau papan tulis.
Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mereka aktif mengajukan pertanyaan, berdiskusi, dan mencoba menghubungkan fenomena yang diamati dengan konsep ilmiah yang dipelajari di kelas.
Mendorong Pembelajaran yang Lebih Aktif
Penerapan fun chemistry menjadi salah satu contoh bagaimana inovasi sederhana dapat memberikan dampak besar terhadap kualitas pembelajaran.
Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, melainkan berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa menemukan konsep melalui pengalaman langsung.
Pendekatan ini juga mendorong berkembangnya kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, serta pemecahan masalah yang menjadi bagian penting dalam pembelajaran abad ke-21.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, UPI berharap semakin banyak sekolah yang mengadopsi metode fun chemistry sebagai bagian dari strategi pembelajaran di kelas.
“Melalui metode ini diharapkan menjadi salah satu model pembelajaran yang dapat diadopsi sekolah untuk membangun kelas yang lebih interaktif,” tandas Ali.
Dengan mengedepankan eksperimen sederhana yang aman, relevan, dan mudah diterapkan, metode fun chemistry diharapkan mampu mengubah persepsi siswa terhadap mata pelajaran kimia. Pembelajaran tidak lagi sekadar menghafal rumus, tetapi menjadi proses eksplorasi yang menyenangkan, interaktif, dan mampu menumbuhkan rasa ingin tahu. Inovasi yang dikembangkan Program Studi Pendidikan Kimia FPMIPA UPI ini sekaligus menunjukkan bahwa perubahan kecil dalam metode mengajar dapat memberikan dampak besar terhadap kualitas pendidikan sains di Indonesia.
Jika diinginkan, saya juga dapat membuat 3 judul menarik, meta deskripsi, dan tags format koma untuk artikel ini.











