Portalmahasiswa.com – Puluhan dosen Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember mengikuti cara belajar yang berbeda dalam meningkatkan kapasitas pengabdian kepada masyarakat. Mereka tidak hanya menerima materi di ruang pelatihan, tetapi juga terjun langsung mendampingi penyandang disabilitas netra dalam pembelajaran Al-Qur’an Braille di Rumah Aman Dinas Sosial Kabupaten Lumajang.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Workshop Peningkatan Kapasitas Literasi Al-Qur’an Braille untuk Mendukung Pengabdian Kolaboratif, hasil kolaborasi UIN KHAS Jember bersama Kawan Netra, komunitas yang aktif memberdayakan penyandang tunanetra melalui pendidikan, literasi, dan pelatihan keterampilan.
Melalui pendekatan berbasis pengalaman, para dosen diajak memahami langsung kebutuhan penyandang disabilitas netra sebagai bekal dalam merancang program pengabdian yang lebih inklusif dan tepat sasaran.
Belajar Memahami Kebutuhan, Bukan Sekadar Menguasai Teknik
Workshop ini dirancang berbeda dari pelatihan pada umumnya. Selain mempelajari teknik membaca dan menulis Al-Qur’an Braille, setiap peserta juga mendampingi penyandang tunanetra secara langsung.
Interaksi tersebut memberikan kesempatan kepada para dosen untuk mengenali tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas netra sekaligus memahami strategi pembelajaran yang lebih inklusif.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN KHAS Jember, Prof. Dr. M. Khusna Amal, M.Si., mengatakan bahwa penguatan kapasitas dosen di bidang literasi Al-Qur’an Braille merupakan bagian dari transformasi pengabdian perguruan tinggi yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
“Pengabdian kepada masyarakat tidak cukup hanya hadir membawa program. Pengabdian harus dimulai dari pemahaman yang utuh terhadap kelompok sasaran. Karena itu, kami ingin dosen-dosen UIN KHAS Jember belajar langsung bersama penyandang disabilitas netra agar lahir program yang benar-benar menjawab kebutuhan mereka,” ujar Prof. Amal.
Menurutnya, kolaborasi dengan komunitas yang telah lama mendampingi penyandang tunanetra menjadi langkah strategis agar pelaksanaan tridarma perguruan tinggi mampu menghasilkan dampak sosial yang nyata.
“Kami ingin membangun budaya pengabdian kolaboratif yang inklusif. Kampus tidak bisa bekerja sendiri. Sinergi dengan komunitas seperti Kawan Netra mempertemukan kekuatan akademik dengan pengalaman lapangan sehingga solusi yang dihasilkan menjadi lebih tepat sasaran,” tambahnya.
Praktik Langsung hingga Menyusun Media Pembelajaran Braille
Workshop menghadirkan dua narasumber yang telah berpengalaman dalam pengembangan literasi Braille, yakni Gusti Mohammad Hamdan Firmanta, S.T., M.Sn., pendiri CV Helloide Studio, CV Magna Kreatif Visual sekaligus penggerak Kawan Netra, serta Heri Cahyono, Koordinator Gerakan Tunanetra Mengaji.
Peserta memperoleh materi mengenai dasar-dasar literasi Al-Qur’an Braille, metode pembelajaran bagi penyandang tunanetra, hingga pentingnya membangun komunikasi yang setara dengan penyandang disabilitas.
Setelah sesi teori, para dosen langsung mendampingi penyandang tunanetra dalam proses pembelajaran Al-Qur’an Braille. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari observasi lapangan untuk mendukung penyusunan program pengabdian kolaboratif di masa mendatang.
Selain itu, setiap peserta mendapat tugas menyusun media pembelajaran Kartu Huruf Hijaiyah Braille yang diharapkan dapat dimanfaatkan dalam kegiatan literasi Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas netra.
Bangun Pendidikan Inklusif Lewat Kolaborasi Kampus dan Komunitas
Pendiri Kawan Netra, Gusti Mohammad Hamdan Firmanta, mengapresiasi keterlibatan aktif para dosen UIN KHAS Jember yang bersedia belajar langsung bersama penyandang tunanetra.
“Yang paling dibutuhkan penyandang tunanetra bukan rasa kasihan, tetapi kesempatan untuk belajar bersama dalam lingkungan yang setara. Ketika dosen merasakan sendiri proses pendampingan, mereka akan lebih memahami bagaimana merancang pembelajaran maupun program pengabdian yang benar-benar inklusif,” ungkap Gusti.
Ia berharap kolaborasi tersebut terus berkembang menjadi kerja sama berkelanjutan dalam bidang pengabdian, penelitian, maupun inovasi pembelajaran.
“Kami melihat potensi besar dari kolaborasi ini. Kampus memiliki sumber daya akademik, sedangkan komunitas memiliki pengalaman lapangan. Ketika keduanya dipertemukan, dampaknya akan jauh lebih luas bagi penyandang disabilitas netra maupun pengembangan pendidikan inklusif di Indonesia,” katanya.
Dilanjutkan dengan Pengabdian Kolaboratif Berbasis Data
Rangkaian kegiatan tidak berhenti pada workshop. Para peserta akan mengikuti Penggalian Data Pengabdian Kolaboratif Berbasis Literasi Al-Qur’an Braille yang dilaksanakan secara daring dalam tiga tahap pada 10–15 Agustus 2026.
Setiap kelompok akan melakukan pengumpulan data, analisis kebutuhan, pendalaman informasi, hingga menyusun rekomendasi program pengabdian yang akan menjadi dasar implementasi pada tahap berikutnya.
Melalui kolaborasi ini, UIN KHAS Jember menegaskan komitmennya dalam mengembangkan pengabdian kepada masyarakat yang tidak hanya berlandaskan keilmuan, tetapi juga mengedepankan nilai inklusivitas, pemberdayaan, dan kemanusiaan. Sinergi dengan Kawan Netra diharapkan menjadi model kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas dalam memperluas akses pembelajaran Al-Qur’an Braille sekaligus menghadirkan solusi nyata bagi penyandang disabilitas netra di Indonesia.
Sumber Berita: uinkhas.ac.id











