Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) terus memperkuat kualitas pembelajaran melalui kolaborasi internasional. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan guest lecture dalam Program Adjunct Professor 2026 yang menghadirkan akademisi dari luar negeri untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepada mahasiswa.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa Program Studi S1 Farmasi yang mengikuti mata kuliah Anatomi untuk Farmasi mendapatkan kesempatan belajar langsung dari Assoc. Prof. Muhammad Roil Bilad, Ph.D., akademisi dari Universiti Brunei Darussalam (UBD). Kehadiran narasumber internasional tersebut menjadi bagian dari strategi Universitas Brawijaya dalam meningkatkan mutu pendidikan sekaligus memperluas jejaring akademik global.
Program ini tidak hanya memperkenalkan perkembangan terbaru dalam dunia pendidikan medis, tetapi juga membekali mahasiswa dengan keterampilan memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab dalam proses belajar.
Kolaborasi Internasional Melalui Program Adjunct Professor
Guest lecture tersebut dilaksanakan dalam dua sesi yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting, yakni pada Jumat, 29 Mei 2026, dan Jumat, 5 Juni 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Program Adjunct Professor Batch 2 Tahun 2026 yang dirancang untuk menghadirkan dosen dan peneliti internasional dalam proses pembelajaran di Universitas Brawijaya.
Kolaborasi antara Universitas Brawijaya dan Universiti Brunei Darussalam menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat internasionalisasi perguruan tinggi Indonesia. Selain meningkatkan kualitas pengajaran, kerja sama ini juga membuka peluang riset bersama, publikasi ilmiah, hingga pengembangan kurikulum yang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Mahasiswa pun memperoleh kesempatan untuk belajar dari perspektif global tanpa harus meninggalkan ruang kuliah mereka.
Mengenal AI sebagai Mitra Belajar
Pada sesi pertama, Prof. Muhammad Roil Bilad membawakan materi bertajuk “Artificial Intelligence as a Learning Partner in Medical Education: Core Principles of Contextualization and Prompt Engineering.”
Materi tersebut mengajak mahasiswa memahami bahwa kecerdasan buatan bukan sekadar alat pencari informasi, melainkan dapat menjadi mitra belajar yang efektif apabila digunakan dengan cara yang tepat.
Dalam paparannya, mahasiswa diperkenalkan pada konsep contextualization, yaitu kemampuan memberikan konteks yang jelas ketika berinteraksi dengan AI sehingga informasi yang dihasilkan menjadi lebih relevan dan akurat.
Selain itu, mahasiswa juga mempelajari teknik prompt engineering, yakni cara menyusun instruksi atau pertanyaan yang tepat agar AI mampu memberikan jawaban yang sesuai kebutuhan akademik.
Pendekatan tersebut menjadi keterampilan baru yang semakin dibutuhkan di era digital, terutama bagi mahasiswa yang nantinya akan banyak berinteraksi dengan teknologi dalam proses pendidikan maupun dunia kerja.
Pemanfaatan AI untuk Visualisasi Ilmiah
Pada sesi kedua, Prof. Roil membawakan topik “Enhancing Scientific Visualization with AI in Medical Education: Principles of Poster Design, Academic Presentations, and Course Development.”
Materi ini membahas bagaimana AI dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas visualisasi ilmiah, mulai dari penyusunan poster akademik, presentasi ilmiah, hingga pengembangan materi pembelajaran.
Bagi mahasiswa Farmasi, kemampuan tersebut menjadi bekal penting karena selama proses studi mereka sering mendapatkan tugas berupa penyusunan poster ilmiah maupun presentasi hasil penelitian.
Melalui teknologi AI, mahasiswa dapat menghasilkan desain visual yang lebih informatif, menarik, dan mudah dipahami tanpa mengabaikan kaidah ilmiah.
Selain aspek desain, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya menyusun alur informasi yang sistematis agar pesan ilmiah dapat tersampaikan secara efektif kepada audiens.
AI Harus Digunakan Secara Bertanggung Jawab
Seluruh rangkaian kegiatan difasilitasi oleh Wike Astrid Cahayani, S.Ked., M.Biomed., dosen Departemen Keilmuan Anatomi-Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.
Menurut Wike, pemanfaatan AI dalam pendidikan tidak boleh hanya dipandang sebagai alat yang mempermudah pekerjaan mahasiswa. Teknologi tersebut harus menjadi sarana yang mampu meningkatkan kualitas proses belajar.
“Guest lecture ini memberikan nilai tambah yang penting bagi mahasiswa, terutama dalam memahami bahwa AI tidak hanya dapat digunakan sebagai alat bantu teknis, tetapi juga sebagai sarana untuk mendukung proses belajar yang lebih terarah, sistematis, dan reflektif,” kata Wike.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa juga harus memiliki kemampuan berpikir kritis ketika menggunakan AI.
Setiap informasi yang diperoleh melalui teknologi tersebut tetap harus diverifikasi menggunakan referensi ilmiah yang kredibel sehingga akurasi data dapat dipertanggungjawabkan.
Menjaga Integritas Akademik
Selain membahas kemampuan teknis, kegiatan ini juga memberikan penekanan pada pentingnya integritas akademik.
Mahasiswa diajak memahami bahwa AI tidak boleh digunakan untuk menggantikan proses berpikir, melainkan sebagai alat pendukung dalam memperoleh informasi dan mengembangkan ide.
Pemanfaatan teknologi secara etis menjadi salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki calon tenaga kesehatan dan peneliti.
Dengan demikian, mahasiswa diharapkan mampu menghasilkan karya ilmiah yang tetap orisinal, berbasis bukti ilmiah, dan memenuhi standar akademik.
Memperkuat Budaya Akademik Global
Pelaksanaan guest lecture ini juga menjadi bagian dari komitmen Universitas Brawijaya dalam memperluas kerja sama internasional.
Selain mendukung proses pembelajaran, kolaborasi dengan Universiti Brunei Darussalam diharapkan mampu membuka peluang penelitian bersama, pertukaran akademisi, hingga pengembangan publikasi ilmiah internasional.
Melalui Program Adjunct Professor, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih luas karena dapat berinteraksi langsung dengan akademisi dari berbagai negara.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam membangun budaya akademik yang terbuka terhadap inovasi, kolaborasi, dan perkembangan ilmu pengetahuan global.
Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Kegiatan ini juga sejalan dengan komitmen Universitas Brawijaya dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs).
Program guest lecture berkontribusi terhadap pencapaian SDG 4: Quality Education melalui penyediaan pembelajaran yang inovatif, berkualitas, dan sesuai perkembangan teknologi.
Selain itu, kolaborasi antara Universitas Brawijaya dan Universiti Brunei Darussalam turut mendukung SDG 17: Partnerships for the Goals, yang menekankan pentingnya kemitraan internasional dalam meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan inovasi.
Melalui kerja sama seperti ini, Universitas Brawijaya terus menunjukkan komitmennya dalam menciptakan ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Dengan terselenggaranya guest lecture ini, mahasiswa Farmasi tidak hanya memperoleh wawasan baru mengenai pemanfaatan AI dalam pendidikan medis, tetapi juga mendapatkan bekal penting untuk menghadapi tantangan pembelajaran, penelitian, serta komunikasi ilmiah di era digital. Kolaborasi internasional seperti ini diharapkan terus berkembang sehingga mampu melahirkan lulusan yang unggul, inovatif, dan siap bersaing di tingkat global.











