Gerakan Pramuka tidak hanya identik dengan kegiatan alam terbuka dan kedisiplinan, tetapi juga menjadi wadah pengembangan karakter, kepemimpinan, hingga keterampilan organisasi bagi generasi muda. Semangat tersebut terlihat dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Bidang yang sukses diselenggarakan oleh Gerakan Pramuka Universitas Sultan Ageng Tirtayasa pada Minggu, 24 Mei 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Kwartir Daerah atau Kwarda Banten itu diikuti jajaran anggota Ambalan dan Racana Pramuka Untirta dengan penuh antusiasme. Diklat Bidang menjadi salah satu agenda penting organisasi untuk meningkatkan pemahaman anggota terhadap bidang-bidang yang ada di lingkungan Pramuka Untirta sekaligus membantu peserta menentukan ruang pengabdian sesuai minat dan potensi masing-masing.
Tidak sekadar pelatihan biasa, kegiatan ini juga menjadi momen pembentukan karakter dan penguatan komitmen organisasi. Para peserta mendapatkan pembekalan langsung dari pengurus bidang yang aktif di Pramuka Untirta, mulai dari Media, Pers, dan Komunikasi (MPK), Seni dan Olahraga (Seniora), hingga Disaster atau kebencanaan.
Bekal Penting untuk Pengembangan Anggota
Diklat Bidang menjadi bagian penting dalam proses kaderisasi dan pengembangan kapasitas anggota. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya dikenalkan pada tugas dan fungsi setiap bidang, tetapi juga diberikan gambaran mengenai tantangan serta tanggung jawab yang akan dihadapi selama berorganisasi.
Acara dibuka secara resmi oleh Qaulis Tsabit Ramadhani selaku Ketua Dewan Racana Putri. Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi dari beberapa pemateri yang berasal dari masing-masing bidang di Pramuka Untirta.
Materi disampaikan oleh M. Arief Rifa’i, Ahmad Baihaqi, serta Jenab. Ketiga pemateri tersebut menjelaskan pentingnya mendalami bidang organisasi sebagai upaya meningkatkan kualitas diri sekaligus memperkuat kontribusi anggota terhadap organisasi.
Para peserta tampak aktif mengikuti sesi materi dan diskusi. Hal tersebut menunjukkan tingginya minat anggota muda Pramuka Untirta dalam memahami peran organisasi secara lebih mendalam.
MPK Jadi Ujung Tombak Komunikasi Organisasi
Materi pertama disampaikan oleh Kak M. Arif Rifa’i dari Bidang MPK atau Media, Pers, dan Komunikasi. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa bidang MPK memiliki peran strategis sebagai ujung tombak organisasi dalam mengelola media, publikasi, dan komunikasi di era digital.
Menurutnya, perkembangan teknologi membuat organisasi harus mampu hadir secara aktif di media sosial dan platform digital agar informasi kegiatan dapat tersampaikan dengan baik kepada masyarakat maupun anggota internal.
Selain itu, MPK juga memiliki tanggung jawab menjaga citra organisasi melalui desain visual, dokumentasi, serta pengelolaan komunikasi publik.
Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta bernama Kak Rijal menanyakan cara mencari referensi desain yang baik untuk kebutuhan organisasi. Menanggapi hal tersebut, Kak Arif membagikan beberapa tips praktis kepada peserta.
Ia menyarankan anggota untuk aktif mencari inspirasi melalui berbagai platform desain digital, kemudian memilih minimal tiga referensi terbaik untuk dikembangkan dan dimodifikasi sesuai kebutuhan organisasi.
Penjelasan tersebut disambut antusias peserta karena bidang media dan desain kini menjadi salah satu kemampuan penting dalam organisasi modern.
Seniora Dorong Pengembangan Seni dan Olahraga
Materi berikutnya dibawakan oleh Kak Jenab dari Bidang Seniora atau Seni dan Olahraga. Dalam penyampaiannya, ia menjelaskan bahwa bidang Seniora berfokus pada pengembangan potensi anggota di bidang seni dan olahraga sebagai bagian dari pembentukan karakter dan kreativitas anggota Pramuka.
Salah satu identitas seni yang terus dijaga dan dilestarikan di Pramuka Untirta adalah Tari Sultan. Tarian tersebut menjadi warisan budaya organisasi yang diwariskan dari generasi ke generasi oleh kakak-kakak sebelumnya.
Menurut Kak Jenab, pelestarian seni di lingkungan organisasi bukan hanya sekadar menjaga tradisi, tetapi juga menjadi bentuk penghargaan terhadap budaya dan identitas organisasi.
Pada sesi diskusi, Kak Saka mengajukan pertanyaan mengenai prioritas antara minat dan bakat dalam memilih bidang pengembangan diri.
Menanggapi hal itu, Kak Jenab menjelaskan bahwa bakat sebaiknya menjadi prioritas utama karena merupakan potensi alami yang dimiliki seseorang. Meski demikian, faktor minat juga tetap penting agar proses pengembangan diri dapat berjalan lebih maksimal dan menyenangkan.
Penjelasan tersebut memberikan gambaran kepada peserta bahwa pengembangan diri idealnya dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan antara kemampuan dan ketertarikan pribadi.
Bidang Disaster Tanamkan Jiwa Kemanusiaan
Materi terakhir disampaikan oleh Ahmad Baihaqi atau yang akrab disapa Kak Abay dari Bidang Disaster atau kebencanaan.
Dalam materinya, ia menjelaskan bahwa bidang Disaster berfokus pada kegiatan Search and Rescue (SAR), yaitu upaya pencarian dan penyelamatan terhadap manusia maupun barang dalam situasi darurat dan bencana.
Kak Abay menegaskan bahwa anggota SAR harus memiliki jiwa pengabdian serta keikhlasan tinggi karena tugas kemanusiaan sering kali membutuhkan pengorbanan besar, bahkan mempertaruhkan keselamatan diri sendiri.
Penjelasan tersebut memberikan pemahaman kepada peserta bahwa bidang kebencanaan bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga kesiapan mental dan kepedulian sosial.
Pada sesi tanya jawab, Kak Raffa mengajukan pertanyaan mengenai cara mengatasi ketakutan terhadap darah atau hemophobia. Menanggapi hal itu, Kak Abay memberikan solusi bertahap melalui proses adaptasi.
Ia menyarankan agar seseorang mulai membiasakan diri melihat darah melalui media visual secara perlahan hingga rasa takut berkurang. Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa anggota yang masih memiliki ketakutan terhadap darah tetap dapat berkontribusi di bidang SAR dengan mengambil peran lain yang tidak berhubungan langsung dengan penanganan medis.
Wawancara Peminatan Jadi Penentu Bidang Pengabdian
Setelah seluruh sesi materi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan wawancara peminatan yang dibagi menjadi empat pos, yaitu Bidang Protokol, Seniora, Disaster, dan MPK.
Dalam sesi tersebut, peserta diwawancarai mengenai minat, komitmen, serta alasan memilih bidang tertentu sebagai tempat pengabdian selama masa bakti organisasi.
Melalui proses wawancara ini, pengurus organisasi dapat melihat potensi dan kesiapan anggota sekaligus membantu peserta menentukan bidang yang paling sesuai dengan kemampuan mereka.
Rangkaian kegiatan Diklat Bidang kemudian ditutup secara khidmat oleh Ketua Dewan Racana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh anggota Ambalan dan Racana Pramuka Untirta mampu memberikan kontribusi terbaik sesuai minat, kemampuan, dan potensi yang dimiliki demi kemajuan organisasi serta pengabdian kepada masyarakat.
Sumber Berita: pramuka.id











