Portalmahasiswa.com – Suasana Masjid Sunan Ampel UIN KHAS Jember terasa khusyuk pada Selasa, 24 Februari 2026. Usai salat Dzuhur, Dekan Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember, Prof. Dr. Fawaizul Umam, M.Ag., menyampaikan kultum Ramadan yang juga disiarkan langsung melalui kanal YouTube resmi kampus. Civitas akademika mengikuti dengan penuh perhatian, menciptakan atmosfer religius yang hangat sekaligus reflektif.
Mengangkat tema “Memaknai Keistimewaan Ramadan”, Prof. Fawaiz membuka tausiyahnya dengan ungkapan syukur dan shalawat, seraya menyapa pimpinan universitas serta jamaah yang hadir. Ia mengingatkan pentingnya rasa syukur karena kembali dipertemukan dengan bulan suci dalam keadaan sehat dan memiliki kesempatan beribadah bersama.
“Patut kita bersyukur karena untuk kesekian kalinya Allah memperkenankan kita menikmati bulan Ramadan. Mudah-mudahan cara kita memaknai Ramadan tahun ini lebih baik dan lebih berkualitas daripada tahun sebelumnya,” ujarnya.
Dalam penjelasannya, ia menyebut bahwa keistimewaan Ramadan setidaknya ditopang oleh dua peristiwa besar: turunnya Al-Qur’an dan hadirnya Lailatul Qadar. Dua momentum spiritual tersebut, menurutnya, sudah cukup menjadi penanda bahwa Ramadan bukan bulan biasa, melainkan ruang istimewa yang sarat makna.
Ia juga menyinggung sebuah riwayat hadis tentang harapan agar sepanjang tahun menjadi Ramadan jika umat mengetahui kemuliaannya. Meski sanadnya dinilai lemah, ia menegaskan bahwa substansinya selaras dengan spirit hadis-hadis sahih, termasuk riwayat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim mengenai dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, serta dibelenggunya setan saat Ramadan tiba.
“Artinya, seluruh potensi kita untuk berbuat buruk diperkecil oleh Tuhan. Maka jika di bulan Ramadan kita masih bersikeras melakukan kemaksiatan, itu patut kita renungkan,” tuturnya dengan gaya retoris yang sesekali diselingi humor khas akademisi pesantren.
Lebih jauh, Prof. Fawaiz mengutip pandangan jumhur ulama, termasuk Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, bahwa pengampunan dosa melalui puasa Ramadan terutama berlaku untuk dosa-dosa kecil. Sementara dosa besar menuntut taubat yang sungguh-sungguh dan kesadaran moral yang mendalam.
Namun, pesan yang ia sampaikan tidak berhenti pada penjelasan normatif. Ia mengajak jamaah memaknai Ramadan secara praksis. “Ramadan itu istimewa. Maka kita harus mengistimewakannya,” katanya.
Menurutnya, Ramadan adalah momentum self-recharging dan self-resetting. Setelah sebelas bulan disibukkan urusan duniawi, manusia memerlukan jeda spiritual untuk mengisi ulang “baterai rohani” yang melemah. Ia bahkan mengibaratkan puasa sebagai proses detoksifikasi—bukan hanya bagi tubuh, tetapi juga bagi jiwa.
“Kita cas ulang rohani kita. Bahkan kalau perlu kita reset ulang diri kita, kembali menjadi manusia yang seutuhnya,” ujarnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, ia menawarkan dua langkah sederhana. Pertama, memperbaiki hubungan dengan Allah melalui istighfar dan kesadaran bahwa setiap pilihan hidup berada dalam pengawasan-Nya. Kedua, memperbaiki hubungan dengan sesama manusia—yang menurutnya justru lebih menantang, karena memerlukan keberanian untuk meminta dan memberi maaf.
“Pastikan Ramadan ini kita benar-benar menyelesaikan problem hubungan antarmanusia. Karena Allah tidak akan mengembalikan kita pada fitrah kemanusiaan jika masih ada ganjalan sosial yang belum kita tuntaskan,” tegasnya.
Di akhir kultum, ia menekankan bahwa tujuan akhir Ramadan adalah membentuk kembali manusia agar menjadi pribadi yang bertakwa, selaras dengan spirit Al-Qur’an. Ramadan, katanya, adalah proses pembentukan ulang diri agar saat kembali kepada Allah, manusia berada dalam keadaan ridha dan diridhai.
Kultum ditutup dengan doa dan harapan agar Ramadan benar-benar menjadi ruang transformasi spiritual bagi seluruh civitas akademika UIN KHAS Jember. Dengan gaya yang ringan namun sarat refleksi, Prof. Fawaiz mengingatkan bahwa keistimewaan Ramadan tidak cukup untuk diketahui—ia harus dihidupkan dalam tindakan nyata.
Sumber Berita: uinkhas.ac.id











