Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, S.P., M.M., secara resmi membuka kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Makassar (UNM) melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) PNBP FIS-H Tahun 2026. Kegiatan yang mengusung tema “Sekolah Kebangsaan Berbasis Lokalitas Budaya Bugis pada Pemuda Lintas Komunitas di Kabupaten Bone” tersebut berlangsung di Bunir Cafe, Kabupaten Bone, pada Sabtu (11/7/2026).
Program ini menjadi salah satu bentuk nyata sinergi antara perguruan tinggi dan Pemerintah Kabupaten Bone dalam memperkuat wawasan kebangsaan dengan menjadikan budaya lokal sebagai fondasi utama. Melalui pendekatan berbasis nilai-nilai budaya Bugis, kegiatan ini diharapkan mampu membentuk karakter generasi muda yang tetap berpegang pada jati diri daerah sekaligus siap menghadapi tantangan perkembangan zaman.
Di tengah arus globalisasi yang semakin pesat, pelestarian budaya lokal dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk menjaga identitas bangsa. Oleh karena itu, penguatan nilai kebangsaan tidak hanya dilakukan melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari akademisi, pemerintah daerah, organisasi masyarakat, hingga komunitas kepemudaan.
Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Pemerintah Daerah
Program Kemitraan Masyarakat yang digagas LPPM UNM merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang pengabdian kepada masyarakat. Melalui program ini, hasil kajian akademik diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus menjadi solusi terhadap berbagai tantangan sosial yang dihadapi daerah.
Kabupaten Bone dipilih sebagai lokasi pelaksanaan karena memiliki kekayaan budaya Bugis yang masih terjaga dengan baik. Nilai-nilai budaya tersebut dipandang memiliki relevansi yang kuat dalam membangun karakter generasi muda yang berintegritas, toleran, dan memiliki semangat kebangsaan.
Kolaborasi antara UNM dan Pemerintah Kabupaten Bone juga menjadi contoh bagaimana dunia akademik dan pemerintah dapat bekerja sama dalam membangun masyarakat melalui pendekatan budaya.
Budaya Bugis sebagai Fondasi Kebangsaan
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Bone menyampaikan apresiasi kepada Universitas Negeri Makassar beserta seluruh pihak yang telah menggagas kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut.
Menurutnya, pembangunan karakter generasi muda tidak dapat dilepaskan dari akar budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur. Nilai-nilai lokal justru menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai perubahan sosial yang terjadi akibat perkembangan teknologi dan globalisasi.
“Kabupaten Bone memiliki warisan budaya Bugis yang kaya akan nilai-nilai luhur seperti sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge. Nilai-nilai tersebut merupakan modal sosial yang sangat penting dalam memperkuat persatuan, toleransi, serta karakter kebangsaan di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk,” ujar Wakil Bupati.
Nilai sipakatau, yang berarti saling memanusiakan, mengajarkan pentingnya menghargai setiap individu tanpa membedakan latar belakang. Sementara sipakalebbi mengandung makna saling menghormati dan memuliakan sesama, sedangkan sipakainge mengajarkan budaya saling mengingatkan ketika terjadi kekeliruan.
Ketiga nilai tersebut telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bugis dan dinilai masih sangat relevan diterapkan dalam kehidupan masyarakat modern.
Membentuk Generasi Muda Berkarakter
Menurut Wakil Bupati, generasi muda merupakan aset utama daerah sekaligus penentu masa depan bangsa. Karena itu, mereka perlu dibekali tidak hanya dengan kemampuan akademik, tetapi juga karakter yang kuat dan rasa cinta terhadap budaya sendiri.
Ia berharap program Sekolah Kebangsaan ini mampu melahirkan pemuda yang memiliki wawasan luas, mampu menghargai keberagaman, serta tetap menjadikan budaya Bugis sebagai bagian dari identitas dirinya.
“Kabupaten Bone memiliki warisan budaya Bugis yang kaya akan nilai-nilai luhur seperti sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge. Nilai-nilai tersebut merupakan modal sosial yang sangat penting dalam memperkuat persatuan, toleransi, serta karakter kebangsaan di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk,” ujar Wakil Bupati.
Selain itu, ia berharap peserta kegiatan mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing dengan mengedepankan nilai persatuan, gotong royong, dan semangat kebangsaan.
Melalui pembinaan yang berkelanjutan, para pemuda diharapkan dapat berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang harmonis, maju, serta mampu bersaing di tingkat nasional maupun global tanpa kehilangan identitas budayanya.
Libatkan Akademisi, Budayawan, dan Komunitas Pemuda
Kegiatan ini turut dihadiri berbagai unsur yang memiliki perhatian terhadap pengembangan budaya dan pendidikan kebangsaan.
Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Tim PKM FIS-H UNM, Dr. Najamuddin, M.Hum., perwakilan mitra PKM dari LSM Sulekka, Andi Geerhand, S.Pd., M.Pd., akademisi sekaligus budayawan Dr. Andi Singkeru Rukka, S.H., M.H., serta peserta yang berasal dari berbagai komunitas kepemudaan di Kabupaten Bone.
Kehadiran berbagai elemen tersebut menunjukkan bahwa penguatan nilai kebangsaan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Perguruan tinggi memberikan kontribusi melalui pendekatan ilmiah, pemerintah daerah mendukung kebijakan dan implementasi, sementara komunitas menjadi ujung tombak dalam menyebarluaskan nilai-nilai positif kepada masyarakat.
Pengabdian Masyarakat sebagai Sarana Pelestarian Budaya
Program Kemitraan Masyarakat tidak hanya menjadi wadah transfer pengetahuan, tetapi juga media untuk melestarikan budaya lokal melalui pendekatan yang lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan generasi muda.
Melalui diskusi, pelatihan, serta berbagai aktivitas kolaboratif, peserta diajak memahami bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber nilai yang dapat menjadi pedoman dalam menghadapi tantangan masa depan.
Pendekatan ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran generasi muda bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas tokoh adat maupun pemerintah.
Menjaga Identitas di Tengah Tantangan Global
Di era globalisasi, arus informasi dan budaya asing berkembang begitu cepat. Kondisi tersebut membawa banyak peluang, namun juga berpotensi mengikis identitas budaya lokal apabila tidak diimbangi dengan penguatan karakter.
Karena itu, program Sekolah Kebangsaan Berbasis Lokalitas Budaya Bugis menjadi langkah strategis dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan yang berakar pada budaya daerah.
Melalui kolaborasi antara Universitas Negeri Makassar, Pemerintah Kabupaten Bone, akademisi, budayawan, organisasi masyarakat, dan komunitas pemuda, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan karakter generasi muda.
Dengan menjadikan nilai-nilai luhur budaya Bugis sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat, generasi muda Bone diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas, menjunjung tinggi persatuan, menghargai keberagaman, serta siap berkontribusi dalam membangun Indonesia yang harmonis, maju, dan berdaya saing tanpa melupakan akar budaya yang menjadi identitas dan kebanggaan daerah.
Jika diinginkan, saya juga dapat membuat 3 judul SEO, meta deskripsi, dan tags untuk artikel ini.











