Portalmahasiswa.com | Padang – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus memperkuat sinergi dengan perguruan tinggi dalam merespons dampak bencana alam yang melanda Sumatra Barat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kunjungan kerja ke Universitas Andalas (Unand) dan Universitas Putra Indonesia Yayasan Perguruan Tinggi Komputer (UPI YPTK) Padang, Sabtu (13/12).
Kunjungan ini menjadi bagian dari implementasi kebijakan “Diktisaintek Berdampak”, yang mendorong perguruan tinggi untuk hadir secara nyata dalam membantu sivitas akademika dan masyarakat terdampak bencana. Rangkaian kegiatan difokuskan pada koordinasi penanganan mahasiswa terdampak, penguatan kolaborasi antarkampus, peninjauan posko bantuan, serta penyaluran bantuan langsung di lokasi terdampak. Langkah tersebut dilakukan guna memastikan keberlangsungan pendidikan tinggi tetap terjaga di tengah situasi darurat.
Unand Jadi Ruang Aman dan Pusat Solidaritas
Dalam kunjungan ke Universitas Andalas, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Khairul Munadi mengapresiasi respons cepat Unand yang menjadikan kampus sebagai ruang aman, pusat layanan, sekaligus simpul solidaritas sosial bagi sivitas akademika dan masyarakat sekitar.
“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Rektor Unand beserta seluruh jajaran yang bergerak cepat memastikan seluruh sivitas akademika termasuk mahasiswa terdampak tetap mendapatkan perhatian dan perlindungan. Tidak hanya itu, Unand juga hadir membantu masyarakat di sekitar kampus maupun wilayah terdampak langsung seperti Kabupaten Agam. Ini telah mencerminkan semangat ‘Diktisaintek Berdampak’, dimana kampus hadir dengan aksi nyata melalui respons cepat yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” ujar Dirjen Khairul.
Pada kesempatan tersebut, Dirjen Dikti berdialog langsung dengan Rektor Unand, jajaran pimpinan universitas, dosen, serta mahasiswa terdampak bencana. Rektor Unand, Efa Yonnedi, melaporkan bahwa sebanyak 827 sivitas akademika terdampak, yang terdiri dari 626 mahasiswa, 40 dosen, 92 tenaga kependidikan, serta pegawai pendukung lainnya.
Sejak hari pertama bencana, Unand langsung mengambil langkah cepat dengan menjadikan kampus sebagai pusat tanggap darurat. Selain memastikan kebutuhan dasar sivitas akademika terpenuhi, Unand juga aktif membantu masyarakat sekitar.
“Pada masa tanggap darurat, kami memberikan fasilitas asrama gratis bagi mahasiswa yang terdampak bencana. Selain itu, melalui kerja sama dengan berbagai pihak, kami juga menyalurkan bantuan awal untuk membantu mahasiswa memulai kembali aktivitas di tempat pengungsian, seperti voucher belanja untuk kebutuhan dasar, termasuk perlengkapan tidur dan kebutuhan sehari-hari,” ujar Rektor Efa.
Tak hanya itu, Unand juga mendirikan posko tanggap bencana yang berfungsi sebagai pusat pengungsian sekaligus distribusi logistik bagi sivitas akademika dan masyarakat terdampak.
LLDikti Perkuat Koordinasi dan Distribusi Bantuan
Kepala LLDikti Wilayah X, Afdalisma, menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan pendataan perguruan tinggi dan sivitas akademika terdampak di wilayah Sumatra Barat dan Jambi. Selain itu, koordinasi lintas kampus terus diperkuat agar penyaluran bantuan berjalan cepat dan merata.
“Kami sedang melakukan pemetaan dan koordinasi dengan seluruh perguruan tinggi agar masing-masing kampus membentuk posko mandiri. Posko-posko ini berfungsi untuk mendistribusikan bantuan secara langsung kepada sivitas akademika dan masyarakat umum yang terdampak,” ujar Ketua Afdalisma.
Ia menambahkan bahwa LLDikti berperan aktif dalam menyalurkan donasi yang berasal dari berbagai mitra, dukungan internal, serta partisipasi perguruan tinggi. Seluruh bantuan tersebut telah didistribusikan kepada masyarakat, sivitas akademika, dan kampus terdampak.
Suara Mahasiswa Terdampak Bencana
Salah satu mahasiswa Unand yang terdampak banjir dan galodo, Nazwa, mengungkapkan bahwa bencana tersebut berdampak signifikan terhadap keberlangsungan aktivitas akademiknya. Sejumlah perlengkapan penunjang perkuliahan hilang akibat banjir, kondisi yang menjadi tantangan tersendiri menjelang pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS).
“Saat kejadian saya sedang berada di kampung halaman di Pariaman. Ketika kembali ke kos pada hari Sabtu, kondisinya sudah rusak parah, terendam lumpur setinggi lutut. Semua barang tidak bisa diselamatkan karena saat banjir terjadi saya tidak berada di tempat,” ungkap Nazwa.
Dalam situasi tersebut, ia menilai dukungan kampus sangat berarti, terutama bantuan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan akademik mendesak. Banyak mahasiswa kehilangan buku, catatan kuliah, hingga pakaian yang diperlukan untuk mengikuti ujian.
UPI YPTK Aktif Salurkan Bantuan dan Relawan
Usai kunjungan ke Unand, rombongan Kemdiktisaintek melanjutkan agenda ke Universitas Putra Indonesia Yayasan Perguruan Tinggi Komputer (UPI YPTK). Rektor UPI YPTK, Muhammad Ridwan, memaparkan berbagai upaya penanganan bencana yang telah dilakukan kampusnya sejak hari pertama.
“Sejak awal kami fokus pada kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari makanan siap saji, layanan air bersih, serta pendampingan psikologis. Saat ini sekitar 250 relawan, termasuk mahasiswa dan dosen, turun secara bergantian di berbagai titik wilayah terdampak,” ujar Rektor Ridwan.
UPI YPTK menyalurkan berbagai bantuan logistik, mulai dari 13.232 porsi makanan siap saji, 130.000 liter air bersih, 10.512 botol air mineral, hingga bantuan pangan dan kebutuhan pokok lainnya yang disalurkan ke 15 lokasi terdampak di Kota Padang dan sekitarnya.
Selain itu, UPI YPTK juga melakukan pemulihan lingkungan melalui pembersihan 37 rumah warga dan fasilitas umum, pengerahan alat berat, serta pengelolaan dua posko koordinasi agar distribusi bantuan berjalan terorganisir.
Trauma Healing dan Tinjauan Posko Bencana
Menyadari dampak psikologis pascabencana, UPI YPTK turut menghadirkan program trauma healing yang melibatkan dosen dan praktisi psikologi anak, mahasiswa Fakultas Psikologi, serta tokoh agama. Program ini menyasar anak-anak dan keluarga terdampak di berbagai lokasi pengungsian.
Rangkaian kunjungan ditutup dengan peninjauan langsung posko bencana UPI YPTK untuk memastikan penyaluran bantuan berjalan efektif dan tepat sasaran. Dalam kesempatan tersebut, Rektor UPI YPTK menegaskan pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar, terutama makanan bergizi, agar daya tahan fisik masyarakat tetap terjaga di tengah keterbatasan pascabencana.
Melalui kebijakan “Diktisaintek Berdampak”, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya untuk terus mendorong perguruan tinggi agar tidak hanya menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga hadir sebagai simpul solidaritas, pusat layanan kemanusiaan, serta motor penggerak pemulihan sosial bagi masyarakat terdampak bencana.[]











