Kampusdaily.com – Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini terus membuka peluang baru di dunia pendidikan. Tidak hanya mempermudah proses belajar, teknologi juga mulai dikembangkan untuk menjembatani hambatan komunikasi dan menciptakan ruang belajar yang lebih inklusif.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh tim mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) melalui VERO atau Voice Recognition and Openness. Alat yang lahir dari Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) ini dirancang untuk membantu menjembatani komunikasi antara teman tuli, teman dengar, dan dosen di lingkungan perguruan tinggi.
Tim pengembang VERO terdiri dari mahasiswa Fakultas Vokasi dan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya. Melalui perpaduan teknologi AI dan sistem pembelajaran digital, mereka berupaya menghadirkan inovasi yang dapat mengurangi hambatan komunikasi dalam kegiatan akademik.
VERO Hadir sebagai Jembatan Komunikasi di Ruang Kuliah
Ketua tim, Daffa Ahmad Al Attas, menjelaskan bahwa VERO dirancang sebagai inovasi pembelajaran berbasis AI yang berfokus pada kebutuhan komunikasi teman tuli dengan dosen maupun lingkungan sekitarnya.
“VERO merupakan inovasi berbasis AI untuk membantu pembelajaran bagi teman tuli dengan dosen,” ujar mahasiswa D3 Teknologi Informasi FV UB tersebut.
VERO dikembangkan dalam bentuk Learning Management System (LMS) yang dilengkapi sejumlah fitur pendukung. Di antaranya penerjemahan bahasa isyarat menjadi teks, speech-to-text, text-to-speech, digital whiteboard, hingga ruang diskusi daring.
Kehadiran berbagai fitur tersebut diharapkan mampu membuat proses komunikasi dalam pembelajaran menjadi lebih terbuka dan mudah diakses. Dengan begitu, teman tuli dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih setara di lingkungan perguruan tinggi.
Uji Coba Dilakukan di Tiga Perguruan Tinggi
Pengembangan VERO tidak berhenti pada tahap perancangan. Saat ini, sistem tersebut telah memasuki tahap uji coba di tiga perguruan tinggi, yakni Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
“VERO masih dalam tahap uji coba LMS dan perangkat kamera, uji coba ini melibatkan tiga perguruan tinggi,” tambah Daffa.
Rangkaian uji coba LMS telah dilakukan sejak 30 Juli 2026 di UB, kemudian pada 1 Agustus uji coba di UM. Selanjutnya pengujian kamera VERO dilakukan di UB pada 19 Agustus 2026 dan 20 Agustus 2026 di UM. Terakhir, pengujian LMS dan kamera VERO dilakukan di UNESA pada 21 Agustus 2026.
Pelaksanaan uji coba di beberapa kampus tersebut menjadi bagian penting dalam proses pengembangan. Setiap lokasi memberikan pengalaman dan perspektif berbeda yang dapat digunakan tim untuk menemukan kekurangan sekaligus memperbaiki performa sistem.
Daffa mengatakan, berbagai masukan dari peserta menjadi modal penting agar VERO dapat terus dikembangkan sesuai kebutuhan pengguna.
“Masukan dari peserta menjadi bahan evaluasi tim untuk mengetahui sejauh mana VERO dapat memberikan manfaat sekaligus mengidentifikasi fitur atau sistemnya,” tambahnya.
Respons Positif hingga Catatan untuk Penyempurnaan
Dalam proses pengujian, para peserta mendapat kesempatan mencoba VERO secara langsung. Respons yang muncul pun beragam, mulai dari rasa kagum terhadap kemampuan teknologi hingga sejumlah masukan terkait tingkat akurasi sistem.
Salah satu peserta uji coba dari FV UB, Fajrul, mengaku mendapat pengalaman baru dalam memahami hubungan antara teknologi, coding, dan bahasa isyarat.
“Saya terkejut, ternyata coding-nya bisa masuk jadi data dan bisa jadi bahasa isyarat A-Z, tadi isyarat abjad A, B, C itu bisa muncul di layar dengan gestur tangan ” imbuhnya.
Menurut Fajrul, VERO berpotensi membantu teman tuli maupun teman dengar dalam memahami komunikasi. Meski demikian, ia juga memberikan evaluasi karena sistem masih belum sepenuhnya menampilkan hasil yang sesuai dengan isyarat yang diberikan.
Peserta lainnya, mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB, Alfath, juga menilai uji coba tersebut memberikan pengalaman baru dalam mempelajari bahasa isyarat melalui bantuan teknologi.
“Aku merasa belajar VERO ini senang, tapi kesesuaian antara abjad, kata, dan hasil yang ditampilkan sistem dapat terus diperbaiki,” ungkapnya.
Masukan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan pengembangan VERO. Bagi tim mahasiswa UB, respons positif bukan berarti inovasi telah selesai. Sebaliknya, setiap kendala yang ditemukan justru menjadi bahan untuk menyempurnakan sistem.
Menuju Teknologi Pembelajaran yang Lebih Responsif
Ke depan, tim PKM-KC akan terus melakukan penyempurnaan terhadap LMS maupun perangkat kamera VERO. Pengembangan dilakukan agar sistem menjadi semakin responsif, akurat, mudah digunakan, dan mampu menjawab kebutuhan komunikasi dalam proses pembelajaran.
Inovasi ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya dapat digunakan untuk mengejar kecanggihan. Ketika dikembangkan dengan memahami kebutuhan pengguna, teknologi juga dapat menjadi jembatan untuk membuka akses pendidikan yang lebih setara.
Melalui VERO, tim mahasiswa Universitas Brawijaya mencoba menghadirkan ruang pembelajaran yang tidak meninggalkan siapa pun. Dari pengenalan suara, teks, hingga bahasa isyarat, teknologi tersebut diarahkan untuk membuat komunikasi di kampus menjadi lebih terbuka dan inklusif.
Sumber Berita: timesindonesia.co.id

















