Kolaborasi Dabeeo-IPB Hadirkan Teknologi AI Canggih untuk Pantau Kesehatan Sawit

ikon kampus daily

Rabu, 15 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

dok. industri.kontan.co.id

dok. industri.kontan.co.id

PT Dabeeo Artificial Intelligence Indonesia menjalin kolaborasi strategis dengan IPB University untuk mengembangkan teknologi pendeteksi kekurangan nutrisi tanaman kelapa sawit berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan citra satelit beresolusi tinggi. Kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam mendorong transformasi digital di sektor perkebunan melalui pemanfaatan teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi pemantauan sekaligus mendukung pengelolaan tanaman secara lebih presisi.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Executive Vice President Dabeeo, Chang Hoon Moon, dan Kepala LRI Teknologi Maju IPB University, Anas Miftah Fauzi. Melalui kesepakatan ini, kedua pihak berkomitmen menggabungkan kekuatan riset akademik dengan teknologi industri guna menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan secara nyata di sektor perkebunan kelapa sawit.

Kolaborasi Riset untuk Perkebunan Modern

Penggunaan teknologi digital dalam industri perkebunan kini menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Luasnya area perkebunan sawit di Indonesia membuat proses pemantauan secara manual membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, kehadiran sistem berbasis AI yang dipadukan dengan citra satelit diharapkan mampu memberikan solusi yang lebih efektif.

Dalam kerja sama ini, Dabeeo akan memberikan dukungan berupa penyediaan data citra satelit beresolusi tinggi serta pendanaan akuisisi data yang diperlukan selama proses penelitian berlangsung. Dukungan tersebut menjadi fondasi penting bagi tim peneliti IPB University untuk mengembangkan model analisis yang akurat dan mampu menghasilkan rekomendasi pengelolaan tanaman secara lebih tepat.

Head of Business Development Dabeeo Indonesia, Rizky Dantri, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung kebutuhan riset tersebut.

“Jika penelitian membutuhkan penggunaan satelit, kami siap menyediakannya,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (15/7/2026).

Pernyataan tersebut menunjukkan kesiapan Dabeeo untuk menyediakan infrastruktur teknologi yang dibutuhkan agar penelitian dapat berjalan secara optimal.

Baca Juga :  Wamenkomdigi: Indonesia Terbuka untuk Pembangunan Industri AI

Memanfaatkan AI dan Citra Satelit

Teknologi yang sedang dikembangkan mengombinasikan kemampuan kecerdasan buatan dengan citra satelit beresolusi tinggi untuk mendeteksi kekurangan nutrisi tanaman kelapa sawit tanpa harus bergantung sepenuhnya pada inspeksi visual di lapangan.

Pendekatan ini memungkinkan identifikasi kondisi tanaman dilakukan secara lebih cepat dan mencakup area perkebunan yang sangat luas. AI akan menganalisis pola-pola tertentu yang muncul pada citra satelit sehingga gejala kekurangan unsur hara dapat dikenali sejak tahap awal.

Selain mendeteksi kekurangan nutrisi, sistem ini juga dirancang untuk membantu mengidentifikasi potensi penyakit tanaman. Dengan demikian, pengelola perkebunan dapat mengambil langkah penanganan lebih cepat sebelum kerusakan meluas dan berdampak terhadap produktivitas.

Pemanfaatan teknologi ini juga diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi pemupukan yang lebih akurat sehingga penggunaan pupuk menjadi lebih efisien, biaya operasional dapat ditekan, dan dampak terhadap lingkungan dapat diminimalkan.

Perluas Pemanfaatan Teknologi Satelit

Bagi Dabeeo, proyek bersama IPB University merupakan bagian dari strategi memperluas penerapan teknologi citra satelit di sektor agroforestri Indonesia.

Perusahaan diketahui telah mengomersialkan layanan citra satelit dengan resolusi hingga 30 sentimeter. Tingkat ketelitian tersebut memungkinkan berbagai objek di lapangan dapat diamati secara lebih detail dibandingkan citra satelit konvensional.

Saat ini Dabeeo mengoperasikan dua satelit yang difokuskan untuk pemantauan perkebunan, sementara tujuh satelit lainnya melayani kebutuhan berbagai sektor industri.

Melalui teknologi tersebut, pengguna tidak hanya dapat memantau kondisi tanaman, tetapi juga memperoleh berbagai informasi penting seperti tingkat kepadatan pohon, kondisi tutupan tajuk (canopy), hingga perubahan vegetasi melalui fitur change detection.

Fitur tersebut sangat membantu perusahaan perkebunan dalam memantau perkembangan lahan secara berkala tanpa harus melakukan survei lapangan yang memakan waktu.

IPB University Kembangkan Model Analisis Baru

Sementara itu, IPB University akan berfokus pada pengembangan model analisis yang akan melengkapi teknologi Precipalm, sebuah sistem rekomendasi pemupukan kelapa sawit berbasis analisis citra daun yang telah dikembangkan sebelumnya.

Baca Juga :  IPB University Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi di Jepang

Melalui penelitian terbaru ini, kemampuan Precipalm diharapkan semakin meningkat karena memperoleh tambahan data dari citra satelit yang dianalisis menggunakan kecerdasan buatan.

Integrasi kedua teknologi tersebut akan menghasilkan sistem pemantauan kesehatan tanaman yang lebih komprehensif. Sistem tidak hanya mengandalkan analisis kondisi daun, tetapi juga memanfaatkan informasi spasial dari citra satelit untuk memberikan gambaran kondisi perkebunan secara menyeluruh.

Dengan pendekatan tersebut, gejala kekurangan nutrisi dapat diketahui lebih dini sehingga tindakan korektif dapat segera dilakukan sebelum memengaruhi hasil produksi.

Mendukung Pertanian Presisi

Pengembangan teknologi ini sejalan dengan konsep pertanian presisi (precision agriculture) yang kini mulai banyak diterapkan di berbagai negara.

Melalui pendekatan tersebut, setiap keputusan dalam pengelolaan lahan didasarkan pada data yang akurat, mulai dari kebutuhan pupuk, kondisi tanah, kesehatan tanaman, hingga potensi serangan penyakit.

Pendekatan berbasis data diyakini mampu meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya sekaligus meningkatkan produktivitas perkebunan.

Bagi Indonesia sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia, inovasi seperti ini menjadi sangat penting untuk menjaga daya saing industri sekaligus mendukung praktik budidaya yang lebih berkelanjutan.

Perkuat Sinergi Akademisi dan Industri

Dalam kesempatan yang sama, sejumlah peneliti IPB University juga memaparkan berbagai hasil penelitian yang telah dikembangkan bersama mitra industri. Presentasi tersebut menunjukkan semakin eratnya kolaborasi antara dunia akademik dan sektor industri dalam menciptakan inovasi berbasis kebutuhan lapangan.

Sinergi seperti ini diharapkan mampu mempercepat proses hilirisasi hasil penelitian sehingga teknologi yang dihasilkan tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan pelaku usaha.

Kolaborasi antara Dabeeo dan IPB University menjadi contoh bagaimana perpaduan antara kecanggihan teknologi AI, citra satelit, dan keahlian akademik dapat menghasilkan solusi inovatif bagi sektor pertanian dan perkebunan. Dengan sistem pemantauan yang lebih cepat, akurat, dan efisien, pengelolaan perkebunan kelapa sawit di masa depan diharapkan semakin produktif sekaligus mendukung praktik pertanian yang lebih modern dan berkelanjutan.

Jika diinginkan, saya juga dapat membuat 3 judul SEO, meta deskripsi, dan tags untuk artikel ini.

Follow WhatsApp Channel kampusdaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kirim Artikel atau Tugas Paper Mahasiswa ke Media Online. Ini Caranya!
Begini Cara Siswi Thamavitya Mulniti School Jatuh Cinta pada Bahasa Arab
Perkuat Keluarga Sakinah, FH UNY dan ‘Aisyiyah Sewon Utara Gelar Edukasi KDRT
PKKMB UNTIRTA 2026 Resmi Dimulai, Jawara Muda Dibekali Nilai Kampus hingga Literasi Teknologi
Kunjungan Literasi di Kademangan, Mahasiswa UM Ajak Anak Membaca Sambil Berkreasi
Tim IPB Temukan Prediksi Fenomena Kuantum Baru dari Celah Ganda
Mahasiswa KKN UB Ajarkan Petani Milenial Produksi Agens Hayati untuk Pertanian Berkelanjutan
Perjuangan di Balik IPK 3,99: Mahasiswa KIP-K UIJ Buktikan Keterbatasan Bukan Halangan

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 21:30 WIB

Kirim Artikel atau Tugas Paper Mahasiswa ke Media Online. Ini Caranya!

Rabu, 12 Agustus 2026 - 19:36 WIB

Begini Cara Siswi Thamavitya Mulniti School Jatuh Cinta pada Bahasa Arab

Rabu, 12 Agustus 2026 - 12:39 WIB

Perkuat Keluarga Sakinah, FH UNY dan ‘Aisyiyah Sewon Utara Gelar Edukasi KDRT

Selasa, 11 Agustus 2026 - 20:24 WIB

PKKMB UNTIRTA 2026 Resmi Dimulai, Jawara Muda Dibekali Nilai Kampus hingga Literasi Teknologi

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:07 WIB

Tim IPB Temukan Prediksi Fenomena Kuantum Baru dari Celah Ganda

Berita Terbaru