Portal Mahasiswa | Di era digitalisasi saat ini, media massa sangat merubah kehidupan bermasyarakat, terutama peda pendidikan karakter. Hampir seluruh lapisan dunia mengakses media massa sebagai sarana untuk mencari informasi, pendidikan, maupun hiburan. Jika dahulu pendidikan hanya berpusat pada guru, saat ini pendidikan sudah bisa diperoleh dari berbagai sumber, termasuk media massa dan digital. Dengan ini, masyarakat menganggap bahwa semua informasi yang disebarkan melalui media massa dapat dijadikan sebagai sumber pembelajran. Namun menurut saya, sehebat apapun media massa berkembang, ia tidak akan mampu untuk mengalahkan dan menggantikan pendidikan karakter yang diberikan di sekolah maupun keluarga.
Media mungkin memberikan banyak informasi dan pengetahuan. Siapapun dapat belajar melalui artikel maupun konten edukatif yang tersedia di internet. Namun, hal ini tidak cukup untuk dijadikan sumber utama pendidikan karakter yang baik. Karena di balik itu, media tidak hanya menyajikan konten yang bersifat positif saja, melainkan juga terdapat konten-konten negatif yang kemudian berpengaruh kepada karakter dan perilaku masyarkat, terutama generasi muda saat ini.
Pendidikan karakter yang efektif membutuhkan human touch atau sentuhan manusia. Karakter bukan hanya sekedar produk yang diuji di atas kertas. Karakter adalah kebiasaan yang dibentuk melalui disiplin, koreksi langsung, kasih sayang, dan interaksi sosial yang nyata. Dengan ini, maka figur guru dan orang tua masih berperan penting bagi pembentukan karakter yang baik.
Namun, apakah media massa harus dihapuskan? Jawabannya adalah tidak. Dalam kondisi seperti ini, bukan berarti media massa harus dihapuskan ataupun dimusuhi. Karena pada dasarnya media massa dan pendidikan karakter adalah dua hal yang memiliki fungsi yang berbeda. Pendidikan karakter bukan hanya sekedar tranfer informasi, melainkan juga sebuah proses internalisasi nilai yang yang tidak pernah bisa digantikan oleh layar kaca.
Maka dari itu, perlu adanya keseimbangan dalam pengguanaan teknologi yang semakin hari semakin canggih. Kita juga harus tahu batasan-batasan apa saja yang tidak boleh dilalui. Sekolah dan keluarga juga harus menjadi filter utama . Orang tua dan pendidik perlu mendampingi anak-anaknya saat berselancar dengan media massa, dengan mendiskusikan apa yang mereka tonton dan meluruskan persepsi apabila terdapat nilai-nilai yang bersimpangan.[]











