Portalmahasiswa.com – Anggapan bahwa kolesterol tinggi selalu dipicu oleh konsumsi makanan berlemak ternyata tidak sepenuhnya benar. Di balik kondisi tersebut, terdapat berbagai faktor lain yang turut berperan, termasuk kelainan genetik yang dapat menyebabkan kadar kolesterol meningkat sejak usia muda.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Christy Efiyanti, SpPD, menjelaskan bahwa kadar kolesterol seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor dan tidak hanya ditentukan oleh makanan yang dikonsumsi sehari-hari.
Familial Hypercholesterolemia, Kelainan Genetik yang Perlu Diwaspadai
Menurut Christy, salah satu penyebab kolesterol tinggi yang sering luput dari perhatian adalah faktor keturunan. Pada sebagian orang, kadar kolesterol yang tinggi terjadi akibat kelainan genetik yang diwariskan dalam keluarga.
Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah familial hypercholesterolemia, yakni kelainan genetik yang menyebabkan kadar kolesterol tinggi sejak usia muda.
Kondisi ini berbeda dengan kolesterol tinggi yang muncul akibat pola hidup tidak sehat. Penderita familial hypercholesterolemia dapat memiliki kadar kolesterol tinggi meski belum memasuki usia lanjut dan tidak selalu dipicu oleh konsumsi makanan tinggi lemak.
Karena itu, menurut Christy, tidak semua kasus kolesterol tinggi dapat dijelaskan hanya dari kebiasaan makan atau aktivitas sehari-hari.
Gaya Hidup Tetap Menjadi Faktor Penting
Meski faktor genetik berperan besar, Christy menegaskan bahwa gaya hidup tetap menjadi salah satu penentu utama kadar kolesterol.
Pola makan tinggi lemak, kurang aktivitas fisik, obesitas, kebiasaan merokok, hingga konsumsi alkohol diketahui dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi.
Namun demikian, faktor-faktor tersebut bukanlah satu-satunya penyebab. Sejumlah kondisi medis juga dapat memengaruhi metabolisme tubuh sehingga berdampak pada peningkatan kadar kolesterol dalam darah.
Beberapa di antaranya adalah diabetes, gangguan ginjal, penyakit hati, serta gangguan tiroid.
“Usia dan jenis kelamin juga dapat memengaruhi kadar kolesterol seseorang,” ujarnya.
Mitos Golongan Darah dan Kolesterol Masih Belum Terbukti
Belakangan beredar anggapan bahwa golongan darah tertentu, terutama golongan darah O, lebih rentan mengalami kolesterol tinggi.
Namun, Christy menegaskan bahwa hingga saat ini bukti ilmiah mengenai hubungan antara golongan darah dan kadar kolesterol masih belum menunjukkan hasil yang konsisten. Karena itu, risiko kolesterol tinggi sebaiknya tidak dikaitkan hanya dengan jenis golongan darah.
Ia mengingatkan masyarakat untuk lebih memperhatikan faktor risiko yang telah terbukti secara ilmiah, seperti riwayat keluarga, pola hidup, serta kondisi kesehatan yang dimiliki. Pemeriksaan kesehatan secara berkala juga penting dilakukan agar kadar kolesterol dapat dipantau dan ditangani sejak dini apabila terjadi peningkatan.
Sumber Berita: health.kompas.com











