Portalmahasiswa.com – Bagi sebagian orang, pagi dimulai ketika matahari terbit. Namun bagi seorang penjual tempe, pekerjaan justru dimulai jauh sebelum itu. Saat jalanan masih sepi dan sebagian besar warga masih beristirahat, ia sudah sibuk menyiapkan dagangannya untuk dijual kepada pelanggan.
Rutinitas tersebut sudah dijalani bertahun-tahun tanpa banyak berubah. Ketika ditanya jam berapa dirinya mulai bekerja, “Iya, jam 02.00 pagi, Sampai jam 06.00 pagi.” Ujar bapak Maryono.
Waktu dini hari menjadi saat paling penting karena tempe harus siap sebelum para pembeli datang, baik dari kalangan rumah tangga maupun pedagang makanan.
Usaha tempe yang terlihat sederhana ternyata memiliki proses panjang dan membutuhkan kedisiplinan tinggi. Tidak hanya soal membuat tempe, tetapi juga menjaga pelanggan agar tetap percaya pada kualitas dagangannya setiap hari.
Pelanggan Datang dari Berbagai Kalangan
Tempe menjadi salah satu makanan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, pembelinya berasal dari banyak kalangan. Ada ibu rumah tangga yang membeli untuk lauk sehari-hari, pedagang keliling, hingga pemilik warung makan.
Dalam wawancara tersebut, Istri Bapak Maryono mengatakan, “Ya kalau konsumen, ya campur sudah itu wis. Ada yang, yang keliling, ada yang konsumen rumah tangga, ada juga itu warung-warung lalapan pinggir jalan itu. Gitu. Yang banyak lalapannya saya sama yang keliling.” Ujar Ibu Misriya Istri dari Bapak Maryono.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa tempe bukan hanya makanan rumahan, tetapi juga menjadi kebutuhan penting bagi usaha kuliner kecil. Banyak warung lalapan dan pedagang kaki lima mengandalkan tempe sebagai menu pendamping karena harganya terjangkau dan digemari banyak orang.
Pembungkus Tempe yang Ikut Mengalami Perubahan
Selain proses pembuatan, hal lain yang menarik adalah soal pembungkus tempe. Saat ini, sebagian besar tempe menggunakan plastik. Namun untuk jenis tertentu, daun masih dipakai sebagai pembungkus tradisional.
Penjual tersebut menjelaskan, “Saya pakai plastik. Yang pakai daun itu kalau yang ada kulitnya. Pasti kalau yang ada kulitnya itu, pakai daun itu.”
Penggunaan daun sebenarnya dianggap lebih hemat. Ia bahkan mengungkapkan bahwa harga plastik mengalami kenaikan dibanding sebelumnya. “Padahal kalau pakai daun, murah daun. Plastik malah dua kali lipat naiknya. Biasanya 10 sekarang 20.”
Kenaikan harga bahan pendukung seperti plastik menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha kecil. Walaupun terlihat sederhana, perubahan harga tersebut tetap memengaruhi biaya produksi sehari-hari.
Di sisi lain, penggunaan daun juga masih dipertahankan karena dianggap memberi ciri khas tersendiri pada tempe. Aroma daun sering kali membuat tempe terasa lebih alami dan tradisional.
Proses Pembuatan yang Membutuhkan Kesabaran
Banyak orang mungkin mengira tempe bisa langsung dijual setelah dibuat. Padahal proses produksinya memerlukan waktu cukup lama. Dari kedelai mentah hingga menjadi tempe siap konsumsi, semuanya membutuhkan tahapan yang tidak singkat.
Sang penjual menjelaskan, “Tempe itu dari proses penggilingan itu 3 hari jadinya. Makanya modalnya tempe itu harus tiga, punya modal tiga.”
Ia kemudian menerangkan bahwa stok kedelai harus tersedia dalam jumlah cukup agar produksi tetap berjalan lancar. “Nah, maksudnya punya modal tiga, kalau punya modal gini, satu kuintal harus punya tiga kuintal, gitu. Kalau ada persiapan untuk besok, punya empat kuintal, gitu. Kalau cuma tiga kuintal, nunggu datangnya jual, yang mau beli, yang mau yang mau direbus itu.”
Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa usaha tempe membutuhkan perencanaan yang matang. Pengrajin tidak bisa hanya memikirkan penjualan hari ini, tetapi juga harus menyiapkan produksi untuk beberapa hari berikutnya.
Bahan baku kedelai sendiri dibeli dari toko langganan yang sudah dipercaya sejak lama. Hubungan dengan pemasok menjadi bagian penting agar kualitas kedelai tetap terjaga.
Usaha Turun-Temurun yang Tetap Dipertahankan
Di balik usaha tempe ini, ada cerita tentang tradisi keluarga yang masih dipertahankan hingga sekarang. Sang penjual mengaku sudah mengenal pekerjaan tersebut sejak kecil karena diwariskan oleh orang tuanya.
Ia mengatakan, “Memang saya hobi, ya pengrajinnya tempe sejak dulu. Saya turun-temurun ini.”
Kemudian ia menambahkan lagi, “dari orang tua dulu.”
Kalimat sederhana itu menunjukkan bahwa usaha tempe bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari warisan keluarga. Keahlian membuat tempe diwariskan dari generasi ke generasi dan tetap bertahan sampai saat ini.
Kisah penjual tempe tersebut memperlihatkan bahwa di balik makanan sederhana yang sering ditemui sehari-hari, terdapat kerja keras, ketekunan, dan pengalaman panjang yang jarang diketahui banyak orang.











