Portalmahasiswa – Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (Maskam UGM) tidak hanya menjadi pusat ibadah dan pengembangan ilmu keislaman. Melalui Rumah Zakat Infaq Sedekah (RZIS) Universitas Gadjah Mada, masjid kampus ini juga menjalankan misi sosial dengan membantu mahasiswa dari keluarga kurang mampu agar dapat menyelesaikan pendidikan tanpa terbebani persoalan ekonomi.
Sejak berdiri pada 2008, RZIS UGM secara konsisten mengelola program beasiswa yang tidak hanya memberikan bantuan biaya hidup, tetapi juga membentuk karakter penerima melalui kegiatan kerelawanan dan pengabdian kepada masyarakat.
Berawal dari Kepedulian terhadap Mahasiswa Kurang Mampu
Wakil Direktur sekaligus Manajer Operasional RZIS UGM, Taufikur Rahman, S.E., M.B.A., Ak., CA., menjelaskan bahwa program beasiswa lahir dari kepedulian terhadap mahasiswa penerima Bidikmisi yang kini dikenal sebagai KIP Kuliah—yang saat itu hanya memperoleh pembebasan biaya pendidikan tanpa dukungan biaya hidup.
“Pada tahun 2008 banyak mahasiswa dari keluarga kurang mampu berhasil masuk UGM, tetapi mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dari situlah Rektor UGM saat itu, almarhum Prof. Dr. Sukadji, bersama Prof. Ainun Na’im menginisiasi pembentukan lembaga zakat di UGM,” ujar Taufik.
Di bawah naungan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, RZIS UGM menghimpun dana zakat dari dosen, tenaga kependidikan, alumni, masyarakat umum, hingga jamaah Masjid Kampus UGM. Selama hampir dua dekade, program tersebut terus berjalan tanpa terputus.
Bantu Sekitar 200 Mahasiswa Setiap Semester
Setiap semester, RZIS UGM rata-rata menyalurkan bantuan kepada sekitar 200 mahasiswa. Jumlah penerima tidak ditentukan berdasarkan kuota tetap, melainkan menyesuaikan besarnya dana zakat yang berhasil dihimpun.
“Semakin besar dana zakat yang terkumpul, semakin banyak mahasiswa yang dapat kami bantu,” kata Taufik.
Persyaratan beasiswa pun dibuat sederhana agar mudah diakses. Mahasiswa aktif jenjang sarjana maupun diploma empat hanya perlu menunjukkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Tidak ada syarat indeks prestasi kumulatif (IPK) maupun batas semester.
Menurut Taufik, pendekatan ini dilakukan agar mahasiswa yang benar-benar membutuhkan dapat memperoleh kesempatan melanjutkan studi.
Tak Sekadar Beasiswa, Mahasiswa Didorong Menjadi Relawan
Yang membedakan program RZIS UGM dengan beasiswa lainnya adalah keterlibatan aktif para penerima sebagai relawan sosial. Mahasiswa tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga diajak turun langsung melayani masyarakat.
“Kami tidak ingin mahasiswa hanya menjadi penerima manfaat. Mereka juga kami dorong menjadi relawan sehingga dapat memberi manfaat bagi masyarakat melalui tenaga, waktu, dan kepedulian yang mereka miliki,” jelasnya.
Para relawan secara rutin mengunjungi keluarga penerima bantuan untuk menyalurkan paket sembako sekaligus memantau kondisi kesehatan dan kesejahteraan mereka. Jika ditemukan kebutuhan khusus, seperti kursi roda, alat bantu dengar, kepesertaan BPJS, maupun rujukan ke Rumah Sakit Akademik UGM, relawan akan melaporkannya agar segera ditindaklanjuti.
“Kami ingin mahasiswa belajar langsung memahami kondisi masyarakat. Kalau ditemukan kebutuhan khusus, misalnya kursi roda, alat bantu dengar, BPJS, atau rujukan ke Rumah Sakit Akademik UGM, relawan akan melaporkan kepada kami agar dapat ditindaklanjuti,” tutur Taufik.
Hadirkan Program Rescue hingga Dorong UMKM Lokal
Selain beasiswa reguler, RZIS UGM juga menjalankan Program Rescue bagi mahasiswa yang masa bantuan KIP Kuliahnya telah berakhir, tetapi belum menyelesaikan studi.
Besaran bantuan yang diberikan bervariasi. Mahasiswa penerima KIP Kuliah memperoleh tambahan biaya hidup sekitar Rp150.000 hingga Rp250.000 per bulan, sedangkan penerima beasiswa reguler menerima bantuan sekitar Rp350.000 hingga Rp500.000 per bulan selama satu semester. Perpanjangan bantuan dilakukan melalui evaluasi sederhana menggunakan Kartu Hasil Studi (KHS).
Tak hanya itu, RZIS UGM juga menyediakan bantuan bagi mahasiswa yang mengalami kondisi darurat, seperti musibah, kebutuhan biaya pulang kampung, hingga persoalan pinjaman daring.
Dalam penyaluran bantuan sosial, RZIS menerapkan pendekatan pemberdayaan ekonomi. Paket sembako dibeli dari warung dan toko kecil di sekitar tempat tinggal penerima manfaat sehingga dana zakat turut menggerakkan perekonomian lokal dan mendukung pelaku UMKM.
Siapkan Lembaga Wakaf dan Perluas Dukungan Mahasiswa
Ke depan, RZIS UGM tengah mempersiapkan pembentukan lembaga wakaf yang akan memperoleh legalitas dari Kementerian Agama dan Badan Wakaf Indonesia (BWI). Aset wakaf tersebut nantinya akan dimanfaatkan untuk pembangunan asrama mahasiswa serta Rumah Al-Qur’an.
Saat ini, RZIS UGM juga telah mengelola tiga asrama mahasiswa yang berada di kawasan Pogung Dalangan, Pogung Kidul, dan Klebengan. Fasilitas tersebut diperuntukkan bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan ekonomi dan membutuhkan tempat tinggal yang lebih dekat dengan kampus.
Menutup keterangannya, Taufik berharap semakin banyak mahasiswa mengetahui keberadaan program beasiswa RZIS UGM sehingga tidak ada lagi mahasiswa yang terhambat menyelesaikan pendidikan akibat kendala biaya.
“Masih banyak mahasiswa yang membutuhkan bantuan tetapi belum mengetahui informasi beasiswa ini. Karena itu kami berharap publikasi mengenai pembukaan beasiswa RZIS UGM dapat menjangkau lebih banyak mahasiswa agar kesempatan ini bisa dimanfaatkan secara optimal,” pungkasnya.
Sumber Berita: ugm.ac.id











