Terlalu Cepat Berkomentar, Terlalu Lambat Memahami

Alexander Christov Nady Utomo (Mahasiswa Universitas Pamulang)

ikon kampus daily

Minggu, 28 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Portal Mahasiswa | Pernahkan melihat sebuah unggahan viral di media sosial, lalu tanpa sadar langsung ikut memberi penilaian? Kenyataannya, fenomena semacam ini sudah menjadi hal lumrah di era digital seperti sekarang. Hanya dari melihat potongan video atau membaca satu unggahan saja, banyak pengguna merasa paling tahu tentang keseluruhan ceritanya. Akibatnya, kolom komentar sering kali penuh dengan pendapat yang kurang sesuai dengan fakta.

Tanpa disadari, kebiasaan kecil ini jadi salah satu tantangan yang cukup berdampak dalam arus komunikasi. Adanya kemajuan teknologi sebenarnya memang memudahkan pengguna untuk mengakses berbagai informasi. Hanya saja, banyak di antara pengguna terlalu cepat bereaksi tanpa memeriksa faktanya terlebih dahulu. Terlalu buru-buru ingin mengungkapkan argumen pribadi tanpa mencoba memahami fakta yang sebenarnya sedang terjadi.

Pada dasarnya, media sosial hadir untuk memudahkan komunikasi antar pengguna. Kenyataannya, tidak sedikit pengguna yang justru memanfaatkannya sebagai wadah untuk meluapkan emosi sesaat. Saat menemui pendapat yang bertentangan dengan argumen pribadinya, sebagian pengguna langsung memberikan komentar yang begitu pedas. Tidak peduli apa pun alasan di balik pendapat tersebut.

Sebagai salah satu pengguna media sosial, penulis cukup sering melihat bagaimana sebuah unggahan bisa memicu perdebatan panjang di kolom komentar. Mayoritas pengguna menuliskan pendapat hanya berdasarkan informasi yang diperoleh pada detik-detik pertama saja. Padahal, belum tentu informasi yang dilihat sudah lengkap dan sesuai dengan fakta aslinya. Misalnya saja, terdapat satu potongan video yang sedang viral dan memancing begitu banyak komentar negatif. Setelah videonya lengkap atau penjelasan dari pihak terkait muncul ke permukaan, ternyatanya konteks kejadiannya sangat berbeda dengan perkiraan awal pengguna. Kejadian semacam ini sangatlah disayangkan. Kebanyakan komentar negatif yang pengguna tulis sudah menimbulkan dampak signifikan bagi beberapa pihak terkait.

Baca Juga :  Strategi Pengelolaan Risiko pada Infrastruktur Teknologi Informasi di Kantor

Dampak Kesalahpahaman dalam Komunikasi

Kebiasaan menilai sesuatu tanpa memahami fakta sebenarnya ternyata tidak hanya terjadi di media sosial saja. Banyak konflik sehari-hari yang muncul karena sebuah kesalahpahaman kecil. Baik di lingkungan keluarga, pertemanan, bahkan kampus. Seseorang bisa merasa tersinggung akibat pendapatnya disalahartikan oleh orang lain.

Penulis sendiri meyakini bahwa kebiasaan menyimpulkan langsung suatu hal merupakan fenomena yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Terkadang seseorang mendapat julukan sombong, kurang peduli, atau tidak menghargai hanya karena kesalahpahaman. Padahal, kesalahpahaman kecil ini dapat terselesaikan jika kedua belah pihak mengutamakan komunikasi yang baik. Apabila masing-masing pihak saling mempertahankan ego pribadi, konflik kecil pun berpotensi berkembang menjadi masalah yang besar.

Situasi semacam ini menunjukkan bahwa pengguna media sosial lebih tertantang untuk memberikan tanggapan paling cepat ketimbang memahaminya terlebih dulu. Padahal, komunikasi yang baik tidak hanya berkaitan dengan kegiatan berbicara saja. Inti utama dalam sebuah komunikasi juga perlu mengutamakan kegiatan mendengar pendapat dari orang lain. Pengguna media sosial berkesempatan untuk memahami keadaan yang sebenarnya jika mendengarnya dahulu. Jangan mudah “menyimpulkan”, tapi utamakan untuk “mendengarkan”.

Baca Juga :  Cara Kita Berbicara, Cara Kita Dipahami

Pentingnya Empati dan Kebiasaan Mendengarkan

Empati merupakan salah satu kunci penting untuk memperbaiki kualitas komunikasi, terutama di media sosial. Tidak harus setuju dengan pendapat pengguna lainnya, cukup pahami dahulu beberapa sudut pandang yang berbeda. Jika mengutamakan empati, pengguna media sosial akan lebih berhati-hati dalam berbicara maupun menulis komentar.

Patut disayangkan, budaya komunikasi yang berkembang sekarang justru mendorong pengguna media sosial untuk memberi respons secepat mungkin. Banyak yang takut dicap kurang update hanya karena tidak berkomentar. Padahal, pengguna media sosial perlu bijak dan memegang prinsip bahwa tidak semua hal perlu dikomentari saat itu juga. Terkadang, meluangkan sedikit waktu untuk membaca informasi secara utuh justru meminimalisir munculnya kesalahpahaman.

Oleh karena itu, pengguna media sosial perlu mulai membiasakan diri untuk berpikir sebelum menuliskan sebuah komentar. Ada baiknya untuk melakukan refleksi diri terlebih dahulu sebelum menuliskan sesuatu di media sosial. Apakah informasinya sudah lengkap? Apakah pengguna benar-benar memahami persoalannya? Apakah komentar yang pengguna tulis akan memberikan manfaat atau justru memperkeruh suasana?

Pada akhirnya, komunikasi yang sehat tidaklah ditentukan dari seberapa cepat pengguna media sosial memberikan tanggapan. Justru komunikasi yang sehat lahir dari kemauan pengguna untuk mendengarkan, memahami, dan menghargai orang lain. Faktanya, kemampuan untuk memahami sebuah informasi tergolong ke dalam keterampilan yang begitu berharga. Khususnya di tengah derasnya arus informasi digital yang terus-menerus muncul.

Daftar Pustaka

  1. Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. Literasi Digital. Diakses Juni 2026.
  2. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Pengertian Komunikasi. Diakses Juni 2026.
Follow WhatsApp Channel kampusdaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perilaku Investor Individu dalam Mengelola Portofolio dan Aktivitas Trading di Era Digital
Memahami Logika Produsen di Balik Pasokan Pasar
Strategi Manajerial Kunci Bertahan dan Berkembang di Era Kompetisi Internasional
UMP dalam Menjaga Daya Beli Buruh vs Keberlanjutan Finansial Industri Padat Karya
Berbagai Isu Global dalam Perspektif Ekonommi, Sosial dan Lingkungan
Ketenagakerjaan di Indonesia dalam Perspektif Manajemen Hubungan Industrial
Mengapa Analisis Lingkungan Internal Menentukan Kesuksesan Strategi Perusahaan?
Manajemen Strategi dalam Aspek Pemasaran di Tengah Sentimen Sosial-Geopolitik

Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:36 WIB

Terlalu Cepat Berkomentar, Terlalu Lambat Memahami

Selasa, 23 Juni 2026 - 20:31 WIB

Perilaku Investor Individu dalam Mengelola Portofolio dan Aktivitas Trading di Era Digital

Senin, 22 Juni 2026 - 21:34 WIB

Memahami Logika Produsen di Balik Pasokan Pasar

Senin, 22 Juni 2026 - 17:07 WIB

Strategi Manajerial Kunci Bertahan dan Berkembang di Era Kompetisi Internasional

Senin, 22 Juni 2026 - 05:46 WIB

UMP dalam Menjaga Daya Beli Buruh vs Keberlanjutan Finansial Industri Padat Karya

Berita Terbaru