Portalmahasiswa.com – Persoalan sampah plastik yang terus meningkat mendorong lahirnya berbagai inovasi ramah lingkungan. Salah satunya datang dari Universitas Brawijaya (UB). Ketua Departemen Teknik Industri Program Studi Sarjana Teknik Industri UB, Prof. Sugiono, S.T., M.T., Ph.D., mengembangkan mesin pencetak lembaran plastik berbahan dasar sampah plastik dan akrilik yang berpotensi menjadi solusi pengolahan limbah bernilai ekonomi.
Inovasi tersebut kini telah memasuki tahap pengujian akhir untuk memastikan kualitas produk hasil daur ulang dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat maupun pelaku usaha kreatif.
Sampah Plastik Diolah Jadi Produk Fungsional
Mesin yang dikembangkan Prof. Sugiono dirancang untuk mengubah limbah plastik dan akrilik menjadi lembaran padat yang dapat digunakan kembali sebagai bahan berbagai produk kreatif.
“Lembaran ini nantinya bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan seperti kotak tisu, souvenir, hingga berbagai produk lainnya. Jadi tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga memiliki nilai ekonomi,” ujar Prof. Sugiono.
Menurutnya, pengembangan mesin ini berawal dari tingginya volume sampah plastik dan akrilik yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal. Di lingkungan kampus sendiri, limbah plastik dari aktivitas sehari-hari terus dihasilkan, sementara limbah akrilik banyak berasal dari laboratorium, percetakan, hingga pelaku UMKM souvenir.
Melalui proses pemanasan bertahap, sampah plastik dilelehkan lalu dicetak menggunakan sistem molding hingga menjadi lembaran plastik padat yang siap diolah kembali menjadi berbagai produk turunan.
Pengolahan Akrilik Jadi Fokus Baru
Tak hanya plastik, mesin tersebut juga mampu mengolah limbah akrilik yang selama ini kerap terabaikan. Padahal, material akrilik memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi apabila didaur ulang dengan tepat.
Prof. Sugiono menjelaskan, bentuk akhir produk sebenarnya bisa disesuaikan dengan jenis cetakan yang digunakan. Namun pada tahap awal, tim peneliti memilih memproduksi lembaran plastik karena lebih fleksibel dan mudah dikembangkan menjadi berbagai kebutuhan.
Ia menilai inovasi ini semakin relevan di tengah kenaikan harga bahan baku plastik dan akrilik yang terjadi belakangan ini.
Tahap Pengujian Hampir Rampung
Saat ini, pengembangan mesin telah mencapai sekitar 95 persen dan memasuki tahap testing atau pengujian kualitas. Proses tersebut dilakukan untuk memastikan hasil lembaran daur ulang memenuhi standar penggunaan serta aman diproses kembali menjadi produk lain.
“Mesin sudah selesai, tinggal testing untuk memastikan hasil lembarannya benar-benar bisa diproses lagi menjadi berbagai produk seperti souvenir dan kebutuhan lainnya,” jelasnya.
Dalam proses pengembangan, tim peneliti UB juga melibatkan mahasiswa magister Teknik Industri untuk membantu riset dan pengujian material hasil daur ulang.
Selain kualitas produk, pengujian turut difokuskan pada aspek kesehatan dan keselamatan kerja (K3) agar produk hasil olahan tetap aman digunakan masyarakat.
Dorong Ekonomi Sirkular di Lingkungan Kampus
Prof. Sugiono menegaskan bahwa inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya Universitas Brawijaya dalam membangun ekosistem circular economy atau ekonomi sirkular di lingkungan kampus.
Menurutnya, pengelolaan sampah seharusnya tidak berhenti pada proses pemilahan semata, tetapi juga harus mampu menghasilkan produk bernilai tambah yang bermanfaat secara ekonomi.
“Targetnya memang bagaimana sampah bisa diselesaikan sendiri dan value-nya bertambah. Jadi sampah tidak lagi hanya dibuang, tetapi bisa menjadi produk yang berguna,” katanya.
Dengan hadirnya mesin ini, UB berharap pengolahan limbah plastik dan akrilik tidak hanya membantu mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga membuka peluang baru bagi industri kreatif dan pengembangan produk ramah lingkungan di Indonesia.
Sumber Berita: prasetya.ub.ac.id











