Sumber daya manusia (SDM) merupakan aset utama dalam industri perhotelan karena kualitas layanan sangat bergantung pada kinerja karyawan. Namun, dalam praktiknya, terdapat berbagai risiko HR yang sering diabaikan oleh manajemen hotel, seperti tingginya tingkat turnover karyawan, kurangnya pelatihan, rendahnya motivasi kerja, serta ketidaksesuaian kompetensi. Kelemahan dalam pengelolaan SDM ini dapat menghambat operasional hotel dan menurunkan kualitas pelayanan kepada tamu. Oleh karena itu, pemetaan risiko HR menjadi langkah penting untuk mengidentifikasi potensi permasalahan serta menyusun strategi pengelolaan yang lebih efektif.
Salah satu fenomena yang sering terjadi di hotel adalah tingginya tingkat turnover karyawan, khususnya pada posisi frontliner seperti resepsionis dan housekeeping. Sebagai contoh kasus, sebuah hotel mengalami pergantian karyawan yang cukup tinggi dalam waktu singkat akibat beban kerja yang berat dan sistem kompensasi yang kurang kompetitif. Penyebab utama dari masalah ini adalah kurangnya perhatian manajemen terhadap kesejahteraan karyawan serta minimnya peluang pengembangan karier. Akibatnya, hotel harus terus-menerus melakukan rekrutmen dan pelatihan ulang, yang pada akhirnya meningkatkan biaya operasional dan menurunkan konsistensi kualitas layanan.
Selain itu, risiko lain yang sering muncul adalah kurangnya pelatihan dan pengembangan karyawan. Dalam beberapa kasus, karyawan hotel tidak dibekali dengan keterampilan yang memadai dalam menghadapi tamu, terutama dalam situasi komplain atau konflik. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan anggaran pelatihan atau kurangnya perencanaan program pengembangan SDM. Dampaknya adalah terjadinya kesalahan dalam pelayanan, meningkatnya keluhan pelanggan, serta menurunnya tingkat kepuasan tamu yang dapat memengaruhi reputasi hotel secara keseluruhan.
Risiko HR juga dapat muncul dalam bentuk rendahnya motivasi dan keterlibatan karyawan (employee engagement). Fenomena ini biasanya terjadi akibat gaya kepemimpinan yang kurang efektif, komunikasi internal yang tidak berjalan dengan baik, serta kurangnya apresiasi terhadap kinerja karyawan. Sebagai contoh, karyawan yang merasa tidak dihargai cenderung bekerja secara minimal dan tidak memberikan pelayanan terbaik kepada tamu. Akibatnya, produktivitas menurun dan suasana kerja menjadi tidak kondusif, yang pada akhirnya berdampak pada performa hotel secara keseluruhan.
Berdasarkan berbagai permasalahan tersebut, dapat disimpulkan bahwa risiko HR dalam industri perhotelan memiliki dampak yang signifikan terhadap keberlangsungan bisnis. Oleh karena itu, diperlukan pemetaan risiko yang sistematis melalui identifikasi, analisis penyebab, serta evaluasi dampak dari setiap risiko. Dengan menerapkan manajemen risiko SDM yang baik, pihak hotel dapat meningkatkan kualitas tenaga kerja, mengurangi tingkat turnover, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih produktif dan harmonis. Hal ini pada akhirnya akan mendukung peningkatan kualitas layanan dan daya saing hotel di industri perhotelan.
Sebuah hotel bintang empat yang berlokasi di kota wisata mengalami penurunan jumlah tamu secara signifikan dalam kurun waktu enam bulan terakhir. Kondisi ini ditandai dengan meningkatnya ulasan negatif dari tamu, terutama terkait pelayanan yang lambat, kondisi kamar yang kurang bersih, serta respons staf yang dinilai kurang sigap. Fenomena tersebut juga terlihat dari meningkatnya jumlah keluhan pada berbagai platform online seperti Google Review dan Traveloka, penurunan tingkat hunian (occupancy rate), tingginya tingkat pergantian karyawan (turnover), serta penurunan rating hotel dari 4,5 menjadi 3,8 dalam waktu yang relatif singkat.
Permasalahan ini diduga disebabkan oleh manajemen sumber daya manusia yang kurang efektif, khususnya dalam hal pelatihan dan pengawasan karyawan. Selain itu, beban kerja yang terlalu tinggi membuat karyawan tidak mampu memberikan pelayanan secara optimal. Kurangnya komunikasi internal antar departemen, seperti front office dan housekeeping, juga memperburuk koordinasi operasional. Di sisi lain, kebijakan pemotongan biaya operasional, termasuk pengurangan jumlah staf, turut berdampak pada kualitas layanan. Hal ini diperparah dengan tidak adanya penerapan standar operasional prosedur (SOP) yang konsisten di seluruh lini kerja.
Dampak dari kondisi tersebut sangat signifikan, antara lain menurunnya tingkat kepuasan pelanggan yang berimplikasi pada rendahnya loyalitas tamu. Secara finansial, hotel mengalami kerugian akibat berkurangnya jumlah pengunjung. Selain itu, citra hotel di mata publik, khususnya di platform digital, mengalami penurunan yang cukup tajam. Dari sisi internal, motivasi kerja karyawan juga menurun karena tingginya tekanan kerja. Jika kondisi ini terus berlanjut, hotel berpotensi kehilangan daya saing dibandingkan dengan hotel lain yang berada di lokasi yang sama.
DAFTAR PUSTAKA
International Organization for Standardization (2018). ISO 31000: Risk Management Guidelines.
Society for Human Resource Management. Human Resource Management Practices.
World Tourism Organization. Tourism and Hospitality Workforce Report.
Human Resource Management, Gary Dessler (2017).
Hospitality Financial and Technology Professionals. Hospitality Industry Risk Management Guide.











