Dalam sebuah perusahaan jasa yang sedang berkembang, pengelolaan sumber daya manusia (SDM) di area office workspace menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas dan kelangsungan operasional. Ruang kerja yang digunakan secara bersama oleh karyawan dari berbagai divisi seringkali menghadapi berbagai potensi risiko, baik yang bersifat teknis maupun non-teknis. Oleh karena itu, diperlukan penyusunan risk register sebagai alat untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengendalikan risiko yang mungkin terjadi. Studi kasus ini berfokus pada lingkungan kerja perkantoran dengan sistem kerja hybrid, di mana sebagian karyawan bekerja di kantor dan sebagian lainnya bekerja secara remote.
Salah satu risiko utama dalam workspace adalah konflik antar karyawan akibat perbedaan gaya kerja, komunikasi, dan adaptasi teknologi. Karyawan senior mungkin mengalami kesulitan dalam menggunakan sistem digital baru, sementara karyawan yang lebih muda cenderung lebih cepat beradaptasi. Hal ini dapat memicu miskomunikasi, menurunkan kerja sama tim, dan berdampak pada kinerja organisasi. Risiko ini memiliki peluang sedang dengan dampak cukup tinggi, sehingga perlu mitigasi berupa pelatihan teknologi secara berkala, program mentoring antar karyawan, serta peningkatan komunikasi internal yang efektif.
Selain itu, terdapat risiko terkait kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di lingkungan office workspace. Misalnya, risiko cedera ringan akibat posisi duduk yang tidak ergonomis, kelelahan mata akibat penggunaan komputer yang berlebihan, atau bahkan penyebaran penyakit di ruang kerja bersama. Risiko ini memiliki peluang tinggi dengan dampak sedang. Mitigasi yang dapat dilakukan meliputi penyediaan fasilitas kerja ergonomis, edukasi kesehatan kerja, serta penerapan standar kebersihan dan sanitasi yang baik di area kantor.
Terakhir, risiko yang tidak kalah penting adalah tingginya tingkat turnover karyawan akibat ketidakpuasan terhadap lingkungan kerja. Workspace yang tidak mendukung kolaborasi, kurangnya apresiasi, serta beban kerja yang tidak seimbang dapat menyebabkan karyawan merasa tidak nyaman dan memilih untuk keluar dari perusahaan.
Risiko ini memiliki peluang sedang dengan dampak tinggi terhadap keberlangsungan bisnis. Strategi pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan engagement karyawan melalui survei kepuasan kerja, program penghargaan, serta menciptakan budaya kerja yang inklusif dan suportif. Dengan adanya risk register yang terstruktur, perusahaan dapat lebih proaktif dalam mengelola risiko SDM di lingkungan kerja office workspace.
Refrensi :
Society for Human Resource Management. (2021). Managing Workplace Risk and Employee Engagement.
International Organization for Standardization. (2018). ISO 31000: Risk Management – Guidelines. ISO.
Occupational Safety and Health Administration. (2020). Guidelines for Workplace Safety and Health.
World Health Organization. (2020). Healthy Workplaces: A Model for Action.











