Pengukuran Risiko pada Bagian Dapur (Kitchen) Hotel

Ario Nugroho Kusumo (Mahasiswa Universitas Pamulang)

ikon kampus daily

Senin, 27 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Portalmahasiswa.com | Dapur hotel atau kitchen merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam operasional hotel, terutama dalam penyediaan makanan dan minuman bagi tamu. Aktivitas di dapur biasanya berlangsung sangat cepat dan padat. Para staf harus bekerja dengan berbagai peralatan tajam, suhu panas dari kompor dan oven, serta penggunaan bahan kimia untuk kebersihan. Kondisi seperti ini membuat dapur menjadi area kerja yang memiliki risiko cukup tinggi.

Dalam dunia manajemen, risiko dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya suatu kejadian yang dapat menimbulkan kerugian atau dampak negatif. Oleh karena itu, penting bagi pihak hotel untuk melakukan pengukuran risiko agar potensi bahaya yang ada bisa diketahui sejak awal dan dapat dikendalikan dengan baik. Dengan begitu, kecelakaan kerja bisa diminimalisir dan operasional dapur tetap berjalan lancar.

Pengertian Pengukuran Risiko

Pengukuran risiko merupakan bagian dari proses manajemen risiko yang bertujuan untuk menilai seberapa besar suatu risiko berdasarkan kemungkinan terjadinya (likelihood) dan dampaknya (impact). Menurut ISO melalui standar ISO 31000, manajemen risiko dilakukan secara sistematis untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengendalikan risiko dalam suatu organisasi.

Dalam dapur hotel, pengukuran risiko membantu manajemen untuk menentukan risiko mana yang harus diprioritaskan penanganannya agar tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar.

Jenis-Jenis Risiko di Dapur Hotel

Di dapur hotel, terdapat beberapa jenis risiko yang umum terjadi, di antaranya:

  1. Risiko Fisik
    Risiko ini berhubungan langsung dengan cedera tubuh. Contohnya seperti terkena pisau saat memotong bahan makanan, terbakar karena minyak panas, atau terpeleset akibat lantai yang licin.
  2. Risiko Kimia
    Risiko ini berasal dari penggunaan bahan kimia seperti cairan pembersih atau disinfektan. Jika tidak digunakan dengan benar, bahan ini bisa menyebabkan iritasi kulit atau gangguan pernapasan.
  3. Risiko Biologis
    Risiko biologis berkaitan dengan kontaminasi makanan oleh bakteri seperti Salmonella atau E. coli. Hal ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan keracunan makanan pada tamu hotel.
  4. Risiko Ergonomi
    Risiko ini muncul akibat cara kerja yang kurang tepat, misalnya berdiri terlalu lama, mengangkat beban berat, atau melakukan gerakan yang berulang. Jika dibiarkan, hal ini bisa menyebabkan kelelahan hingga cedera otot.
  5. Risiko Operasional
    Risiko ini berkaitan dengan kesalahan dalam proses kerja, seperti salah memasak, keterlambatan penyajian, atau kesalahan dalam penyimpanan bahan makanan.
Baca Juga :  Integrasi Teknologi dalam Manajemen Jasa untuk Meningkatkan Efisiensi Pelayanan 

Metode Pengukuran Risiko

Pengukuran risiko di dapur hotel biasanya menggunakan metode matriks risiko (risk matrix). Metode ini melihat dua hal utama, yaitu:

  • Likelihood (Kemungkinan Terjadi) → seberapa sering risiko itu bisa terjadi 
  • Impact (Dampak) → seberapa besar dampak yang ditimbulkan 

Contoh sederhana:

  • Terpeleset → kemungkinan tinggi, dampak sedang → risiko tinggi 
  • Luka pisau → kemungkinan sedang, dampak sedang → risiko sedang 
  • Kebakaran dapur → kemungkinan rendah, dampak sangat besar → risiko tinggi 

Dari contoh tersebut, bisa dilihat bahwa risiko yang jarang terjadi sekalipun tetap harus diperhatikan jika dampaknya besar, seperti kebakaran dapur.

Proses Pengukuran Risiko di Kitchen Hotel

Proses pengukuran risiko biasanya dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:

  1. Identifikasi Risiko
    Menentukan semua potensi bahaya yang ada di dapur, baik dari alat, bahan, maupun aktivitas kerja.
  2. Analisis Risiko
    Menilai tingkat kemungkinan dan dampak dari masing-masing risiko.
  3. Evaluasi Risiko
    Menentukan mana risiko yang paling penting untuk segera ditangani.
  4. Pengendalian Risiko
    Melakukan tindakan pencegahan, seperti:
  • Menggunakan alat pelindung diri (APD) 
  • Memberikan pelatihan keselamatan kerja 
  • Menerapkan SOP yang jelas 
  • Menjaga kebersihan area dapur secara rutin 
Baca Juga :  Bahaya di Balik Estetika: Risiko Bersandar pada Pagar Kaca di Mall

Contoh Kasus di Dapur Hotel

Sebagai gambaran nyata, pernah terjadi kecelakaan di dapur hotel ketika seorang staf terpeleset karena lantai yang basah akibat tumpahan minyak. Saat itu, staf tidak menggunakan sepatu anti-slip dan area tersebut juga tidak segera dibersihkan. Akibatnya, staf mengalami cedera dan pekerjaan di dapur menjadi terganggu.

Jika sebelumnya sudah dilakukan pengukuran risiko, maka risiko terpeleset ini bisa dikategorikan sebagai risiko tinggi. Dengan begitu, pihak hotel seharusnya bisa melakukan pencegahan seperti menyediakan sepatu khusus, memasang tanda peringatan, dan memastikan kebersihan lantai selalu terjaga.

Pentingnya Pengukuran Risiko di Dapur Hotel

Pengukuran risiko memiliki banyak manfaat, antara lain:

  • Mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja 
  • Menjaga kesehatan dan keselamatan karyawan 
  • Menjamin kualitas makanan yang disajikan 
  • Menjaga reputasi hotel 
  • Menghindari kerugian operasional 

Selain itu, penerapan sistem keamanan pangan seperti HACCP juga sangat penting untuk mencegah terjadinya kontaminasi makanan.

 

Kesimpulan

Dapur hotel merupakan lingkungan kerja yang memiliki banyak potensi risiko. Oleh karena itu, pengukuran risiko sangat diperlukan agar setiap potensi bahaya dapat diidentifikasi dan dikendalikan dengan baik. Dengan pengelolaan risiko yang tepat, kecelakaan kerja dapat diminimalisir dan kualitas pelayanan hotel tetap terjaga.

Daftar Referensi

  1. ISO. (2018). ISO 31000: Risk Management Guidelines
  2. Occupational Safety and Health Administration. (2020). Kitchen Safety Guidelines
  3. World Health Organization. (2006). Five Keys to Safer Food Manual
  4. HACCP. (1997). Food Safety Management System
  5. Ramli, S. (2010). Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: Dian Rakyat. 

 

Follow WhatsApp Channel kampusdaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Terlalu Cepat Berkomentar, Terlalu Lambat Memahami
Perilaku Investor Individu dalam Mengelola Portofolio dan Aktivitas Trading di Era Digital
Memahami Logika Produsen di Balik Pasokan Pasar
Strategi Manajerial Kunci Bertahan dan Berkembang di Era Kompetisi Internasional
UMP dalam Menjaga Daya Beli Buruh vs Keberlanjutan Finansial Industri Padat Karya
Berbagai Isu Global dalam Perspektif Ekonommi, Sosial dan Lingkungan
Ketenagakerjaan di Indonesia dalam Perspektif Manajemen Hubungan Industrial
Mengapa Analisis Lingkungan Internal Menentukan Kesuksesan Strategi Perusahaan?

Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:36 WIB

Terlalu Cepat Berkomentar, Terlalu Lambat Memahami

Selasa, 23 Juni 2026 - 20:31 WIB

Perilaku Investor Individu dalam Mengelola Portofolio dan Aktivitas Trading di Era Digital

Senin, 22 Juni 2026 - 21:34 WIB

Memahami Logika Produsen di Balik Pasokan Pasar

Senin, 22 Juni 2026 - 17:07 WIB

Strategi Manajerial Kunci Bertahan dan Berkembang di Era Kompetisi Internasional

Senin, 22 Juni 2026 - 05:46 WIB

UMP dalam Menjaga Daya Beli Buruh vs Keberlanjutan Finansial Industri Padat Karya

Berita Terbaru