Ketika Euforia Berujung Koreksi: Pelajaran IPO dari GoTo

Oleh: Marshanda Anindhita Sulistianti, Muhammad Zikri Assidik, Raisha Awaluna Gani Mahasiswa Manajemen – Universitas Pamulang

ikon kampus daily

Kamis, 21 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Portalmahasiswa.com | Dalam beberapa tahun terakhir, panggung pasar modal Indonesia diramaikan oleh melantunya berbagai perusahaan teknologi raksasa di Bursa Efek Indonesia (BEI). Salah satu momen yang paling menyita perhatian publik adalah proses Initial Public Offering (IPO) PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) pada awal tahun 2022. Sebagai ekosistem digital terbesar di tanah air, kehadiran GoTo di bursa saham disambut dengan optimisme yang meluap-luap. Di balik angka-angka keuangan dan grafik hijau-merah yang bergerak cepat, ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah keputusan para investor sepenuhnya rasional, atau ada faktor psikologi massa yang ikut bermain?

Pendekatan Behavioral Finance memberikan sudut pandang yang sangat menarik untuk memahami fenomena underpricing serta reaksi berlebihan (overreaction) pasar dalam pusaran IPO raksasa ini.

Kilau Initial Return dan Euforia Pasar

Ketika pertama kali melantai di bursa pada April 2022, GoTo menetapkan harga penawaran perdana sebesar Rp338 per lembar saham. Pada hari pertama perdagangan, saham GOTO sempat melonjak tinggi menyentuh level Rp416, sebelum akhirnya ditutup pada level Rp382. Keuntungan kilat pada hari pertama perdagangan ini mencerminkan fenomena underpricing, di mana harga saham di pasar sekunder terbentuk lebih tinggi daripada harga penawaran di pasar perdana.

Initial return positif sebesar 13,02% ini seketika menyulut gelombang euforia pasar yang luar biasa. Media massa dipenuhi pemberitaan yang menggebu-gebu, dan aplikasi investasi dipadati oleh pesanan dari ratusan ribu investor ritel baru. Secara psikologis, euforia ini menciptakan optimism bias dan availability bias. Para pemodal merasa yakin bahwa berinvestasi pada raksasa teknologi digital pasti akan selalu mendatangkan keuntungan besar, melupakan fakta di dalam prospektus bahwa perusahaan saat itu masih dalam fase merugi demi mengejar pertumbuhan skala.

Baca Juga :  Keunggulan dan Tantangan Implementasi B2B2C dalam Industri Digital

Terjebak di Dalam Herding Behavior

Daya tarik IPO GoTo tidak lepas dari fenomena herding behavior atau perilaku ikut-ikutan. Banyak investor, terutama golongan ritel pemula, memutuskan membeli saham GOTO bukan berlandaskan analisis laporan keuangan yang mendalam atau kalkulasi rasional nilai intrinsik, melainkan sekadar mengikuti arus mayoritas. Mereka didorong oleh kecemasan psikologis yang kerap disebut FOMO (Fear of Missing Out)—rasa takut tertinggal kereta keuntungan.

Ketika figur publik, influencer keuangan, dan komunitas saham di media sosial secara masif menyuarakan narasi optimisme, mentalitas kelompok (crowd psychology) terbentuk dengan kokoh. Investor cenderung mengabaikan indikator risiko dan struktur modal perusahaan, lalu beramai-ramai melakukan aksi beli massal di pasar sekunder. Perilaku kolektif tanpa analisis mandiri inilah yang secara artifisial melambungkan harga saham GOTO melampaui kewajarannya pada hari-hari awal listing.

Realitas Satu Tahun Pasca-Listing: Sebuah Overreaction

Namun, hukum pasar modal yang berbasis pada kinerja fundamental riil lambat laun mulai bekerja. Setelah masa penguncian saham (lock-up period) bagi investor awal resmi berakhir menjelang akhir tahun 2022, tekanan jual yang masif mulai tidak terbendung di pasar. Pasar yang awalnya bereaksi berlebihan secara positif (positive overreaction) berbalik arah secara drastis menjadi kepanikan massal.

Perbandingan harga memperlihatkan realitas yang kontras:

* Harga Saat IPO (April 2022): Rp338 per lembar saham.

* Harga 1 Tahun Setelah Listing (April 2023): Saham GOTO turun tajam dan menetap di kisaran Rp110 per lembar saham.

Kemerosotan harga yang mencapai lebih dari 67% dalam kurun waktu satu tahun ini mempertontonkan terjadinya koreksi pasar yang sangat ekstrem. Begitu euforia mereda, investor mulai kembali melihat realitas fundamental perusahaan, seperti tingginya biaya operasional akibat strategi bakar uang serta tantangan dalam mempercepat profitabilitas. Sentimen pasar berbalik 180 derajat dari optimisme buta menjadi pesimisme yang juga cenderung berlebihan (negative overreaction).

Baca Juga :  Mengapa Kualitas Pelayanan Sangat Menentukan Keberhasilan Bisnis?

Dalam konteks ini, pendekatan keuangan tradisional mungkin hanya menyimpulkan bahwa mekanisme pasar sedang mencari titik keseimbangan harga yang baru. Namun, pendekatan Behavioral Finance menawarkan eksplanasi psikologis yang lebih mendalam: keputusan pasar tidak selalu murni rasional, melainkan digerakkan oleh ayunan bandul emosi dari optimisme ekstrem menuju kepanikan massal.

Upaya Koreksi Strategi

Merespons kejatuhan harga saham dan tekanan psikologis pasar tersebut, pihak manajemen menyampaikan komitmen kuat untuk memfokuskan strategi perusahaan pada langkah-langkah nyata:

* Akselerasi target pencapaian EBITDA yang disesuaikan menjadi positif.

* Efisiensi beban operasional dan pemangkasan biaya promosi (bakar uang).

* Optimalisasi monetisasi pada setiap lini bisnis ekosistem.

* Penguatan manajemen risiko secara disiplin untuk memulihkan kepercayaan publik.

Langkah-langkah taktis ini menunjukkan adanya koreksi strategi guna memperbaiki fondasi keuangan serta menjinakkan sentimen negatif pasar. Tantangan ke depan bagi perusahaan bukan hanya sekadar memperbaiki angka-angka di atas kertas, melainkan membuktikan kepada investor bahwa proses pengambilan keputusan ke depan berjalan dengan kontrol risiko yang ketat tanpa terjebak bias optimisme sesaat.

Pelajaran yang Lebih Luas

Kasus IPO GoTo memberikan pelajaran berharga bagi dunia korporasi dan investasi bahwa angka statistik dan psikologi pelaku pasar senantiasa berjalan berdampingan. Struktur harga saham di pasar sekunder bukan sekadar hasil dari perhitungan matematis yang kaku, melainkan juga cerminan dari keyakinan, ekspektasi, dan persepsi risiko para pengambil keputusan secara kolektif.

Ketika optimisme pasar tidak dikelola dengan analisis kontrol risiko yang kuat, perilaku ikut-ikutan dapat menggelembungkan harga melampaui batas amannya. Behavioral Finance mengingatkan kita bahwa investor adalah manusia biasa yang tidak sepenuhnya kebal terhadap bias kognitif dan emosi. Bagi para investor ritel, regulator, maupun manajemen perusahaan, memahami aspek perilaku ini menjadi esensial agar keputusan investasi di masa depan dapat berjalan dengan lebih sehat, rasional, dan berkelanjutan.

 

 

 

 

 

Follow WhatsApp Channel kampusdaily.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Terlalu Cepat Berkomentar, Terlalu Lambat Memahami
Perilaku Investor Individu dalam Mengelola Portofolio dan Aktivitas Trading di Era Digital
Memahami Logika Produsen di Balik Pasokan Pasar
Strategi Manajerial Kunci Bertahan dan Berkembang di Era Kompetisi Internasional
UMP dalam Menjaga Daya Beli Buruh vs Keberlanjutan Finansial Industri Padat Karya
Berbagai Isu Global dalam Perspektif Ekonommi, Sosial dan Lingkungan
Ketenagakerjaan di Indonesia dalam Perspektif Manajemen Hubungan Industrial
Mengapa Analisis Lingkungan Internal Menentukan Kesuksesan Strategi Perusahaan?
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 12:36 WIB

Terlalu Cepat Berkomentar, Terlalu Lambat Memahami

Selasa, 23 Juni 2026 - 20:31 WIB

Perilaku Investor Individu dalam Mengelola Portofolio dan Aktivitas Trading di Era Digital

Senin, 22 Juni 2026 - 21:34 WIB

Memahami Logika Produsen di Balik Pasokan Pasar

Senin, 22 Juni 2026 - 17:07 WIB

Strategi Manajerial Kunci Bertahan dan Berkembang di Era Kompetisi Internasional

Senin, 22 Juni 2026 - 05:46 WIB

UMP dalam Menjaga Daya Beli Buruh vs Keberlanjutan Finansial Industri Padat Karya

Berita Terbaru