POrtalmahasiswa | Lingkungan perkantoran sering dianggap sebagai tempat kerja yang aman karena aktivitas utamanya lebih banyak berkaitan dengan administrasi, pelayanan, dan penggunaan teknologi informasi. Namun, pada kenyataannya kantor tetap memiliki berbagai risiko yang dapat mengganggu operasional perusahaan, bahkan mengancam keselamatan jiwa karyawan. Risiko tersebut dapat berupa kebakaran, gangguan listrik, pencurian data, kecelakaan kerja, hingga bencana alam. Salah satu kasus nyata yang menunjukkan besarnya risiko di lingkungan perkantoran adalah kebakaran yang terjadi di kantor PT Terra Drone Indonesia di Jakarta pada Desember 2025.
Peristiwa kebakaran tersebut terjadi pada 9 Desember 2025 di sebuah gedung perkantoran tujuh lantai yang berlokasi di Jakarta. Menurut laporan Reuters dan Associated Press (AP), kebakaran terjadi sekitar tengah hari saat sebagian besar karyawan sedang beraktivitas dan sebagian lainnya sedang beristirahat makan siang. Api dengan cepat menyebar dari lantai bawah menuju lantai atas sehingga menyebabkan kepanikan besar di dalam gedung. Proses pemadaman melibatkan puluhan mobil pemadam kebakaran dan ratusan petugas karena api sulit dikendalikan. Peristiwa ini menyebabkan sejumlah korban jiwa serta beberapa korban luka akibat terjebak di dalam gedung dan menghirup asap tebal.
Berdasarkan hasil awal investigasi, kebakaran diduga berasal dari percikan baterai di area penyimpanan dan pengujian perangkat pada lantai pertama. Area tersebut memiliki potensi bahaya tinggi karena berhubungan dengan peralatan elektronik yang dapat menghasilkan panas berlebih. Hal ini menunjukkan bahwa risiko fisik di kantor sering kali muncul dari hal yang dianggap biasa, seperti penyimpanan alat kerja yang tidak diawasi secara ketat. Selain itu, jalur evakuasi yang tidak optimal dan proses penyelamatan yang sulit memperlihatkan bahwa sistem tanggap darurat belum berjalan secara maksimal.
Dari sudut pandang manajemen risiko, kasus ini termasuk dalam kategori risiko operasional dan risiko keselamatan kerja. Risiko operasional terjadi karena seluruh aktivitas perusahaan terhenti akibat kerusakan fasilitas kantor. Sementara itu, risiko keselamatan kerja terlihat dari adanya korban jiwa dan luka yang dialami karyawan. Jika perusahaan tidak memiliki sistem mitigasi yang baik, maka kerugian yang ditimbulkan akan semakin besar, baik secara finansial maupun reputasi.
Dampak dari kejadian ini sangat luas. Selain kerusakan fisik gedung dan peralatan kerja, perusahaan juga mengalami gangguan produktivitas karena operasional terhenti sementara. Kepercayaan mitra bisnis dan pelanggan juga dapat menurun karena perusahaan dianggap kurang siap dalam menjaga keselamatan lingkungan kerja. Selain itu, perusahaan harus mengeluarkan biaya besar untuk pemulihan gedung, santunan korban, investigasi, dan peningkatan sistem keamanan.
Sebagai langkah mitigasi, perusahaan seharusnya melakukan inspeksi rutin terhadap instalasi listrik dan perangkat elektronik, menyediakan alat pemadam api ringan (APAR) di setiap area penting, serta memastikan jalur evakuasi selalu aman dan mudah diakses. Pelatihan keselamatan kerja dan simulasi kebakaran juga perlu dilakukan secara berkala agar seluruh karyawan memahami prosedur darurat. Dengan penerapan manajemen risiko yang baik, potensi kerugian dapat ditekan dan keselamatan kerja dapat lebih terjamin.
Kesimpulannya, kasus kebakaran kantor PT Terra Drone Indonesia membuktikan bahwa risiko di lingkungan perkantoran tidak boleh dianggap sepele. Perusahaan harus mampu mengidentifikasi potensi bahaya sejak awal dan menerapkan langkah pencegahan yang tepat agar keselamatan karyawan dan keberlangsungan operasional tetap terjaga.[]











